Gobak sodor, balap egrang, dan bakiak beregu adalah permainan tradisional yang umumnya dimainkan anak-anak tempo dulu. Apa jadinya jika yang bermain adalah mereka yang bisa dibilang sudah berumur? Itulah pemandangan di Lapangan Pemkab Sleman, Rabu (15/8).

JAUH HARI WAWAN S.,Sleman

Swasti Iffahrini teriak histeris saat berhasil melewati para penjaga hingga garis finish. Perempuan 52 tahun itu tampak kegirangan setelah timnya berhasil mengalahkan tim lawan pada babak pertama pertandingan gobak sodor. “Jadi inget saat masa kecil,” ujarnya sambil mengelap peluh dan menstabilkan napasnya yang sempat terengah setelah berlarian.

Dulu, sambung Swasti, biasa main gobak sodor saat sore. Atau ketika terang bulan. Bermain bersama teman-teman kampungnya. Lewat permainan itu Swasti mengaku bisa bernostalgia dengan masa lalu.
Gobak sodor berasal dari kata go back to door. Konon lidah masyarakat Jawa zaman dulu sulit menirukan bahasa asing. Sehingga yang keluar dari mulut gobak sodor. Permainan ini pada masanya dulu termasuk cukup populer.

Hampir setiap anak pernah memainkannya. Namun kini gobak sodor menjadi salah satu permainan anak tradisional yang terancam punah. Bahkan setelah marak aneka permainan berbau teknologi modern. Seperti gawai. Anak-anak sekarang lebih senang berselancar di dunia maya menggunakan gawai. Daripada berkumpul bersama teman untuk bermain gobak sodor atau permainan tradisional lainnya. Bahkan saat berkumpul dengan teman pun, mereka lebih asyik menekuri gawai masing-masing dan irit bicara. Itulah yang mendorong Pemkab Sleman kembali nguri-uri permainan tradisional lewat momentum peringatan HUT ke-73 Republik Indonesia. Dengan mengemas aneka permainan zaman old dalam lomba pitulasan (tujuhbelasan). “Aturan mainnya sedikit lupa. Tapi asyik, bisa sedikit refreshing. Karena biasanya kerjaan menumpuk,” ujar pegawai sekretariat daerah itu.

Ratusan pegawai lain tak kalah semangatnya. Hampir semuanya menunjukkan raut muka tanpa beban. Yang ada hanya canda dan tawa.
Asisten Sekretaris Daerah III Kabupaten Sleman Arif Haryono tak kalah antusiasnya. Bagi Arif, lomba-lomba pitulasan tak jauh beda dengan outbound. Membutuhkan kerja sama antarpersonel demi meraih kemenangan. Antaranggota tim harus kompak dan kerja keras. “Ini permainan tradisional peninggalan nenek moyang yang memiliki nilai luhur dan masih relevan dengan zaman. Termasuk dalam upaya mengisi kemerdekaan,” tuturnya.
Aneka permainan tradisional itu juga berdampak pada kesehatan jasmani dan rohani. Dengan begitu, harapannya, produktivitas dan kinerja setiap pegawai di lingkungan Pemkab Sleman bisa meningkat.

Pemkab Sleman menggelar acara itu bukan tanpa alasan. Untuk mengenalkan kepada masyarakat, khususnya generasi muda. Karena itu pula Arif mengimbau seluruh sekolah untuk mengenalkan permainan tradisional kepada para siswa. “Harus dikenalkan sejak dini agar mereka tidak tercabut dari akar budayanya,” ucap sosok yang pernah menjabat kepala dinas pendidikan, pemuda, dan olahraga.

Lebih lanjut Arif berharap, aneka lomba pitulasan bisa mengingatkan kembali generasi muda akan perjuangan para pendahulu. Guna menggugah kembali semangat kemerdekaan yang diperoleh dengan perjuangan yang berat. (yog/mg1)