Perkembangan teknologi yang kian pesat menjadi tantangan Program Studi (Prodi) Teknik Lingkungan, Institut Teknologi Yogyakarta (ITY) untuk terus mengembangkan ilmu pengetahuan. Hal ini dilakukan untuk mengurangi persoalan lingkungan yang kian meluas.
“Persoalan lingkungan ke depan luar biasa. Semakin maju suatu negara, teknologi, industri, persoalan lingkungan akan terus menjadi masalah,” ungkap Rektor ITY Chafid Fandeli saat ditemui Radar Kampus di kantornya, Rabu (15/8).

Lulusan prodi teknik lingkungan punya posisi yang sangat dibutuhkan masyarakat. Mahasiswa Prodi Teknik Lingkungan ITY dibekali dengan spesifikasi berbeda. Brand yang diusung green technology, yaitu teknologi yang tidak merusak lingkungan.
Artinya, teknologi yang dikembangkan harus bisa merestorasi, mereklamasi, merehabilitasi, serta menghadirkan teknologi sumber daya alam yang efisien. Tentunya melalui proses yang sederhana, tapi output-nya semaksimal mungkin. “Limbahnya kemudian akan diolah kembali menjadi suatu barang. Agar terus berkesinambungan, kalau bisa tidak ada yang terbuang,” tegas Chafid.

Dikatakan, kelebihan green tecnology lebih ramah lingkungan. Teknologi yang digunakan meminimalisasi energi terbuang sia-sia. Mahasiswa dididik mulai dari mendesain, pelaksanan, monitoring dan evaluasi untuk menghasilkan suatu teknologi dan manajemen yang baik. Setidaknya bisa meminimalisasi pencemaran lingkungan. “Cemaran sebenarnya pundi-pundi rezeki,” ujarnya.
Dikatakan demikian, lanjut Chafid, bukan tanpa alasan. Chafid mencontohkan toilet umum. Sebenarnya toilet umum tanpa berbayar juga sudah menghasilkan uang. Asal bisa dikelola dengan baik. Bahkan limbah domestiknya bisa berguna untuk berbagai hal. Seperti pupuk organik, bio energi, dan media jamur. Pengembangan teknologi ini bisa diolah dengan green technology. “Peminatnya dari tahun ke tahun terus meningkat,” jelasnya.

Selama 30 tahun berdiri, ITY yang dulu bernama Sekolah Tinggi Teknik Lingkungan (STTL) ini sudah meluluskan 3.200 mahasiswa teknik lingkungan. Bahkan lulusannya tidak ada yang menganggur. Sebanyak 80 persen lulusannya berprofesi sebagai birokrat di lembaga-lembaga yang berkaitan dengan lingkungan. “Banyak juga yang jadi konsultan lingkungan lembaga swasta,” ungkapnya. (ega/laz/mg1)