JOGJA – Sama-sama sebagai tujuan wisata, Kota Jogja dan Kota Manado, Sulawesi Utara juga mengandalkan sektor pariwisata sebagai penyumbang pendapatan asli daerah (PAD). Bedanya, di Manado sudah lebih dulu mengembangkan wisata malam di sana untuk memperlama waktu tinggal wisatawan.

”Kuliner di sana buka sampai malam bahkan ada yang sampai dini hari. Kota wisata jangan sampai mati, karena keramaian menggerakkan ekonomi,” tutur anggota DPRD Kota Manado Roy Maramis saat menerima rombongan dari DPRD Kota Jogja pekan lalu.

Dari sekitar Rp 370 miliar PAD Kota Manado, mayoritas berasal dari sektor pariwisata. Roy menyebut, di Manado ada potensi kuliner Boulevard atau disebut juga kawasan Boulevard on Business Manado. Ada pula tempat ngopi yang tersohor di sana, Jarod atau Jalan Roda.

Di lokasi tersebut waktu bukanya hingga malam hari. Pemkot Manado, lanjut dia, juga rutin menggelar wisata tahunan yakni Manado Fiesta. ”Manado juga mereklamasi beberapa garis laut dan dijadikan tempat wisata,” ujar anggota Badan Anggaran DPRD Kota Manado itu.

Kota Manado yang memiliki luas daratan sekitar 157,26 km persegi itu, lanjut Roy, juga dikenal sebagai kota toleran di Indonesia. Penduduk Manado didominasi beragama Kristen dan sisanya Katolik, Islam, dan agama lainnya. ”Meski berbeda suku dan beragam agama, tapi masyarakatnya bisa hidup rukun bersama,” ungkapnya.

Mendengar penjelasan dari Roy, Ketua DPRD kota Jogja Sujanarko mengatakan sebenarnya banyak kesamaan dengan Kota Jogja. Di antaranya dengan membuka Pasar Beringharjo dan Taman Pintar hingga malam hari. Beberapa tempat nongkrong bahkan juga sampai dini hari.

”Hanya soal keamanan, seperti klithih itu harus bisa diantisipasi,” pesan politikus PDIP itu. (pra/ila/mg1)