SELAMA menginap dua malam tiga hari di Mina, Arab Saudi, jamaah haji melakukan lempar jumroh sebanyak tiga kali. Pertama, lempar jumroh Aqobah sebanyak tujuh kali dilakukan Minggu (6/11/2011) atau 10 Dzulhhijah sekitar pukul 20.00.

Lempar jumroh hari kedua dilakukan besok malamnya, Senin (7/11/2011) pada waktu hampir sama. Di sini jamaah melakukan lemparan sebanyak tujuh kali. Masing-masing untuk lempar jumroh ula, wustoh, dan aqobah.

Lempar jumroh ketiga dilakukan Selasa (8/11/2011) saat Subuh. Yakni, lempar jumroh ula, wustoh, dan aqobah. Masing-masing tujuh kali dengan batu kerikil. Tuntaslah wajib haji para jamaah. ‘’Semua proses lempar jumroh itu tadi namanya nafar awal. Karena tuntas 12 Dzulhijjah. Kalau Nafar Sani baru berakhir 13 Dzulhijjah,’’ jelas Ustad Acmad Muzakky, pendamping haji.

Lempar jumroh butuh perjuangan berat. Khususnya bagi para jamaah berusia lebih dari 60 tahun. Selain harus berdesakan saat menuju jumarat (tempat melempar jumroh), lokasinya dari tenda penginapan cukup jauh. Karena itu beberapa jamaah pria yang sudah berusia lanjut atau tidak kuat melakukan lempar jumroh bisa mewakilkan kepada istri atau panitia.

Jarak antara tenda penginapan dengan jumarat rata-rata sekitar 2, 5-3 kilometer. Kalau pulang pergi berarti menjadi sekitar 5- 6 kilometer. Di beberapa tempat jalannya sedikit menanjak.

Kalau dicermati, meski jalanan menuju jumarat sangat padat, ada beberapa kendaraan yang melintas, sehingga semua jamaah harus minggir. Yakni, mobil patroli polisi Saudi Arabia. Dan, ojek. Ya..ojek sepeda motor sesekali melintas, meliuk liuk di kepadatan jamaah haji. Siapa pun bisa memakai jasanya untuk mengantarkan jamaah ke jumarat. Atau, sebaliknya. Tapi, penulis melihat ojek yang beroperasi di kawasan jumarat selalu ada penumpangnya. Pengendara ojek umumnya dari Yaman, Pakistan dan negara Afrika.

Untungnya, saat penulis sampai di tempat pelemparan jumroh di lantai tiga, jamaah tidak terlalu padat. Khususnya ketika pelemparan jumroh hari pertama dan kedua. Lokasi pelemparan yang luas membuat jamaah bisa leluasa melempar setan yang digantikan dengan tugu, secara mudah.

Hampir setiap lemparan jamaah tidak meleset karena begitu lebarnya tugu yang dijadikan sasaran lemparan batu. Dan, setiap batu yang dilempar pasti jatuh di lubang atau sumur. Saat saya mengintip ke lubang, sisi luar lubang dibuat miring hingga tidak ada satu pun batu tersangkut di tembok.

Puncaknya, saat lempar jumroh hari ketiga Rabu (8/11/2011) pagi sekitar pukul 06.00 atau usai salat Subuh, di Mina sekitar pukul 05.00 lebih. Begitu keluar tenda jalan setapak di lingkungan maktab 117, tempat menginap jamaah haji Indonesia, penuh sesak.

Itu karena beberapa rombongan dari travel tergabung dalam maktab 117 pagi itu secara bersamaan juga bersiap melakukan lempar jumroh ketiga. Jadinya, jalan di depan tenda-tenda maktab luar biasa padat.

Begitu juga saat keluar jalan menuju jumarat, atau tempat melempar jumroh. Kondisinya lebih parah, macet cet…. Itu karena jalan terdiri dua jalur menuju jumarat dipenuhi bus-bus besar mengangkut atau hendak menjemput para jamaah. Nyaris tidak ada celah. Semua jalan dipadati bus yang tidak sedikit pun bisa bergerak.

Rombongan pun diarahakan ke jalur satunya yang sebenarnya dipertuntukan jalan bagi mereka yang telah selesai melempar jumroh. Tapi, karena jalan satunya dipenuhi bus, rombongan jamaah haji terpaksa melawan arus. Begitu juga puluhan ribu jamaah lainnya.

Jadinya, jalur menuju jumarat benar-benar padat. Apalagi, di beberapa sudut jalan ada sekelompok jamaah haji asal Timur Tengah dan Turki berhenti dan duduk-duduk di tengah jalan sambil membawa barang. Bahkan sebagian terdiri orang tua yang duduk di kursi roda.

Belum lagi, ada beberapa bus akan keluar dari jamarat. Jadi lah jalan makin tidak karu-karuan. Macet..macet. Beberapa menit jamaah harus jalan di tempat sambil menunggu cairnya jalan. (yog/bersambung)