IRING-iringan bus ditumpangi sekitar 300 jamaah haji plus Shafira Jumat malam (5/11/2011) sekitar pukul 23.00 meninggalkan apartemen menuju Padang Arafah, guna melakukan persiapan wukuf atau bermalam di Padang Arafah pada Sabtu (6/10) atau 10 Dzulhijah esok harinya.

Sekitar satu jam perjalanan bus sudah sampai di tenda penginapan Padang Arafah, yang dikelola dan dikoordinir Maktab 117. Satu maktab membawahi sekitar 2.000 jamaah haji plus. Ribuan jamaah haji Indonesia yang dikelola berbagai travel itu pun tumplek blek di puluhan tenda yang tersebar di Padang Arafah guna melakukan persiapan wukuf.

Masing-masing pengelola travel melakukan acara sendiri bagi jamaahnya. Shafira melalui Ustad Moch Munir Djamil dan Usdtad Achmad Muzakky secara bergantian memberi pencerahan pada para jamaah tentang arti pentingnya wukuf dalam menunaikan ibadah haji. “Wukuf ya haji. Haji ya wukuf. Begitu kata Nabi Muhammad SAW,’’ ujar Ustad Munir Djamil dalam ceramahnya.
Karena begitu pentingnya wukuf di Padang Arafah sebagai salah satu sahnya syarat rukun haji, maka jamaah yang sakit sekali pun akan dibawa dengan mobil ambulans ke Padang Arafah, meksi barang sejenak. Tujuannya, memenuhi rukun haji tadi.

Agar haji para jamaah mabrur kedua ustad yang sudah belasan tahun membimibing jamaah haji itu menerangkan tata cara wukuf dan larangnya selama berwukuf di Padang Arafah. Selama ceramah juga diisi tips agar jamaah bisa menjalankan wukuf secara sempurna.

Begitu memasuki wukuf Sabtu (6/11) sekitar pukul 12.00 diisi salat Duhur dan Asar berjamaah yang dijamah dan diqoshor dilanjutkan ceramah, diselingi dzikir, tafakur (berdiam diri dan berfikir) serta muchasabah (menghitung amal perbuatan) serta diisi ceramah tentang hakekat wukuf dan haji sampai menjelang Magrib. Praktis seharian saat wukuf hanya diisi ceramah dan pencerahan agama.

Rehat hanya satu jam yakni saat makan siang. Di luar itu hanya diisi berdoa..dan berdoa. ‘’Agar kita bisa khusuk berdoa selama wukuf saya harap jamaah tidak melakukan aktivitas berlebihan, kecuali khusuk berdoa dan mendengarkan ceramah,’’ pinta Andi Alamsyah, pimpinan travel Shafira.
Sebelum Magrib, jamaah diajak ke luar tenda untuk berdoa bagi diri, orang tua, keluarga dan para para sahabatnya. ‘’Ini tempat paling mustajab. Silakan jamaah berdoa apa saja. Tentunya yang baik. Semua malaikat akan mencatatnya. Insya Allah akan mengabulkan,’’ tambah Ustad Achmad Muzzaky.

Saya sendiri sangat mensyukuri bisa masuk Makkah, tepat menjelang deadline 1 November 2011 Subuh dinihari. Atau beberapa jam sebelum Jeddah ditutup untuk persiapan pelaksanaan ibadah haji pukul 15.00 sore harinya. Hanya karena kehendak-Nya saya bisa masuk Makkah. Sebelumnya, saya ragu bisa masuk Makkah, mengingat mepetnya waktu serta berlikunya perjalanan haji darat.

Kembali ke wukuf. Saya yang tidak terbiasa berdoa seharian di tenda, rasanya kaget. Apalagi mengenakan baju ihram. Rasanya tidak nyaman apalagi duduk berjam-jam lamanya. Saat jam-jam pertama rasanya kaku. Namun melihat jamaah lain khusuk berdoa saya pun berusaha mengikuti dan lama-lama akhirnya bisa khusuk juga. Alhamdulillah.

Meski dalam tenda sudah ada AC maupun kipas angin, tak bisa meredam teriknya panas matahari di luar sana. Namun demikian, jamaah tak begitu terganggu meski sedikit kepanasan.

Terbukti, sampai acara tuntas sekitar Magrib tidak ada satu pun jamaah yang keluar tenda. Semua dengan takzim mengikuti ceramah agama, dzikir dan salat berjamaah. Kalau pun ada yang keluar tenda hanya sebentar sekadar minum, makan camilan atau buang air kecil.

