SLEMAN – Pengelolaan arsip di masyarakat masih kurang maksimal. Kesadaran menjaga arsip juga masih kurang. Padahal di dalam dokumen tersebut terdapat informasi dan data penting.

Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sleman mendorong masyarakat merestorasi atau mengembalikan arsip ke wujud semula. Langkah tersebut untuk menyelamatkan informasi yang ada di arsip.

Kepala Dinas Perpustakaan dan Kearsipan Sleman, Ayu Laksmi Dewi mengatakan baru tiga desa yang mengajukan restorasi arsip. Yakni Umbulmartani dan Sindumartani (Ngemplak) dan Tegaltirto (Berbah). “Ketiganya mengajukan restorasi dokumen Letter C,” kata Ayu.
Pihaknya banyak menerima arsip dalam kondisi rusak termakan usia. “Alat restorasi arsip memang mahal,” kata Ayu.

Beberapa bahan restorasi tidak diproduksi di dalam negeri. Harus impor dari Jepang. Sehingga pihaknya harus berhitung untuk penggunaan bahan.
Dia berharap setiap desa mulai memerhatikan pentingnya pengelolaan arsip. Setiap desa seharusnya mulai menganggarkan pengelolaan arsip dalam APBDes.
Arsiparis Dinas Perpustakaan Dan Kearsipan Sleman, Betty Indriati mengatakan ada perlakuan khusus saat merestorasi arsip. Dokumen yang rusak, kertas yang terlipat atau tergulung ditata terlebih dahulu.

Lalu diberi nomor agar tidak tertukar. Selanjutnya, arsip dikuas untuk dibersihkan. “Untuk arsip yang tidak terlalu rusak cukup disemprot dengan sprayer untuk mengurangi kadar keasaman,” kata Betty.

Arsip yang mengalami kerusakan parah, direstorasi menggunakan tisu Jepang (tisu Kozoo). Setelah itu diberi lem methyl agar arsip bisa dipakai lagi.
Semua tahapan tersebut membutuhkan ketelitian agar tidak merusak arsip yang telah lapuk. “Semua bahan yang digunakan untuk restorasi arsip memiliki takaran yang tepat,” kata Betty. (har/iwa/mg1)