Sempat Down gara-gara Karyanya Diturunkan Dosen
Karya seni lukis tak melulu identik dengan cat dan kanvas. Oktoviani sukses menembus “tembok” pembatas. Dia mengombinasikan benang dan kanvas dalam setiap lukisannya.

SUKARNI MEGAWATI, Bantul

Bangunan berlantai dua itu Selasa (14/8) petang mulai diselimuti senja. Tidak ada tanda-tanda kehidupan di dalam rumah dengan halaman luas tersebut. Dari luar rumah yang terletak di tengah area persawahan itu terlihat sepi. Seperti rumah kosong. Namun, di dalam rumah berlantai dua itulah karya lukisan yang “menerobos” batas tercipta. Ya, sebuah karya lukisan yang mengombinasikan benang dan kanvas. Bukan cat dengan kanvas seperti karya lukisan pada umumnya.

”Tidak hanya sebagai tempat tinggal, sehari-hari juga melukis di sini,” ucap Oktoviani, pemilik rumah berlantai dua itu, mengungkapkan bahwa dia tinggal seorang diri.

Di sela rutinitasnya, gadis berdarah Minang ini sempat mengajak Radar Jogja melihat salah satu karyanya. Sebuah lukisan yang menggambarkan ekspresi seorang gadis. Sekilas karya seni yang dibiarkan tergeletak di atas kursi tamu ini mirip lukisan konvensional. Goresan warnanya benar-benar khas cat. Namun, goresan-goresan itu dapat diketahui jika menggunakan benang setelah mencematinya dari jarak dekat.

Dalam obrolan di ruang tamu yang disulap seperti studio, gadis kelahiran 24 tahun lalu ini banyak bercerita seputar melukis dengan cara baru. Baginya, hal itu adalah pilihan. Dia tak ingin karya seni lukisan hanya terbatas dengan kuas, cat, dan kanvas.

”Sehingga pilih sesuatu yang baru,” tuturnya.
Okta menyadari betul pilihan metode melukisnya ini memiliki konsekuensi. Bahkan lebih sulit hingga tiga kali lipat dibanding metode konvensional. Waktu, misalnya. Satu karya lukisan setidaknya butuh waktu hingga dua pekan. Salah satu letak kesulitan ketika menggoreskan “warna” di sudut paling kecil.
”Kalau cat ada celah kecil harus diwarnai tinggal gores aja pakai kuas kecil. Tapi kalau ini, benangnya harus benar-benar dipelintir untuk bisa dimasukkan ke celah yang kosong,” tuturnya.

Di balik ketelatenannya, ide out of the box ini berhasil mengantarkan anak kedua dari empat bersaudara ini maju dalam berbagai pameran lukisan. Lebih dari 12 karyanya juga laku terjual. Termasuk lukisan berukuran 200 X 250 sentimeter.

”Aku sempat terharu. Aku bangga perjuanganku ada hasilnya,” kenang Okta sembari menyelesaikan salah satu lukisannya.
Berkat ketelatenannya, Okta sukses hidup mandiri. Dia tak lagi meminta uang saku kepada orang tuanya. Baik untuk biaya kuliah, hidup, dan tempat tinggal.

Bahkan dia bisa mengirimkan penghasilannya untuk keluarganya di rumah.
Namun, di balik kesuksesannya, Okta punya pengalaman menarik yang sulit terlupakan. Suatu hari lukisan benang karyanya sempat ditolak dosennya. Saat presentasi dosen itu menilai karya Okta bukan lukisan. Tapi hanya sejenis kriya.
”Waktu itu karyaku sempat diturunkan dari depan kelas,” kenangnya.

Seolah hanya menguji, Okta bercerita sikap dosen ini suatu hari berbanding terbalik. Dalam satu pameran dosen yang sempat menurunkan lukisannya itu membanggakan Okta. Sembari berkata kepada kolektor bahwa lukisan Okta merupakan karya bagus.

“Dibilangin begitu, aku tambah senang. Setidaknya dia sudah mengakui karyaku layak,” ujarnya semringah.
Di dunia seni, Okta berharap dia bisa menjadi seniman yang punya karya berpengaruh pada orang banyak. Bisa dikenal dan mencetak sejarah. (zam/mg1)