BANTUL – Media sosial ternyata menjadi salah satu penyebab kasus perceraian di Bantul. Termasuk penyebabnya karena kasus cinta lama bersemi kembali (CLBK) antara salah satu pasangan dengan mantannya.

Hakim Madya Muda Pengadilan Agama Bantul Ahsan Dawi mengatakan dampak media social, yang bisa mempertemukan dengan mantan kekasih, menjadi salah satu penyebabnya. Menurut dia dalam beberapa tahun terakhir ada tren kasus gugatan perceraian dengan bukti selingkuh di medsos.

“Belum lama ada pihak perempuan melakukan gugatan cerai dengan bukti print out perselingkuhan suaminya di media sosial,” ujar Hakim Madya Muda Pengadilan Agama Bantul Ahsan Dawi kemarin (13/8). “Yang kedua salah satu meninggalkan pihak lain meninggalkan kewajibannya,” sambungnya.

Ahsan menambahkan dilihat dari usianya, rata-rata perceraian terjadi pada usia 20-30 tahun. Usia yang dinilainya masih sering bermain medsos. Sebagian usia rawan perceraian akibat pernikahan usia muda juga akibat hamil di luar nikah. Laki-laki belum usia 19 tahun dan perempuan di bawah 16 tahun juga rentan untuk perceraian. “Adapula alasan perceraian karena CLBK,” ungkapnya.

Selain kehadiran orang ketiga, Ahsan juga menyebut faktor ekonomi seperti penghasilan yang kurang. Selepas Lebaran lalu, lanjut dia, kasus perceraian membludak tahun ini bulan puasa atau bulan Juni mencapai 40 perkara gugat cerai, sedangkan setelah lebaran atau bulan Juli meningkat drastis mencapai 138 perkara gugat cerai.

”Anggapanya bulan puasa tidak baik jika bercerai,” ungkapnya.
Gugat cerai tidak akan di terima apabila perkara tersebut masih terbilang premature. Seperti pertengkaran baru berusia satu bulan dan belum memiliki bukti yang kuat. ”Hakim menyuruh untuk rujuk kembali,” ungkapnya sambil menambahkan ada pula yang akhirnya rujuk kembali.

Menanggapi itu Ketua Pengelola LK3 Lembaga Konsultan, Kesejahteraan, Keluarga Harmoni Keluarga Dinas Sosial Bantul Sumarni menilai tingginya perceraian diakibatkan kurangnya pendalaman mengenai fungsi pernikahan. Juga kurangnya komunikasi dan sikap egois yang tinggi. Untuk itu Dinsos Bantul menggandengPolres, apabila perceraian di sertai kekerasan. “Juga terus digencarkan sosialisasi mengatasi kendala pernikahan agar tidak terjadi perceraian,” ungkap Sumarni. (cr6/pra/mg1)