Warga Gunung Condong Lestarikan Tradisi Warisan Leluhur

PURWOREJO – Tradisi unik membagikan ribuan ingkung kepada masyarakat sekitar masih dilestarikan warga Desa Gunung Condong Kecamatan Bruno, Purworejo, Senin (13/8). Kegiatan merti dusun ini dilaksanakan tiga tahun sekali dan telah dilakukan sejak awal keberadaan desa di kawasan pegunungan itu, yakni sekitar 1.700-an.

Tradisi ini sebagai bentuk rasa syukur masyarakat atas limpahan rejeki dari Sang Kuasa baik dari alam maupun mata pencaharian mereka. Kegiatan ini diikuti sebagian besar masyarakat dan mendatangkan warga dari desa-desa tetangga. Pada kesempatan ini, sebanyak 48 ancak dibuat warga dengan total ingkung ayam yang dibagikan mencapai 9.000 ekor. Hadir juga Bupati Purworejo Agus Bastian dan Wakil Bupati Purworejo Yuli Hastuti serta Wakil Ketua DPRD Purworejo Endang Tavip Handayani.

Ketua panitia kegiatan Mariono mengungkapkan, kegiatan ini tidak membebani masyarakat. Interval waktu tiga tahun dinilai cukup untuk mengumpulkan rezeki dan berbagi dengan sesama. Pertunjukan Tayub juga tidak ditinggalkan masyarakat. Tayub bermakna tinata supaya guyub (ditata agar rukun, Red). Kesenian inilah yang selalu mengiringi dan menghibur warga selama prosesi. “Gunung Condong ini berjarak sekitar 8 kilometer dari Kecamatan Bruno. Adapun pendiri desa kami adalah para nayaga dari Ngayogyakarta yakni RM Wangsajaya yang melakukan perjalanan dan atas petunjuk burung menghentikan langkah di kawasan ini dan membuka lahan,” kata Mariono.

Seiring perjalanan waktu, keberadaan lahan itu semakin luas dan menjadi permukiman hingga saat ini. Dan wujud rasa terima kasih atas keberadaan itu warga rutin menggelar merti desa dengan sajian utama berupa ingkung ayam kampung.

Kepala Desa Gunung Condong, Sudiyono mengatakan jika pelaksanaan tahun ini lebih banyak dibanding kegiatan sebelumnya yang hanya mengikutsertakan sekitar 4.500 ingkung. “Semakin banyaknya ingkung ini menunjukkan semangat masyarakat dan tingginya rasa syukur kepada Sang Pencipta atas segala limpahan rezeki yang diberikan,” kata Sudiyono.

Bupati Purworejo Agus Bastian mengapresiasi kegiatan ini. Dia memuji semangat persatuan dan kedermawanan warga. Terlebih lagi kegiatan ini membutuhkan dana yang tidak sedikit. Jika harga satu ekor ingkung Rp 150.000 dan dikalikan 9.000 mendapatkan hasil yang fantastis dan melebihi dana desa.Yakni mencapai Rp 1,35 miliar. Jumlah ini masih ditambah dengan uba rampe lainnya. Dengan tingginya nilai tradisi ini, dia menyebut potensi ini layak dijual sebagai destinasi wisata. “Terlebih lagi jika dikemas dan dipromosikan dengan baik,’’ jelasnya.

Tamsirin, salah seorang warga mengatakan, satu ancak biasanya dibuat untuk delapan warga. Mereka melakukan iuran mulai Rp 600 ribu hingga Rp 2 juta. Mereka tidak keberatan melakukan ini. Karena memang niatnya untuk melayani tamu. Sehingga, mereka tidak membawa kembali ingkung tersebut, maupun hasil bumi lainnya. (udi/din/mg1)