JOGJA – Badan Meteorologi Klimatologi dan Geofisika (BMKG) Jogjakarta memperkirakan kemarau akan berlangsung sampai akhir Oktober. Kemarau yang sedang terjadi di Jogjakarta mengakibatkan kekeringan meteorologis, berkurangnya curah hujan dari keadaan normal dalam jangka waktu lama.
Forcester atau prakirawan cuaca BMKG Haryati menjelaskan, kekeringan meteorologis terjadi di Sleman (Berbah, Minggir, Ngemplak), Bantul (Dlingo, Imogiri, Bantul, Pundak, Kasihan, Piyungan, Kretek, Pundong, Sedayu, Sewon), Kulonprogo (Samigaluh, Nanggulan, Kalibawang), dan Gunungkidul (Ponjong, Panggang, Karangmojo, Playen, Gedangsari, Purwosari). “Tidak adanya hujan selama lebih dari 60 hari menyebabkan kekeringan di empat kabupaten itu,” jelasnya saat ditemui di kantor BMKG, kemarin (17/8).
Ia menambahkan, akibat kekeringan yang dialami beberapa daerah mengakibatkan warga sulit untuk mendapatkan air bersih. Badan Penanggulangan Bencana Daerah (BPDB) mulai menyalurkan air bersih ke daerah Imogiri, Piyungan dan Dlingo karena air bersih yang sulit diakses.
Memasuki masa transisi dari musim kemarau ke musim penghujan akan terjadi cuaca ekstrem yang harus diwaspadai. Seperti suhu dingin yang akan meningkat dan hujan lebat disertai petir karena terbentuknya awan kumolonimbus.
Sedangkan memasuki musim penghujan, Kulonprogo memulai musim hujan pada November dasarian I, Sleman dasarian II dan Gunungkidul pada dasarian III. “Jadi nanti musim hujan mulai dari Kulonprogo, Sleman, dan Gunungkidul,” jelasnya. (cr7/laz)