GUNUNGKIDUL – Carilah hewan kurban yang sudah poel atau berumur lebih dari setahun. Juga tidak pincang, tidak buta, telinga tidak rusak. Bahkan di era media sosial, pembelian hewan kurban bisa secara online.

Kepala Seksi Kesehatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian dan Pangan Gunungkidul Retno Widiastuti menyarankan masyarakat memperhatikan cirri-ciri hewan kurban sehat. “Carilah yang telah mengalami pergantian gigi, sehingga bisa diestimasikan umur kambing atau sapi,” ujarnya ketika dikonfirmasi, Rabu (15/8).

Khusus hewan kurban,lanjut dia, ada syarat yang perlu dipenuhi seperti tidak pincang, tidak buta, dan telinga tidak rusak. Juga perlu juga diperhatikan kondisi kesehatan hewan. Secara fisik juga dilihat dari kepala tegap berdiri, mata bening, feses tidak berdarah, serta air kencing kuning.

“Saat bernafas normal, tidak bermasalah ketika gerak, gusi merah muda, tidak bersuara menahan sakit, gigi tidak gemertak, punggung tidak lurus,” tuturnya.
Dari hasil pantauan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) DIJ saat monitring ketersediaan hewan kurban di Gunungkidul, diketahui harga hewan kurban jenis sapi mengalami kenaikan hingga Rp2 juta per ekor. Menurut Kepala Bagian Analisa Kebijakan Produktivitas, Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam Setprov DIJ Deden Rohanawati mengatakan, dari pantauan di lapangan, harga sapi rata-rata dibanderol Rp18-20,5 juta.

Sedang di Bantul harga hewan kurban, terutama kambing juga mengalami kenaikan. Seperti di Banguntapan, harga kambing naik sekitar Rp100 ribu. “Ikut kenaikan harga daging,yang juga naik sekitar Rp10 ribu,” tutur penjual hewan kurban Ahmad Rokhis.

Di lokasi tersebut penjualan hewan kurban sudah bisa dilayani secara online. Jenis kambing yang dicari untuk hewan kurban saat ini adalah jenis gembel atau gibas, disusul dengan kambing jenis Jawa, dan domba jenis merino.
“Untuk kambing jenis merino, hanya beberapa saja yang nyari,” katanya.(gun/cr7/pra/mg1)