BANTUL – Jika biasanya pegawai Komisi Pemberantasan Korupsi (KPK) melakukan operasi tangkap tangan (OTT) pelaku korupsi, di Bantul orang yang mengaku dari KPK yang di-OTT. Itu karena ternyata pria tersebut merupakan pegawai KPK gadungan.

Pria yang mengaku pegawai KPK itu, Risdiyanto datang dengan logo KPK untuk memeras kelompok ternak di Bambanglipuro selasa lalu (14/8). Modusnya dia memeriksa pemasukan keuangan kelompok ternak. Jika tak ingin kasus berlanjut, kelompok ternak diharuskan untuk membayar uang sebesar Rp 30 juta kepada tersangka. Tak lantas percaya, kelompok ternak Bambanglipuro malah mengamankan tersangka, dan membawa warga asal Kulonprogo ini ke Polsek Kasihan.

Kemudian ke Polres Bantul. Menurut Kapolres Bantul AKBP Sahat M Hasibuan bukti yang diamankan dari ransel tersangka, yaitu SK Pengangkatan, logo KPK yang dikalungkan. “Itu yang dipakai untuk menguatkan bukti bahwa pelaku seolah-olah anggota KPK,” ujarnya ketika jumpa pers di Polres Bantul, Rabu (15/8).

Sahat menambahkan setelah dilakukan kroscek ke Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Bantul, sebelumnya sudah pernah ada korban yaitu kelompok ternak di Sedayu. Di sana pelaku sudah menerima setoran Rp 36 juta yang dibuktikan kwitansi tanda terima.

Sahat menjelaskan pada 2011 kelompok ternak di Sedayu mendapat hibah dari pemerintah pusat sebesar Rp 500 juta. Uang tersebut kemudian digunakan untuk membeli 68 ekor sapi. 8 Juni 2018 tersangka mendatangi kelompok ternak tersebut dan memeriksa di lapangan terkait pemanfaatna dana. Ternyata dari 68 ternak sapi ditemukan tinggal 40 ekor.

Karena itu Ketua kelompok ternak di Sedayu Sukardi kemudian dipanggil di ke kantor KPK gadungan itu yang berada di wilayah Sedayu sebanyak tiga kali. Dari situlah kemudian tersangka punya kesempatan untuk bernegosiasi. Untuk menutup kasus pelapor harus memberikan dana sebesar Rp 10 juta, tapi hanya disanggupi Rp 1,5 juta. Sedagkan untuk pengembalian kerugian negara harus mengembalikan dana sebesar Rp 36 juta.

“Uang sudah diterima langsung secara tunai oleh tersangka,” jelas Sahat.
Kepolisian sendiri belum bisa memastikan profesi tersangka. Karena setiap ditanya, tersangka selalu menyebutkan diri sebagai anggota KPK. Karena terus-terusan mengaku sebagai anggota KPK, tersangka bisa dijerat pasal berlapis yaitu pemalsuan 266 KUHP dan penipuan 378 KUHP.
Tersangka Risdiyanto sendiri masih terus mengatakan dia mendapatkan identitas dan surat-surat tersebut langsung dari KPK. (ega/mg1)