Tinggal di maktap jamaah haji, khususnya di tenda-tenda penginapan harus ekstra sabar. Selain apa-apa harus antre, lokasi tenda berhimpitan satu sama lain dan hampir tidak ada ruang terbuka. Ditambah pakaian ihram jamaah sudah dilepas, tabiat asli para jamaah haji biasanya muncul. Misalnya, omongan yang tak terkontrol atau perilaku tak seperti layaknya orang sedang menunaikan ibadah haji. Itulah penuturan Ustad Moch Munir Djamil, yang sudah belasan kali menjadi pembimbing haji.

Bahkan tak jarang pasangan suami istri (pasutri) yang berangkat haji satu rombongan bisa bertengkar karena masalah sepele.

Misalnya, ada istri merasa kurang diperhatikan pasangannya selama di tenda. Atau istri cemburu pada suami hanya gara-gara menolong jamaah wanita lain. Meski jamaah wanita yang ditolong tadi sudah berumur tua dan layak ditolong. ‘’Hal-hal begini biasa muncul selama menginap di Mina,’’ kata Ustad Munir.
Bahkan saking emosionalnya, lanjut Ustad Munir, si istri sempat minta pisah. Mendapat tantangan si istri, suami yang merasa tidak berbuat aneh-aneh tak kalah geramnya dituduh macam-macam. Namun sebelum menjawab talak sang istri, Ustad Munir buru-buru mendekati si suami tadi agar tidak menjawab tantangan si istri.

Pasutri tadi lalu dikumpulkan dan diajak berbicara dari hati ke hati dengan bimbingan ustad. Akhirnya, pasutri tadi menyadari bahwa semua yang terjadi hanya kesalahpahaman semata di antara mereka. ‘’Hal-hal begini sering terjadi di Mina akibat kondisi yang ada. Beruntung selama ini masalah yang muncul pada jamaah yang saya bimbing bisa teratasi,’’ ujar Ustad Munir.

Untuk mengatasi berbagai masalah yang muncul selama menginap di Mina, kuncinya, jamaah harus menikmati apa yang ada. Ya, tidur berdesakan di tenda, ya antre makan, ya antre buang air kecil, antre buang air besar, dan seterusnya. ‘’Kita syukuri saja yang ada. Sebab, di luar sana banyak jamaah lebih susah. Tidak punya tenda, bermalam di pinggir jalan, ada juga yang bermalam di alam terbuka,’’ ingatnya.

Meski hidup serba antre, penulis lihat ribuan jamaah dari berbagai travel di Indonesia itu dengan cepat bisa beradaptasi dengan lingkungan sekitar mereka. Untuk berbagi kesabaran, sehingga bisa menjalankan ibadah secara khusyuk selama dua hari menginap di Mina. Sambil menunggu jam-jam saat melempar jumroh.

Bahkan antara satu jamaah dengan jamaah lainnya berusaha saling menolong. Sebab, dalam rombongan haji kali ini ada beberapa orang sepuh. Jalannya saja sudah sempoyongan dan pikun. Untuk kembali ke tenda atau tempat tidurnya saja sering lupa.

Melihat jamaah yang satu ini, jamaah yang lain banyak mengulurkan tangan. Misalnya, saat antre wudu jamaah sepuh didahulukan, dibawakan piringnya saat mengambil jatah nasi agar tidak jatuh. Atau memprioritaskan jamaah sepuh atau yang sakit-sakitan saat menginap di tenda.

Yang melegakan, jamaah tidak pernah kekurangan pasokan air, serta makanan dan minuman.

Sebaliknya, makanan tersedia cukup berlimpah meski kadang-kadang ada satu dua buah lauk yang kurang atau habis saat waktu makan. Begitu juga air minuman kemasan, jamaah bisa mengambil berapa pun dia mau. Juga buah-buahan dan minuman sari buah yang kadang persediannya melimpah. Artinya, soal makanan dan minuman selama menginap di Mina tidak banyak dikeluhkan para jamaah. (yog/bersambung)