“Sampah-sampah ting bececer dha kumlarah. Jo wegah, diklumpukke dipilah-pilah neng wadah. Hasile, disetorke bank sampah saben minggune. Pamrihe, katon resik lan sehat mring lingkungane.”

Syair bahasa Jawa di atas merupakan penggalan dari lagu berjudul Lumbung Desa. Lagu itu berbicara soal bank sampah yang ada di Dusun Pendulan Sumberagung, Moyudan, Sleman.

Dusun Pendulan baru saja menorehkan prestasi. Dusun ini terpilih menjadi salah satu pemenang lomba Program Kampung Iklim (Proklim) yang digelar Kementerian Lingkungan Hidup dan Kehutanan (KLHK) Republik Indonesia. Masyarakat Dusun Pendulan dinilai bisa menerapkan hidup sehat. Di antaranya dalam mengelola sampah rumah tangga.

RAMAH LINGKUNGAN: Salah satu sudut Dusun Pendulan yang mendapatkan penghargaan nasional Kampung Proklim dari KLHK. (SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA)

Sukses mengelola sampah rumah tangga itu tak bisa dilepaskan dari sosok Suharjiyem, 66. Pensiunan kepala SDN Mejing 1, Gamping, Sleman itu memulai kepedulian mengelola sampah rumah tangga sejak tidak lagi sebagai pendidik. Dia purna tugas pada 2012.

Mengisi waktu selepas pensiun, dia mulai merintis memilah sampah di lingkungannya. “Dusun ini sebenarnya sudah maju, namun belum ada bank sampah. Jadi setelah purna tugas saya berniat mengelola lingkungan agar baik dan sehat. Saya merintis bank sampah,” katanya saat ditemui pekan lalu.

APRESIASI: Bupati Sleman Sri Purnomo meninjau salah satu standar milik warga. Peringatan Hari Lingkungan Hidup Sedunia disambut dengan beragam kegiatan. (SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA)

Apa yang dilakukan Suharjiyem dan warga Pendulan, selaras dengan tema Hari Lingkungan Hidup 2018. Yaitu Kendalikan Sampah Plastik. Bahkan, dengan adanya bank sampah bisa mengangkat Dusun Pendulan dikenal hingga tingkat nasional.

Nenek empat cucu yang biasa disapa Bu Suhar itu mengatakan, beberapa dusun dan desa di Sleman menurutnya sudah mulai maju, tapi belum lengkap jika belum ada bank sampah.

“Saat merintis mendapatkan dukungan Pak Dukuh dan Bu Dukuh dan tokoh masyarakat sehingga saya mantap. Walaupun banyak warga yang awalnya pesimistis,” ceritanya.
Namun, dia tidak terlalu ambil pusing. Dukungan Dukuh Pendulan Wagiharto membuatnya mantap. Buah dari kerja keras tersebut mulai tampak pada November 2014. Dusun Pendulan menjadi juara satu Dusun Proklim se-Kabupaten Sleman.

Setelah memberikan pemahaman pentingnya memilah sampah, warga mulai sadar. Sampah rumah tangga yang sebagian besar berupa plastik itu perlu diolah dan dipilah. Jika hanya dibuang begitu saja, sampah tersebut sulit terurai dan berbahaya bagi lingkungan.

Lambat laun warga sudah paham dengan memilah sampah plastik dari tiap-tiap rumah tangga. Selanjutnya, sampah plastik tersebut disetorkan, ditimbang, dicatat dan dihargai. Nominal yang didapat ditabung di bank sampah. Di lahan sekitar 10 x 15 meter tak jauh dari rumah Dukuh Pendulan, menjadi tempat mengumpulkan dan pengolahan sampah. “Bank sampah ada anggaran dasar dan anggaran rumah tangga ( AD/ART). Ada pengurus dan kegiatan rutin,” ujarnya.

Tidak hanya di tingkat kabupaten, Dusun Pendulan juga diberi kesempatan mengajukan instrumen kampung iklim ke tingkat pusat. Hal itu karena di tingkat provinisi tidak ada. Setelah verifikasi, ternyata beberapa instrumen penilaiannya sudah ada di Pendulan.

Selain bank sampah juga ada pengelolaan air. Warga membendung sungai yang jaraknya 2 kilometer dari Jalan Godean dan dinaikkan sebelum kemudian airnya dialirkan. Hasilnya, jika dulu musim kemarau sering kekurangan air, sekarang stok air melimpah. “Bisa dimanfaatkan oleh KWT (kelompok wanita tani, red),” cerita dia.

Setelah ada saluran air, lahan yang dulu kosong sekarang banyak tanaman. Vegetasi ini sebagai adaptasi mitigasi terhadap bencana. Menanggulangi tanah longsor, menghasilkan oksigen dan meredam angin ribut besar yang bisa merobohkan pohon sehingga tidak menimpa rumah warga. Karena pohon berhimpitan dan rapat.

Dari awalnya bank sampah, mendorong gerakan-gerakan warga lainnya. Seperti pemberdayaan pertanian, peternakan, KWT hingga koperasi simpan pinjam untuk mencegah masuknya rentenir. “Semuanya bisa berjalan karena warga dinilai guyub, juga pemerintah dusun selalu mempromosikan di setiap kegiatan warga,” tutur Suharjiyem.

Banyak Manfaatnya

Berawal dari mengelola sampah, saat ini mulai banyak manfaat dirasakan warga Pendulan. Dampak terbesar adalah perubahan cara pandang warga mengenai sampah. Kini tumbuh kesadaran setiap warga sampah itu harus diolah dan bukan dibuang begitu saja.

“Setiap rumah tangga menghasilkan sampah. Ketika ada kegiatan, warga sudah tahu jika ada sampah langsung dipungut dan dikumpulkan sesuai jenisnya,” terang mantan guru SD ini.

Saat ini, setelah bank sampah di Pendulan sudah diakui Badan Lingkungan Hidup (BLH) DIY. Di pihak lain, juga muncul bank sampah sekitar Pendulan. Di antaranya Desa Sumberarum dan Desa Sumbersari, tetangga dekat Desa Sumberagung.

Totalnya ada sekitar 20 kelompok dengan Pendulan sebagai induknya. “Induk itu bukanya kita mengumpulkan sampah, tapi untuk mengoordinasi, memantau dan komunikasi dengan penggiat lingkungan lainya,” kata istri Mulyono Hadi itu.

Kini beberapa bantuan berdatangan. Misalnya pendampingan dan pelatihan dari kampus-kampus dan lembaga lainnya. Dusun Pendulang juga mendapatkan kunjungan dari sejumlah daerah setelah menjadi Kampung Proklim tingkat Nasional. “Ada yang datang dari Kalsel, Bangka, Jateng dan Jatim,” bebernya. (riz/kus/mg1)