Selebihnya jamaah khusyuk berdiam diri, berdoa, berdzikir, mendengarkan ceramah, salat berjamaah dan menjaga perbuatan dan omongan tidak baik. Tapi, rangkaian ibadah haji ini lah yang paling berat saya rasakan. Sebab, semua jamaah dituntut bisa melaksanakan wukuf dengan baik dan sesempurna mungkin. Makanya, begitu wukuf usai, rasanya plong.

Soal makanan selama wukuf juga tersedia lebih dari cukup. Para jamaah dibebaskan mengambil berapa pun buah yang ada. Juga aneka minuman dan makanan, disediakan maktab lebih dari cukup.

BERDOA..BERDOA dan BERDOA: DI tenda ber-AC ini lah jamaah haji Shafira dan penulis khusuk berdoa saat wuquf 2011 lalu. (Foto Bahari)

Sebaliknya, banyak jamaah haji di luar pagar tenda jamaah haji plus kepanasan. Umumnya mereka ini para TKI yang bekerja di berbagai kota Saudi Arabia ikut melaksanakan ibadah haji.

Mereka ini hanya beratap terpal seadanya menggelar tenda di pinggir jalan raya Padang Arafah-Mina. Ditambah lalu lintas padat dan polusi. Kian lengkap penderitaan mereka. Tapi, nyatanya sampai wukuf usai mereka tetap bertahan.
Sementara bus yang membawa mereka langsung diusir petugas haji usai menurunkan penumpang jamaah haji tadi. Sebab, kalau parkir di situ akan menganggu kelancaran lalu lintas Padang Arafah-Mudzalifah.

Para jamaah ini tak mengihiraukan terik matahari yang menyengat siang itu, hanya demi bisa berwukuf di Padang Arafah. Seperti jamaah plus lainnya, saya lihat mereka juga menggelar doa, dzikir dan salat berjamaah.

Bahkan beberapa keluarga jamaah manca negara ada yang menumpang di sisi tenda jamaah plus. Mereka yang tidak membawa tenda, terlihat tiduran beralas kain. Saat datang wukuf mereka juga menggelar salat berjamaah bersama keluarganya. Soal makan, mereka juga membawa bekal. Jadi, tidak sampai merepotkan jamaah lain.

Sementara para jamaah haji yang lalu lalang di jalan raya menghubungkan Padang Arafaf-Muzdalifah sepanjang hari sejak pagi hingga Magrib tidak pernah berhenti. Gelombang manusia mengenakan pakaian ihram bagi prianya, dan baju gamis bagi perempuan silih berganti tiada henti.

Tak sedikit jamaah menenteng kopor atau membawa barang bawaan cukup banyak menjelang masuk waktu wukuf. Tak sedikit jamah haji memanggul anaknya diajak jalan kaki. Padahal, siang itu sangat terik. Namun mereka tak begitu memperdulikannnya. ‘’Mereka itu masih mencari maktabnya,’’ kata Ustad Moch Munir Djamil, salah satu pembimbing haji.

Usai salat Magrib, semua jamaah yang melakukan wukuf di Padang Arofah semuanya bersiap-siap ke Mudzalifah untuk mabit atau bermalam di sana, meski hanya barang sejenak. Yang penting harus lewat tengah malam pukul 24.00. Rombongan bergerak mulai pukul 21.00.

Jadinya, jalan yang menuju Mudzalifah malam itu macet berkepanjangan. Karena secara hampir bersamaan ribuan kendaraan, terutama bus yang membawa rombongan jamaah haji plus juga menuju Mudzalifah. Karena kelelahan, sebagaian besar jamaah haji tertidur pulas.

Usai bermalam di Mudzalifah, selanjutnya, dini hari itu sekitar pukul 01.00 rombongan melanjutkan perjalanan ke Masjidil Haram untuk melakukan tawaf ifadah dilanjutkan sai dan tahalul atau mencukur rambut. Artinya, semua rukun haji sudah dilaksanakan. Tinggal wajib haji saja yang belum. Yakni, melempar jumroh di Mina yang akan dilakukan esok harinya.

Usai sai dilanjutkan salat Subuh berjamaah karena waktunya hampir bersamaan. Karena pagi itu di Masjidil Haram melakukan salat Idul Idha, maka jamaah pun menungu sampai pagi hari. Usai salat Id menuju apartemen selanjutnya siang harinya ke Mina guna melakukan lempar jumroh. (bersambung/laz)