PURWOREJO – Pelaku Usaha Mikro, Kecil, dan Menengah (UMKM) di Purworejo kurang melek teknologi informasi (TI). Mereka belum memanfaatkan situs online untuk berjualan.
Ketua Dewan Pimpinan Cabang (DPC) Gerakan Kewirausahaan Nasional Indonesia Purworejo Agus Fitrianto melihat pelaku UMKM masih agak buta dengan dunia tersebut. Dorongan Pemkab memanfaatkan TI tidak berjalan optimal.

‘’Mereka lebih suka berjalan secara konvensional dan mengikuti pola lama yang sudah berjalan,’’ ujar Agus kemarin.
Padahal beragam upaya telah dilakukan Pemerintah Kabupaten (Pemkab) Purworejo menggerakkan UMKM. Dinas Koperasi Usaha Kecil, Menengah, dan Koperasi (Din KUKMP) telah melakukan pendampingan hingga promosi.
‘’Memang ada yang tumbuh. Namun tidak sedikit yang stagnan alias jalan di tempat,’’ ujar Agus.

Dikatakan, lambatnya pergerakan UMKM disebabkan masih banyak pelaku UMKM belum mau diajak maju. “Kembali kepada karakter pelaku UMKM,” kata Kaprodi Administrasi Bisnis Politeknik Sawunggalih Kutoarjo.
Pelaku UMKM masih sulit diajak maju. Mereka sudah merasa puas dengan hasil yang diperoleh saat ini dan enggan berusaha lebih keras meningkatkan kualitas produksi.

Contohnya, produsen besek di Purworejo bagian utara. Mereka tidak melakukan inovasi. Enggan mengubah gaya besek karena dianggap sudah menghasilkan.
“Pemkab telah mendorong agar ada inovasi. Mereka mengatakan iya, tapi dalam pelaksanaannya tidak dilakukan,” ujar Agus.

Pemanfaatan TI sudah ditawarkan pemkab dengan purworejo-mall.com. Situs ini bisa diakses siapapun dan menjadi sarana menjual produk UMKM.
Pengelola purworejo-mall.com Arbaah Mintaraga mengatakan saat dibuka pada 2016, situs tersebut dimanfaatkan 175 pelaku UMKM. Saat ini dimanfaatkan 350 pelaku UMKM.

Padahal jumlah UMKM di Purworejo 24.000 lebih. Partisipasi menjual produk lewat purworejo-mall.com sangat rendah. “Memang masih kecil yang paham TI. Mereka takut saat dipajang online dan permintaan tinggi tidak mampu melayani,” jelas Yosi, sapaan Arbaah.

Dikatakan, purworejo-mall.com memiliki keterbatasan. Karena terikat dengan pihak ketiga yang menyediakan layanan. Produk yang dijual masih level daerah.
“Yang peminatnya tinggi adalah produk olahan abon lele. Setiap hari situs ini ada yang melihat, sekitar lebih dari 35,” kata Yosi.

Kepala Bidang UMKM DinKUKMP Purworejo Titik Mintarsih mengatakan hanya sedikit UMKM yang bisa aktif. “Kami sudah menjalin kerjasama dengan toko-toko modern dan siap membantu UMKM. Toko modern menyiapkan space khusus bagi UMKM,” kata Titik. (udi/iwa/mg1)