JOGJA – Gubernur DIJ Hamengku Buwono (HB) X menilai usia 73 tahun kemerdekaan RI menjadi tantangan baru bagi negara. Khususnya generasi muda yang diandalkan menjadi pionir untuk merebut ilmu pengetahuan dan teknologi yang dapat mengubah sesuatu bagi bangsa.

KHIDMAT: Gurbernur DIJ Hamengku Buwono X bertindak sebagai inspektur upacara HUT Kemerdekaan RI di Istana Kepresidenan Gedung Agung Jogjakarta, Jumat (17/8).
(SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA)

“Tak sekdar pandai, generasi muda harus memiliki daya saing dan komitmen kebangsaan yang tinggi. Terhadap ideologi Pancasila dan Binneka Tunggal Ika,” tutur HBX usai upacara peringatan HUT ke-73 Kemerdekaan Republik Indonesia di Istana Kepresidenan Gedung Agung Jogjakarta, Jumat (17/8).

Adapun dalam upacara tersebut HB X bertindak sebagai inspektur. Bertindak sebagai komandan upacara Letkol Pnb Indra Alexander Yosep Lessy. Turut hadir perwakilan dari Polri, TNI, DPRD DIJ, pemerinbah kabupaten/kota se-DIJ, Pramuka, mahasiswa, dan pelajar. Tak terkecuali para wisatawan dan warga Jogjakarta di luar istana juga tampak mengikuti jalannya upacara sampai selesai.

Detik-detik proklamasi kemerdekaan tepat pukul 10.00. Ditandai dengan suara sirine selama satu menit.
Dilanjutkan pembacaan teks proklamasi kemerdekaan oleh Ketua DPRD DIJ Yoeke Indra Agung Laksono.

Bicara soal tantangan generasi muda, Ketua DPD LVRI DIJ Bachrul Ulum turut angkat bicara. Veteran 73 tahun itu mengatakan, perang kemerdekaan dulu disponsori oleh generasi muda. Semangat mereka itulah yang harus dijaga dan diteruskan sampai sekarang.
Semangat juang yang harus ditiru, di antaranya tidak mudah menyerah, bekerja tanpa pamrih, rela berkorban, dan kesetiakawanan.
“Generasi muda sekarang tak bersenjata bambu runcing. Tapi ilmu, kepandaian, kecerdasan, dan kecerdikan dengan peralatan pendukung yang sudah modern,” jelas purnawirawan TNI AD kelahiran 19 Juli 1945.

Dengan kondisi tersebut, Bachrul menekankan pentingnya menggunakan “senjata” dengan dilandasi hati yang bersih, pikiran jernih, dan mewarisi semangat juang pahlawan. Itu semua harus dimanifestasikan dalam bidang dan profesi setiap pemuda masa kini.
“Nilai-nilai itu jangan sampai luntur. Loyalitas sudah luntur, musyawarah dan mufakat juga mulai luntur karena eranya voting,” ungkapnya.

Bachrul merupakan salah seorang veteran Operasi Seroja 1975. Ketika itu usianya 28 tahun. Dia dikirim sebagai sukarelawan untuk membantu rakyat Timor Timur melawan tentara Portugal. Saat itu dia menjadi komandan kompi dengan 160 orang pasukan di perbatasan Indonesia – Timor Timur.
“Dulu pakai pakaian preman waktu berangkat (ke Timor Timur, Red). Diiangkut kapal dan melalui jalan darat menuju perbatasan,” kenangnya.

Bachrul harus melawan tentara Vertelin. Bukan hansip atau sukarelawan Portugal. “Jadi ya perang beneran,” kisahnya.
Upacara peringatan kemerdekaan RI juga digelar oleh berbagai komunitas, lembaga pemerintah, dan organisasi masyarakat di berbagai daerah se-DIJ. Salah satu di antaranya yang tak lazim upacara di Lapangan Garuda Mandalatama, kompleks Taman Wisata Candi Prambanan. Peserta upacara tidak berdiri di lapangan, namun di atas mobil terbuka. Baik inspektur maupun pemimpin upacara, hingga kelompok paduan suara. Bahkan paskibra menaikkan bendera merah putih juga dari atas mobil. Sedangkan peserta upacara ada yang mengenakan pakaian adat atau seragam ala tentara zaman perang kemerdekaan.

Direktur Utama PT Taman Wisata Candi Borobudur, Prambanan, dan Ratu Boko Edi Setijono mengaku ingin menampilkan sesuatu yang unik dalam peringatan HUT RI kali ini. Sekaligus mengasah kreativitas anak-anak muda untuk menciptakan inovasi-inovasi baru.

Upacara dengan semua peserta berada di atas mobil merupakan kali pertama dilaksanakan. Jenis mobilnya pun dipilih yang memiliki nilai sejarah. “Jadi kami pilih VW Safari yang melegenda di era 1970-an dan sempat menjadi mobil camat se-Indonesia,” ungkapnya.

Upacara melibatkan 73 mobil VW. Setiap mobil terdiri atas tiga orang dengan satu driver. Sebanyak 34 VW ditumpangi peserta upacara yang mengenakan pakaian adat dari berbagai daerah se-Indonesia. Edi berharap, kegiatan tersebut bisa menjadi penambah semangat generasi muda dalam mengisi kemerdekaan. “Kemerdekaan diisi dengan sesuatu hal yang kreatif, namun tetap produktif,” pesannya.

Di Gunungkidul, warga pesisir pantai selatan juga menggelar upacara bendera yang tak biasa. Upacara dilakukan di tengah laut dengan sebagian peserta upacara menumpang perahu. Dan sebagian lainnya menceburkan diri di tengah ombak. Upacara yang digelar di kawasan Pantai Baron, Kemadang, Tanjungsari untuk membuktikan kondisi gelombang laut telah aman. Upacara diikuti anggota SAR, warga setempat, dan wisatawan. Setelah mengikuti detik-detik proklamasi sekitar pukul 10.10, dilanjutkan pengibaran bendera. Tiga orang bertindak sebagai pasukan pengibar bendera. Sementara ratusan lainnya mengikuti dari belakang dengan berenang. Menggunakan pelampung, mereka menerjang gelombang. Perahu motor dan jetsky disiapkan di sekitar lokasi pengibaran bendera. Koordinator SAR Satlinmas Korwil II Gunungkidul Marjono mengklaim, upacara diikuti ribuan peserta. “Upacara di laut sudah yang ke 6 kali ini kami gelar,” ujarnya.
Menurut Marjono, upacara di laut juga untuk menunjukkan bahwa pantai selatan DIJ aman dikunjungi wisatawan. (tif/har/gun/yog/mg1)