KEMACETAN jalan menuju Jumarat Minggu (6/11/2011) sangat parah. Saking banyaknya jamaah haji melakukan lempar jumroh. Ditambah banyak jamaah yang duduk-duduk di jalanan. Lalu dimana petugas yang selama ini banyak menertibkan jamaah yang duduk atau tidur di pinggir jalan? Ternyata jumlah petugas tidak sebanding dengan jamaah yang ditertibkan. Jumlah jamaah jauh..jauh lebih banyak. Satu ditertibkan, pindah ke tempat lain. Begitu seterusnya.

Belakangan penulis tahu, petugas lebih dikonsentrasikan menjaga pintu masuk jumarat. Terutama saat hendak memasuki lift atau eskalator. Di sana puluhan petugas berjaga mengatur jamaah yang datang bak gelombang tsunami. Terus mengalir tiada henti.

Kembali ke jalan yang macet tadi. Meski gelombang jamaah yang menuju jumarat tertahan, jamaah haji yang duduk di jalanan sedikit pun tak mau bergeser. Mereka hanya menonton ribuan jamaah tertahan tadi. ‘’Sabar..sabar,’’ begitu suara jamaah menenangkan jamaah lainnya yang mulai emosi karena tertahan di tempat.

Beruntung, saat kritis mendadak barisan gelombang jamaah bisa jalan lagi meski tersendat-sendat. Bahkan setelah melewati jamaah yang duduk di tengah jalan tadi, perjalanan rombongan dan puluhan jamaah haji lainnya dari seluruh dunia kembali mengalir.

Namun saat hendak memasuki jumarat, tepatnya di pintu masuk eskalator atau lift, rombongan kembali tertahan. Begitu banyaknya jamaah haji pagi itu yang akan lempar jumroh, puluhan petugas pun mengaturnya akan tidak uyel-uyelan di pintu masuk lift.

Namun sebagaian rombongan jamaah haji asal negara Afrika tidak sabar. Sebagaian diantara mereka nekat menerobos barikade petugas. Terjadi saling dorong petugas dengan jamaah.

Petugas dengan keras memerintahkan jamaah haji Afrika tadi bersabar menunggu giliran. Akhirnya, jamaah tadi mau mundur dan menunggu giliran masuk.

Petugas mengatur satu per satu rombongann jamaah untuk menuju beberapa eskalator jumbo yang tiada henti. Antrean pun lebih tertib meski jamaah sangat padat.

Setelah berganti tiga ekskalator sampai lah jamaah di lantai tiga tempat pelemparan jumroh. Meski pagi itu puluhan ribu orang tumplek blek, memadati lantai tiga, jamaah tidak kesulitan melakukan pelemparan jumroh.
Selain tempatnya sangat luas, para jamaah pun mengalir, namun tidak menumpuk di satu tugu yang dijadikan sasaran lemparan.

Apalagi, petugas atau panitia haji di Saudi Arabia sudah mengatur sedemikian rupa soal lemparan jumroh tadi agar tidak terjadi penumpukan jamaah yang rawan menimbulkan malapetaka seperti kejadian yang sudah-sudah. Pernah para jamaah haji saling dorong, saling berdesakan saat lempar jumroh hingga ada jamaah haji yang terinjak-injak jamaah haji lainya. Tak heran korban pun berjatuhan.

Karena itu sejak dibangunnya jumarat atau tempat lempar jumroh yang kini sudah selesai tiga lantai pengaturan lempar jumroh bagi jamah haji praktis bisa dikendalikan dan tidak terjadi penumpukan

Setelah melempar jumroh di ula yang hanya beberapa menit, jamaah lalu pindah di wustoh. Kemudian lempar jumroh beberapa menit lagi. Dan, berakhir di lemparan aqobah. Setelah itu diakhiri doa.

Bagi jamaah haji datang dari Utara atau bermaktab di sekitar kawasan King Abdul Aziz, Road diarahkan ke lantai tiga. Sedangkan jamaah haji yang bermaktab di kawasan Aziziah, dimana rombongan haji reguler Indonesia banyak menempati kawasan ini diarahkan ke lantai II jumarat. Sedangkan jamaah haji dari arah timur yakni, sekitar terowongan Muasin diarahkan ke lantai satu atau dasar.

Semua itu dimaksudkan agar tidak terjadi penumpukan jamaah haji saat melakukan pelemparan jumroh. Dan, sampai sekarang terbukti cukup efektif dalam mengatur jamaah haji saat lempar jumroh (yog/bersambung)

ANTRE AIR. Jamaah ambil air di kran umum di jumarat (foto bahari)