BANTUL – Jumlah kebakaran di Bantul meningkat drastis. Hingga kemarin BPBD Bantul mencatat 86 kebakaran. Tahun lalu, kebakaran hanya 60 kasus.
“Penyebab utama akibat kelalaian manusia,” ungkap Kepala Pelaksana BPBD Bantul Dwi Daryanto, Senin (13/8).

Penyebab kebakaran terutama akibat hubungan arus pendek. Disusul kebakaran lahan dan kebakaran pabrik. Kebakaran karena korsleting terjadi di rumah-rumah penduduk.
Banyak warga yang menumpuk instalasi listrik pada satu soket. Kemudian soket panas dan memantik terjadinya percikan api dan terjadilah kebakaran.
Jika kabel yang digunakan kualitasnya rendah bisa berakibat hubungan arus pendek dan memicu percikan api. “Gunakan instalasi listrik yang sesuai standar keamanan PLN,” pesan Dwi.

Dia juga mengingatkan persoalan nge-charge handphone atau laptop. Banyak yang tidak peduli dengan tegangan yang aman. Sehingga seringkali terjadi korsleting listrik karena orang sedang nge-charge handphone.
Sebaiknya memilih charger yang memiliki kemampuan memutus aliran listrik jika handphone atau laptop sudah fully charged. Sehingga tidak akan terjadi korsleting listrik atau kelebihan beban.

Mengenai kebakaran, merata terjadi di semua kecamatan. Standar pelayanan minimal (SPM) BPBD Bantul 15 menit sejak laporan kebakaran.
Dwi mengakui BPBD cukup kesulitan dengan kondisi jalan yang padat. Sehingga memperlambat datangnya mobil pemadam kebakaran (damkar) di lokasi kebakaran.

Salah satu solusinya dengan penambahan pos damkar. BPBD akan membangun tiga pos tambahan, yakni di Piyungan, Kretek, dan Sedayu.
BPBD Bantul juga akan memasang hidran di lokasi strategis. Seperti permukiman padat dan pusat keramaian. Saat ini hidran baru terpasang di Parasamya dan kompleks Manding.

Hidran akan memermudah pemadaman api saat kebakaran terjadi. Hidran juga bisa menjadi sumber air untuk pemadaman.
“Kami akan sosialisasi penggunaan hidran dengan pabrik dan masyarakat. Agar ada pihak lain yang bisa memasang hidran,” kata Dwi. (ega/iwa/mg1)