GRAFIS: HERPRI KARTUN/RADAR JOGJA

Aktif di bidang kepramukaan membuat Tanti Darmawati, 48, menemukan hal unik di luar bangku sekolah. Bercocok tanam, beternak bebek, budidaya ikan hingga berjualan susu kedelai, sudah dilakoninya. Ilmu itu ia temukan di Pramuka. Menerapkan jiwa Pramuka, hidup di dalam masyarakat menjadi lebih mudah. Tak ada beban untuk membantu orang lain bagi Sekretaris Kwarcab Bantul ini.

MEITIKA CANDRA LANTIVA, Bantul

Usianya hampir separo abad, namun semangatnya mengabdikan diri dalam kepramukaan sangat tinggi. Hal itu tampak ketika Tanti dengan cekatan memandu para Pramuka muda mempersiapkan Peringatan Hari Pramuka yang digelar hari ini di Stadion Sultan Agung (SSA) Bantul.

Sebagai seorang pelatih yang mempunyai tanggung jawab penting dalam menyerukan kepramukaan bagi kalagan muda, dia selalu antusias memberikan bimbingan terhadap pramuka-pramuka muda. Hingga mereka terlihat akrab layaknya kakak dan adik. ”Kak Tanti,” begitu sapaan akrabnya.

Menjadi seorang Pramuka itu harus sigap. Harus mampu memecahkan masalah dengan segera. Jangam berputus asa dan selalu konfirmasi kurangnya apa. Ucapan itu terlontar seketika para Pramuka muda mengalami kesulitan saat menyiapkan perlengkapan peringatan Hari Pramuka.

Bagi seorang Tanti, mengikuti Pramuka adalah cara belajar menjalani tantangan hidup. “Kalau di sekolah kan belajarnya teori. Nah kalau di Pramuka benar-benar baru terasa menyatu dengan alam dan bersentuhan langsung dengan kehidupan,” ungkapnya saat ditemui di Gubuk Pramuka, Senin (13/8).

Di usia sembilan tahun Tanti sudah aktif menjadi Pramuka siaga. Saat itu ia hanya berpikir harus ada yang melindungi. Harus ada yang memberikan rasa aman di antara saudara-saudaranya. Ini karena sang ayah juga sibuk bekerja dan Tanti mempunyai delapan saudara perempuan.

Maka baginya Pramuka menjadi hal penting yang wajib dikembangkan. “Saudara saya banyak, saya anak nomor enam. Saya tertarik melatih kemandirian, menjadi suri teladan dan melindungi saudara saya,” ungkapnya.
Tanti mengaku pernah mendapat teguran dari orang tuanya karena selalu pulang malam setelah ikut Pramuka. Namun hal itu dibuktikannya bahwa banyak hal positif yang didapatkan melalui kegiatan itu. “Antisipasinya saya ajak beberapa teman menginap di rumah agar orang tua percaya,” tuturnya. Semenjak itu orang tua mengizinkan.

Untuk mendapatkan ilmu kepramukaan yang belum dipahami, Tanti aktif mendatangi tempat-tempat pembina dan belajar banyak hal, seperti membuat gantungan pot dengan tali. Juga ditugaskan pelatih bersepeda dengan jarak jauh dari Kota Jogja menuju kawasan pantai Bantul utuk menolong korban banjir saat menjadi penggalang.

“Tidak menduga, sewaktu pengumuman lulus dari penggalang terap, nama saya di panggil. Teryata sang pelatih memerintah itu ujiannya,” ungkapnya. Pengalaman lainnya dirasakan saat meraih tingkatan berikutnya saar menjalani SKK Syarat Kecakapan Khusus. Tanti Bersama 10 teman perempuan dan 90 teman prianya mengikuti kegiatan.

Pengalaman yang tak bisa dilupakan oleh Tanti adalah saat dilantik mengikuti kecakapan khusus. Pada tahun 1990 ia bersama Pramuka lainnya mengikuti kegiatan napak tilas, melakukan perjalanan selama seminggu dari Kota Jogja, start dari Parangtritis hingga Gunungkidul melewati bukit-bukit. Tanti Bersama rombongan melakukan perjalanan dan menyinggahi setiap kelurahan untuk bermalam.

“Nah kami dapat makan dari warga. Mereka menyiapkan makanan seperti kacang-kacangan, singkong rebus, dan lain-lain,” ungkap perempuan asal Dusun Wonosari, Mulyosari, Bambanglipuro, Bantul, yang kini aktif sebagai pelatih Pramuka dan sering mendampingi jambore tingkat nasional. (laz/mg1)