JOGJA- Kita memiliki model pengasuhan anak berbasis budaya atau kearifan lokal yang masih sangat ideal untuk diterapkan. Salah satunya ajaran Krawuh Pamomong buah pemikiran Ki Ageng Suryomentaran, putra ke-55 Sultan Hamengku Buwono VII.

“Kawruh Pamomong adalah suatu usaha orang tua untuk mengasuh anak yang mengedepankan rasa cinta demi membentuk raga dan mencapai kebahagian yang sempurna,’’ jelas Dosen Fakultas Psikologi UGM Budi Andayani dalam Seminar Nasional Pengasuhan Anak dalam Keluarga dan Masyarakat Berbasis Kearifan Lokal di Dikpora DIJ, Sabtu (11/8).

Menurutnya, prinsip utama dari Kawruh Pamomong yaitu sumerep. Yaitu bagaimana memberi pengetahuan anak tentang hal-hal yang benar. Jika anak diberi pengetahuan yang tidak nyata, akan terbentuk pola pikir yang salah. Misalnya bertakhayul, penakut, dan menghubungkan hal-hal yang tidak ada.
Budi mengungkapkan prinsip-prinsip tersebut akan megajari anak menjadi pemberani, jujur serta tidak mengancam dan menyalahkan pihak lain “Sehingga mampu mengajar anak untuk percaya diri dan mandiri,” ujarnya.

Prinsip kedua adalah raos asih. Pada tahap ini orang tua harus mengajarkan beberapa hal, seperti tidak membeda-bedakan, tidak memarahi anak secara berlebihan, serta tidak mengharapkan pujian atau upah, serta tidak dipermalukan dan mempermalukan orang lain. Dengan penerapan prinsip ini akan menumbuhkan rasa cinta kasih terhadap sesama.

Prinsip ketiga dari Kawruh Pamomong adalah mengajarkan anak untuk mencintai keindahan. Keindahan ini dapat diajarkan secara indrawi yang bisa diterima dengan wajar, yaitu dengan memaksimal lima indra yang ada. Pertama adalah indra pembau , yaitu membedakan bau wangi berasal dari bunga dan bau busuk bersumber dari comberan. Kedua adalah indra pendengaran suara yang mengerikan adalah petir dan suara yang indah adalah kicauan burung. Ketiga adalah indra penglihatan, yakni anak diajak untuk membedakan awan gelap itu mengerikan dan pelangi adalah suatu bentuk ciptaan Tuhan yang indah.

Keempat, kelima adalah indra perasa dan peraba. Anak diajarkan untuk membedakan pare berasa pahit, gula berasa manis serta bulu landak ketika diraba tajam dan bulu kucing adalah bentuk sebuah kehalusan.
Budi juga mengungkapkan dengan penerapan Kawruh Pamomong di era digital seperti anak akan mendapat beragam manfaat “Model pengasuhan seperti ini masih aktual diterapkan pada zaman sekarang,”ujarnya.

Ketua Komisi Perlindungan Anak, Arist Merdeka Sirait juga membenarkan dengan model pengasuhan yang berbasis budaya atau kearifan local dapat menjadi langkah untuk meminimalisasi kekerasan anak di lingkup keluarga. Pembentukan karakter menurut Ki Ageng Suryomentaran merupakan model pengasuhan yang memberikan pembimbingan moral dengan mempelajari nilai-nilai budaya “Segala pembelajaran dari orang tua akan menjadi pedoman ketika anak tumbuh dewasa” ujarnya.

Arist juga mengungkapkan Ki Ageng Suryomentaran adalah tokoh yang berpikir produktif dalam hal pola asuh anak. (cr5/din/mg1)