Setiap kegiatan yang dilaksanakan Pramuka fleksibel dengan zaman. Perkembangan teknologi informasi, misalnya, mampu direspons oleh anggota Pramuka dengan penguasaan teknologi informasi. Anggota Pramuka pun melek teknologi informasi.

”Di bidang teknologi informasi, anggota Pramuka sekarang tidak jadul. Kegiatannya sangat fleksibel. Kegiatan kepramukaan keren, asyik, dan gembira. Tantangannya kini, oleh sebagian masyarakat, Gerakan Pramuka dirasa sebagai kegiatan yang tak mengikuti zaman,” jelas Ketua Kwartir Daerah Gerakan Pramuka DIY Gusti Kanjeng Ratu (GKR) Mangkubumi usai mengikuti ziarah ke makam Bapak Pramuka Indonesia Sri Sultan Hamengku Buwono IX di Kompleks Makam Raja Mataram Imogiri (10/8).

GKR Mangkubumi menegaskan, Gerakan Pramuka sifatnya menanamkan pembentukan karakter yang cinta tanah air lewat Satya Dharma. Saat ini, generasi muda memiliki tugas untuk menjaga Indonesia. Tugas untuk menjaga Indonesia merupakan tugas yang sangat berat.
“Kewajiban untuk menjaga negara ini sangat berat,” jelasnya.

Setiap anggota Pramuka tentunya mengamalkan Satya Dharma. Jiwa nasionalisme otomatis tertanam dalam setiap anggota. Prinsip kebersamaan menjadi prioritas utama untuk menjaga bangsa keutuhan ini.

Selain memiliki jiwa nasionalisme, anggota Pramuka dituntut memiliki jiwa entrepreneurship yang kuat. Artinya, anggota Pramuka harus mandiri. Anggota Pramuka juga bisa melakukan semua hal di atas kaki sendiri.

“Generasi seterusnya harus melanjutkan, harus berkembang, dan berkarya nyata,” tegasnya.
GKR Mangkubumi menegaskan, memiliki syarat kecakapan khusus sangat penting bagi anggota Pramuka. Sebab, setiap orang memiliki spesialisasi sendiri. ”Kecakapan khusus menjadi identitas dan keterampilan masing-masing.

Sedangkan Pramuka isinya keberagaman, juga karakter yang berbeda. Jadi, kebersamaan adalah nomor satu,” jelasnya. (*/ega/amd/mg1)