Kelompok Tani Ngudi Rejeki, Dusun Gedoro, Nglegi, Patuk, Gunungkidul menjadi satu di antara sepuluh penerima penghargaan Kalpataru tingkat Nasional 2018. Penghargaan diberikan oleh Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan RI.

Kalpataru yang diperoleh untuk kategori penyelamat lingkungan. Dengan keberhasilan itu, Kelompok Tani Ngudi Rejeki berhak mengikuti upacara kenegaraan peringatan kemerdekaan 17 Agustus 1945 di Istana Merdeka Jakarta. Kelompok Tani Ngudi Rejeki selama ini aktif dalam berbagai kegiatan penghijauan.

TAK LAGI GESANG: Memasuki Dusun Gedoro tumbuh berbagai pohon yang membuat suasana asri dan nyaman, Pohon yang ditanam seperti akasia, sonokeling dan lainnya.
(GUNAWAN/RADAR JOGJA)

Berkat gerakan penghijauan itu berdampak terciptanya delapan sumber daya air dan lima sungai kecil yang mengalir. Secara mandiri kelompok tani ini mengelola pupuk organik jenis kompos maupun organik cair sehingga meminimalkan pemakaian bahan-bahan kimia.

Penghargaan itu didapat setelah anggota Kelompok Tani Ngudi Rejeki bekerja keras tanpa lelah. Kini setelah sukses menghijaukan dusun, wajah Gedoro terasa lebih sejuk dan rindang. Sumber air juga terjaga.
Alam yang menawan di dusun ini juga melahirkan rintisan wisata Bukit Gregak. Kepemimpinan kelompok tani ini semula dipegang Warsito. Kini setelah Warsito meninggal dunia, kepemimpinan dilanjutkan tokoh muda Sigit Nugroho.

Dukuh Gedoro Wartono menceritakan Kelompok Tani Ngudi Rejeki terbentuk sejak 1979 “Hingga sekarang anggotanya sebanyak 45 orang,” kata Watono, Rabu (15/8). Sejak terbentuk, anggota kelompok tani ini giat mengadakan reboisasi demi. Tanaman keras yang ditanam antara lain pohon jati, akasia, mahoni, sonokeling dan sengon laut. Secara geografis luas Pedukuhan Gedoro mencapai 75 hektare. Dusun ini punya hutan rakyat seluas 45 hektar.

Awal gerakan reboisasi bermula saat hutan rakyat di dusun tersebut mulai gundul karena habis ditebangi pohonnya oleh warga. Kondisi itu memancing kesadaran warga menanam kembali pohon-pohon di atas hutan yang gundul.
“Usaha itu membuahkan hasil. Sampai sekarang tanaman-tanaman di hutan rakyat tumbuh subur,” ungkapnya. Pohon-pohon di hutan rakyat itu memberikan dampak ekonomi bagi 55 kepala keluarga (KK) dan 230 jiwa yang menghuni Dusun Gedoro.

Secara sosial ekonomi, kehidupan masyarakat setempat menjadi lebih baik. Ini berkat memanfaatkan kayu yang diolah dari hutan rakyat itu. Sejumlah warga memanfaatkan untuk kerajinan.
Setelah kesejahteraan meningkat, angka putus sekolah berhasil ditekan. Warga tak hanya mengenyam pendidikan tingkat SMP sebagaimana dulu. Sekarang banyak anak-anak yang melanjutkan kuliah hingga perguruan tinggi.

WISATA ALAM: Gunung atau Bukit Gergak menjadi potensi destinasi perbukitan yang menarik perhatian wisatawan. Pemandangan dari atas bukit yang elok. (GUNAWAN/RADAR JOGJA)

Secara geografis Dusun Gedoro didominasi oleh alam perbukitan. Kondisi ini menjadi Gedoro punya potensi dikembangkan sebagai destinasi wisata alam. “Objek yang kami kembangkan adalah puncak Bukit Gregak,” jelas Wartono.
Bukit Gregak mulai dikenal setelah karang taruna setempat babat alas membuka objek wisata tersebut. Tersedia tempat santai dan swafoto. Ke depan juga dilengkapi gazebo. ”Kami memiliki program penanaman kebun bunga amarilis,” lanjut dia. (gun/kus/mg1)