SLEMAN – Merespons peristiwa bencana gempa Lombok Nusa Tenggara Barat, Universitas Gadjah Mada (UGM) mengirimkan relawan tenaga teknis ahli bangunan untuk memberikan assessment serta memeriksa keamanan dan kelayakan bangunan.

Dosen Departemen Teknik Sipil Ashar Saputra yang baru saja kembali dari Lombok menyebutkan, sebagian besar bangunan yang roboh karena tidak ada aspek kekuatan bangunan saat didirikan.

Bangunan dibangun tanpa melibatkan tenaga ahli bangunan, juga karena tidak memiliki balok dan kolom beton bertulang, hanya mengandalkan bata saja.

“Saya dan tim telah memeriksa delapan rumah sakit (RS), enam di antaranya masih bisa digunakan untuk opersional kesehatan, namun dua RS lainnya seperti RSUD Tanjung hanya memiliki 10 persen fasilitas yang bisa digunakan, dan RS Akademik UNRAM hanya 15 persen,” ujarnya dalam jumpa pers, Selasa (14/8)

Dijelaskan, 75 persen sampai 80 persen bangunan RS rujukan di Mataram masih bisa dimanfaatkan. Sedangkan RS provinsi bisa dikatakan kondisinya 100 persen masih bisa digunakan.

Disampaikan selain kendala kondisi bangunan RS, trauma yang dialami korban dan tim medis di sana juga menjadi kendala. Rasa takut untuk memasuki bangunan yang harus disembuhkan terlebih dahulu mengingat masih ada gempa susulan berskala kecil.

Ashar dan timnya bersama dengan pemerintah dan universitas setempat terus melakukan pemeriksaan keamanan bangunan. Selain bangunan RS, bangunan sekolah yang harus difungsikan untuk kelangsungan pendidikan serta tempat ibadah seperti masjid yang menjadi lokasi titik kumpul masyarakat juga tidak luput dari pemeriksaan.

“Kami mengajak beberapa perguruan tinggi di sana untuk diberikan pelatihan bagaimana caranya memeriksa keamanan bangunan. Prioritasnya, fasilitas kesehatan, RS rujukan, RS daerah, dan puskesmas,” paparnya.

Pihaknya juga akan memeriksa lebih lanjut soal prasarana air bersih, jalan, dan jembatan, serta bagian yang perlu penanganan darurat agar proses pemulihan ini bisa berjalan dengan lancar.

Dosen Teknik Geologi UGM Agung Setianto menuturkan, potensi gempa di Lombok yang terletak di atas sesar Flores cukup sulit diprediksi karena minimnya penelitian terhadap aktivitas lempeng ini. Kendati demikian untuk saat ini penanganan potensi bencana dapat dilakukan dengan melakukan pemetaan kondisi geografisnya.

Pada 26 Agustus mendatang tim dari Teknik Geologi akan berangkat ke Lombok untuk memberikan pelatihan pengambilan data bersama mitra-mitra lokal yang sesuai dengan kebutuhan. Setelah itu, tim akan merancang pemetaan secara digital yang dapat digunakan untuk memberikan berbagai informasi spasial. (ita/ila)