Pemantauan Dilakukan agar Tidak Terjadi Inflasi

GUNUNGKIDUL – Harga seekor sapi rata-rata Rp 20,5 juta di Gunungkidul. Angka tersebut mengalami kenaikan Rp 2 juta per ekor dari tahun lalu.
Harga tersebut ditemukan Tim Pengendali Inflasi Daerah (TPID) saat melakukan pemantauan ketersediaan hewan kurban di Gunungkidul Senin (13/8).

Mereka melakukan pemantauan di Pasar Munggi, Semanu.
Kepala Bagian Analisa Kebijakan Produktivitas, Biro Administrasi Perekonomian dan Sumber Daya Alam (SDA) Setda DIJ Deden Rohanawati bersama TPID melakukan pemantauan di beberapa pasar hewan.
“Harga sapi per ekor antara Rp 18 juta hingga Rp 20,5 juta,” kata Deden di Pasar Hewan Munggi, Kecamatan Semanu.

Dia menduga kenaikan harga tersebut dipicu peningkatan daya beli masyarakat. Guna mengontrol lonjakan harga sapi, pihaknya melakukan pembinaan kepada para pedagang dan peternak.
“Selain itu juga fokus pada ketersediaan ternak. Berdasarkan data, saat di Gunungkidul jumlahnya masih tergolong aman,” ujar Deden.

Asisten Direktur Bank Indonesia Cabang Jogja Probo Sukesi berharap kenaikan harga hewan kurban tidak memicu inflasi. Pada Idul Fitri 2018 terjadi inflasi, salah satunya dengan naiknya harga daging ayam hingga 0,9 persen.
“Itu salah satu kenaikan yang tertinggi di DIJ. Sekarang pantauan terus kami lakukan agar harga normal,” kata Probo.

Seorang blantik sapi, Subarja, 63, mengatakan bahwa kenaikan harga hewan kurban belum memengaruhi daya beli masyarakat. Sebab sapi seharga itu masih laris diburu pembeli.
“Kalau sapi jenis metal harganya Rp 50 juta per ekor,” kata Subarja.

Setiap pasaran, pedagang di Pasar Hewan Munggi tersebut mampu menjual 100 ekor hewan ternak. Sedangkan harga hewan kurban kambing pada kisaran Rp 2 juta hingga Rp 3,5 juta. Mengalami kenaikan Rp 500 ribu per ekor. “Harga kambing Rp 2 juta ukurannya kecil,” kata Subarja. (gun/iwa/mg1)