SEMENTARA itu di Kulonprogo, permintaan hewan kurban turun. Idul Adha yang jatuh bersamaan dengan tahun ajaran baru diduga menjadi penyebab turunnya sohibul kurban.

“Saya membawa 60 ekor sapi. Baru terjual 35 ekor,” kata pedagang sapi di Kaliagung, Sentolo, Noto Wiharjo, Senin (13/8).
Dikatakan, pada tahun lalu pada H-7 Idul Adha dia mampu menjual 70 ekor sapi kurban. “Melihat kondisi ini saya memilih mengurangi stok sapi di kandang,” kata Noto.

Pedagang sapi lainnya, Maryanto, mengatakan tahun ini dia menyiapkan 13 ekor sapi dan baru terjual lima ekor. Tahun lalu, sepekan menjelang Idul Adha dia bisa menjual 20 ekor sapi kurban.
“Idul Adha tahun ini memang bareng tahun ajaran baru, mungkin banyak yang menunda berkurban,” kata Noto.

Sapi kurban sebagian besar dari Kulonprogo dan Gunungkidul. Sapi Gunungkidul ukurannya lebih kecil, harganya lebih murah dan paling banyak dicari.
“Kisaran harga sapi kurban Rp 17 juta hingga Rp 23 juta per ekor. Kebanyakan pembeli memburu sapi yang harganya Rp 18 juta hingga Rp 21 juta per ekor,” kata Noto.

Kabid Kesehatan Pangan Dinas Pertanian dan Pangan Kulonprogo Drajat Purwadi mengatakan pemeriksaan kesehatan hewan kurban difokuskan pada pedagang dan tempat pengepul. Syarat sapi yang layak kurab adalah umurnya cukup dan gigi sudah poel.
“Belum ada temuan sapi sakit. Sebaiknya diberi peneduh agar terjaga kesehatan sapinya. Makan cukup, stok minum juga cukup,” kata Drajat. (tom/iwa/mg1)