Luas Pertanian Empat Tahun Stagnan 53,9 Hektare

JOGJA- Kota Jogja tidak hanya hotel, mal, dan permukiman saja. Dengan luasan 32,5 kilometer persegi, di Kota Jogja masih terdapat lahan pertanian produktif. Bahkan setiap tahun masih mampu menghasilkan 70 ton beras dari 53,9 hektare lahan pertanian yang tersisa.

“Tiap tahun memang luasannya terus menyusut. Tapi dalam empat tahun terakhir ini stagnan di 53 hektare,” ujar Plt Kepala Dinas Pertanian dan Pangan (DPP) Kota Jogja Sugeng Darmanto di sela panen raya padi di Kampung Agrowisata RW 12 Rejowinangun Kotagede, Selasa (14/8). Di kampung tersebut dari 1.700 meter persegi lahan pertanian, mampu menghasilkan 1,6 ton padi jenis IR64. Hasil ini sudah di atas rata-rata.

Mantan kepala Bidang Pencatatan Sipil Dindukcapil Kota Jogja itu mengatakan, keberadaan Perwal No 112/2017 tentang Pengendalian Lahan Sawah Beririgasi Teknis, bisa mengendalikan alih fungsi lahan. “Kecuali yang tidak memiliki aliran irigasi, yang bisa dialihfungsikan,” jelasnya.

Selain padi, Kampung Agrowisata Rejowinangun juga menanam aneka ragam sayuran dan sektor perikanan seperti lele. Menurut Sugeng, hasil produksi oleh masyarakat setempat pun sebagian langsung ditampung pengusaha restoran. “Tapi beberapa juga masih untuk konsumsi sendiri,” terangnya.

Ketua Kelompok Tani Makmur Jaya Yuri Siswoyo menambahkan di Agrowisata Rejowinangun didesain memanfaatkan lahan yang terbatas. Di antaranya dengan vertikultur, hidroponik, pergola, media tanah vertikal dan lainnya. Menurut dia kegiatan di sana awalnya dari hobi dan keinginan menjaga lingkungan tetap hijau. “Kemudian berkembang jadi pembentukan kelompok tani,” ungkapnya.

Yuri juga menyebut peran DPP Kota Jogja dengan pemberian benih, infratruktur pertanian hingga pelatihan. Ada pula, lanjut dia, program kemitraan dengan jurusan Arsitektur UTY dengan membuat perencanaan kampung wisata Rejowinangun.

Wakil Wali Kota Jogja Heroe Poerwadi menilai keberdaan Agrowisata Rejowinangun sebagai bukti gandeng-gendong yang dikembangkan Pemkot Jogja. Itu melihat peran dari kampung, kampus, korporasi dan Kota (Pemkot Jogja). HP menyebut bisa saja perhotelan atau restoran di Kota Jogja diminta mengambil bahan baku dari kampung sayur di Kota Jogja. “Padi di Rejowinangun, terong dari Bausasran dan sayur serta buah bisa diserap korporasi,” harapnya. (pra/din/mg1)