Banyak cara dan ragam dalam memaknai arti kemerdekaan Republik Indonesia (RI). Seperti yang dilakukan sekumpulan anak muda yang hobi arung jeram. Mereka memilih menggelar upacara peringatan HUT ke-73 Kemerdekaan RI di Kali Progo.

FRIETQI SURYAWAN, Magelang

Dingin, itu yang dirasakan petugas upacara tujuhbelasan di Kali Progo. Maklum, mereka harus berdiri dan mengibarkan bendera yang tiangnya berada di sungai yang melintas dari Temanggung hingga Pantai Parangtritis. Para peserta upacara yang menggenakan dress code pelampung dan helm rafting, cukup berdiri di pinggir sungai.

Ya, itulah gambaran sekilas upacara yang dilakukan segenap pemuda, wisatawan, dan karyawan di Sungai Progo, Kemirejo, Magelang Selatan, Kota Magelang, kemarin. Dinginnya air dan sengatan matahari tidak mengurangi kekhidmatan upacara. Mereka dengan semangat dan berdiri tegak mengikuti upacara yang tergolong unik ini.

“Rasanya campur-campur. Ada dingin di bagian kaki dan panas di kepala. Tetapi ini justru semakin mempertebal kecintaan kita pada tanah air yang begitu kaya sumber alamnya. Kita beruntung hidup di Indonesia dan merdeka sejak 1945,” kata Imam P, salah satu petugas upacara.

Prosesi upacara sendiri sama dengan biasanya, mulai dari menyiapkan barisan peserta upacara. Kemudian petugas upacara terdiri dari pemimpin upacara, inspektur upacara, pembaca undang-undang, dan pasukan pengibar bendera. Petugas upacara dari pemandu Progo Rafting Hotel Puri Asri Magelang.

Selepas upacara mereka langsung mengikuti tiga lomba khas agustusan yang diadakan di atas air, yakni gebuk bantal, makan kerupuk, dan tarik perahu. Bahkan bagi peserta yang mau, bisa merasakan arung jeram hingga tempuran. Dilanjutkan kegiatan di darat, berupa tarik tambang dan makan kembulan.
Manager Marketing Progo Rafting Isnu Priyatno mengatakan, sebagai penyedia usaha jasa yang sehari-hari bersentuhan dengan sungai, mereka terpanggil untuk menyelenggarakan upacara Agustus di air. Selain cara yang berbeda, ini juga sebagai wujud kecintaan pada Indonesia.

“Kalau di darat kan sudah umum, kami ingin yang beda. Kami ajak pemuda sekitar Hotel Puri Asri untuk ikut, dan kebetulan juga banyak dari tamu atau wisatawan yang menginap dan tertarik ikut,” ungkapnya.

Di samping itu, kata Isnu, upacara di air ini sekaligus mengenalkan destinasi wisata air yang dimiliki Magelang. Khususnya wisata minat khusus berupa arung jeram (rafting) yang dapat memberi kesan mendalam bagi wisatawan.
“Sekaligus mengajak masyarakat mencintai lingkungan dengan menjaga sungai beserta ekosistem di dalamnya. Menjaga sungai dengan tidak membuang sampah ke sungai atau mengotori dengan limbah. Kalau sungai dapat terjaga, makan ikan di dalamnya pun akan terjaga,” jelasnya.

Serupa diungkapkan GM Hotel Puri Asri Fransisca Sudarmono bahwa upacara di Sungai Progo ini sebagai ungkapan rasa cinta tanah air sekaligus mengenalkan destinasi wisata air. Termasuk menjaga lingkungan agar tetap asri dengan selalu menjaga sungai.

“Dari berbagai kalangan kita bersama-sama upacara di sungai. Bahkan, ada pula tamu dari Belanda yang ikut upacara. Ini kan luar biasa, kita beda-beda tapi tetap satu jua (Bhineka Tunggal Ika) dengan upacara bendera di sungai,” tuturnya. (*/laz/mg1)