OKY REY MONTHA

Pirates atau dalam terjemahan Bahasa Indonesia adalah bajak laut. Biasanya mereka merupakan kelompok yang senang merompak dan merampas harta benda. Namun, jangan salah sangka, ada juga hal positif dari mereka.
Ideologi sebagai pirates yang bersama-sama berpetualang dan tetap menjaga kapal agar tetap berlayar dan siap bertempur kapan saja adalah salah satu contoh. Semangat inilah yang mendasari Oky Rey Montha, pria 32 tahun lulusan Desain Komunikasi Institut Seni Indonesia (ISI) Jogjakarta ini mendirikan bisnis Hozpit (Houze of Piratez).

EKSKLUSIF: Proses pembuatan produk Hozpit masih dilakukan dengan cara manual agar terkesan eksklusif dan limited edition. (OKY REY MONTHA FOR RADAR JOGJA)

Kyre, sapaan karibnya, menjelaskan selain tertarik dengan larakter bajak laut, lukisan-lukisannya juga memiliki tema serupa. Oleh karenanya, sebagai konsep berkarya dan bisnis akhirnya dia tertarik juga untuk memunculkan taste itu pada produknya. “Makanya tema itu menjadi fondasi bisnis kami,” kata Kyre.
Ya, dia tidak sendiri dalam merintis usahanya. Seperti kata pepatah, di balik pria sukses ada wanita hebat di belakangnya, Kyre tidak sendirian. Ada Verena Dian Putri, atau yang akrab disapa Ve.

Diceritakan Kyre, awal mulanya dia bersama sang pacar hanya ingin mencari kesibukan yang menyenangkan. Ve yang lulusan UGM tertarik belajar seni. Lantas Kyre yang punya dasar kesenian mulai mengajari Ve untuk membuat dompet dari kulit.
Kolaborasi lantas tercipta. Dengan bermodal selembar kulit bekas dan referensi dari internet mulailah Kyre bereksperimen. “Saya mulai eksperimen bentuk dan warna, Ve mulai belajar menjahit,” bebernya.
Dari keisengan itu, terciptalah beberapa produk. Lantas gagasan besar muncul. Dengan bermodal media sosial, Kyre dan Ve melempar karya mereka ke pasaran. “Ternyata responsnya bagus,” kata Kyre yang mulai merintis usahanya sejak 2016.

Sejak itu, Kyre lantas mengembangkan usahanya dan fokus pada media kulit sapi sebagai bahan baku dalam produknya. Menurutnya, kulit adalah media fleksibel dan banyak teknik menarik dalam aplikasinya. “Lagipula karakter karya saya yg berbau pirate dan victorian sangat cocok bermain di media yg satu ini,” ujarnya.

BERKELAS: Harga tas ini sebanding dengan proses yang dihasilkan. . (OKY REY MONTHA FOR RADAR JOGJA)

Yang menarik, desain, pewarnaan dan proses carving (ukir) dilakukan dengan tangan. Teknik carving, selain masih langka di Indonesia, juga memiliki kelebihan tidak mungkin dibuat sama persis. “Bahkan si senimannya sekalipun. Karena ini bukan mesin,” tegasnya.
Dikatakan Kyre, dia masih banyak bermain di kulit nabati. Alasannya, karena masih bisa diolah sendiri baik pewarnaan dan ukir. “Saat ini kebanyakan pesanan custom carving,” ungkapnya.
Produknya saat ini masih berupa dompet dengan beberapa variasi. Tas, clutch, pouch, belt, strap jam, dan aksesoris. Tergantung pesenan klien dan dua tahun belakangan dia masih banyak menerima orderan custom. “Jadi sesuai pesenan, tapi mulai beberapa waktu lalu kami menutup custom order. Karena rencananya lebih ke limited ready stock,” jelasnya.
Satu item yang dia buat, memakan waktu tiga hari pengerjaan dan sudah sekaligus pewarnaan. Dalam sebulan sekitar 25-30 produk yang dapat dihasilkan. “Yang paling laku dompetnya,” kata Kyre.
Pasar untuk Hozpit biasanya kalangan menengah ke atas. Serta mulai ada maniak kulit yang rutin membeli produk. Harga dompet mulai dari Rp 500 ribu sampai Rp 1,5 juta, tas dari Rp 1,2 juta sampai Rp 5 juta. “Sebanding dengan proses dan hasilnya,” tegasnya.
Namun, dia menyebut masih ada beberapa kendala. Terutama pada konsumen manca negara. “Banyak yang tidak jadi karena masalah ongkos kirim dan pajak,” ungkapnya.

RUMIT: Karya ini dibuat dengan teknik carving yang masih langka di Indonesia. (OKY REY MONTHA FOR RADAR JOGJA)

Sementara itu, produknya telah melanglang buana hingga Amerika, Swedia, Italia. Di Asia sudah sampai Thailand, Philipina, dan Malaysia, bahkan hingga Benua Australia. Walaupun belum massal dan masih pada pembeli perorangan. “Kemarin mau ada kerja sama juga dengan Korea dan India,” tuturnya. (har/din/mg1)