AHAD (7/11/2011) atau 11 Dzulhhijah, sekitar pukul 14.00 rombongan jamaah haji bergerak menuju Kota Mina yang berjarak 8 kilometer dari Makkah. Siang itu, jalanan Makkah agak macet karena banyaknya bus yang secara bersamaan mengangkut jamaah haji seluruh dunia menuju Mina.

Saat memasuki Mina kemacetan kian menjadi-jadi. Laju bus hanya merambat. Dari kejauhan Mina tampak putih dengan belasan ribu tenda permanen penginapan jamaah haji berwarna putih. Silau putih itu pertanda selamat datang di Mina.

Selain macet, tampak puluhan ribu jamaah haji umumnya masih mengenakan baju ihram mondar-mandir memenuhi jalan-jalan di Mina. Terik menyengat matahari seakan tak dihiraukan para jamaah.

Di Mina udara sangat kering, ditambah banyak debu berterbangan. Tak heran banyak jamaah haji menggunakan masker sekadar mengantisipasi udara kotor. Belum lagi, banyaknya sampah berserakan dimana-mana. Tak heran setelah melempar jumroh di Mina, jamaah yang tidak fit bisa terserang batuk, pilek, bahkan hilang suara akibat udara kering.

‘’Saya serak bahkan sempat hilang suara selama di Mina. Baru sekarang bisa berbicara lagi,’’ kata Dwi Fintarto bersama istri, rekan saya di Jawa Pos yang mengunjungi maktap 117 sehari sebelumnya.

Untuk memasuki tenda penginapan yang dikelola Maktap 117 jamaah harus turun dari bus beberapa ratus meter dari tenda. Itu karena bus kesulitan masuk areal tenda akibat padatnya lalu lintas. Tapi, rombongan jamaah yang tidak banyak membawa barang, pembawaanya ringan saja saat berjalan menuju Maktap.

Rombongan menempati dua tenda besar. Untuk jamaah pria dan perempuan disekat. Semula jumlah kasur kecil dibuat alas tidur jamaah pria sempat kekurangan beberapa lembar.

Tapi, tak lama kemudian pengelola maktap mendatangkan beberapa lembar kasur yang seukuran badan orang dewasa itu. Ternyata kasur beberapa hari lalu dipinjam maktap sebelah dan baru dikembalikan setelah jamaah maktap 117 datang. Jamaah pun lega.

Lokasi tenda satu dengan tenda yang lain jamaah beda travel saling berhimpitan dan hanya dipisahkan terpal tenda tahan api. Saking padatnya, jarak tenda satu dengan tenda yang lain hanya dipisahkan jalan setapak. Karena itu saat antre makan biasanya meluber di jalan setapak tadi. Jadi, kalau jamaah lain akan lewat mesti memiringkan badan karena tempatnya sempit.

Apalagi, di beberapa sudut jalan dekat tenda ada tumpukan kardus, piring plastik bekas tempat makan. Maka, jalan kian sempit saja sebelum diambil petugas.

Sedangkan jalan raya dibatasi pagar besi. Tak heran areal pemukiman jamaah terdiri puluhan tenda dalam satu maktap begitu padat.

Saking padatnya, banyak kejadian lucu muncul selama menginap di tenda. Apalagi, masing-masing travel dengan jamaahnya punya acara sendiri-sendiri selama mengisi waktu luang di tenda.

Misalnya, saat pengajian setelah salat wajib terdengar sahut menyahut ceramah satu ustad dengan ustad lainnya. Itu karena masing-masing travel mengenakan pengeras suara.

Begitu juga saat salat. Bacaan imam satu tenda dengan tenda yang lain terdengar saling bersahutan. Karena itu, jamaah yang berada di saf paling belakang harus hafal benar suara imam yang memimpin salat. Kalau tidak bisa terkecoh.

Misalnya, saat baru saja rukuk tiba-tiba terdengar bacaan atau suara imam, “sami allah hulimanhamidah”. Padahal, itu suara imam lain yang berada di tenda sebelah. Suara itu terdengar begitu dekat. Makanya, kalau tidak cermat jamaah bisa terkecoh.

Semua di sini hidup serba antre. Karena itu perlu kesabaran tinggi bagi jamaah untuk saling berbagi sesama jamaah haji lainnya. Mulai makan, minum, wudlu, kencing, buang air besar. Semua harus antre. Bahkan untuk tahalul atau potong rambut pun jamaah mesti antre meski membayar 10 real atau sekitar Rp 25 ribu pada tukang cukur yang beroperasi di areal tenda.

Mereka yang menjadi tukang cukur umumnya para staf travel pembimbing haji. Jadi, memotong rambut jamaah haji hanya pekerjaan sampingan. Tapi, jangan diremehkan hasilnya. Sebab, rata rata per hari yang cukur rambut cukup banyak. Bisa 25 ‘’kepala’’ per hari bahkan bisa lebih. Tinggal kalikan saja kalau per orang dikenai bayaran Rp 25 ribu.

Puncak antre saat mendekati waktu-waktu salat. Dimana antrean tampak mengular. Ya, antre wudu, antre buang air kecil, antre buang air besar. Makanya, setiap jamaah harus pintar menyiasati kondisi ini. Misalnya, satu jam sebelum waktu salat datang hendaknya segera mengambil air wudlu. Kalau pun ada yang antre tidak banyak. Paling dua, tiga orang saja.

Sedangkan untuk mandi atau buang air besar juga harus dimenej. Jangan begitu kepepet langsung ke toilet bisa-bisa sudah tidak kuat menahan. Sebaliknya, begitu mulai terasa kecing atau buang air besar sebaliknyan langsung bersiap ke toilet. Mengapa? Karena pasti antre.

Sedangkan waktu paling longgar biasanya dinihari atau siang hari saat jamaah lain tidur. ‘’Di situ kita bisa mandi sepuasnya,’’ kata Andi Alamsyah, pimpinan Shafira memberi tips jamaah. (yog/bersambung)