SLEMAN – Bola dilempar kiper hingga tengah lapangan. Langsung disambut pemain lain dan berebutan. Mereka kesulitan bergerak karena bermain bola di lapangan lumpur.

Keseruan tersebut terjadi di Dusun Karangmloko, Sariharjo, Ngaglik kemarin. Digelar untuk memeriahkan agustusan alias peringatan ke-73 Kemerdekaan RI.
Tebalnya lumpur membuat para pemain kesulitan melangkah. Tak jarang harus berjibaku karena terpeleset saat berebut si kulit bundar.

Salah seorang peserta Sumariyo, 55, membentur tiang gawang untuk menyelamatkan bola agar tidak masuk ke gawangnya. “Mata terkena lumpur, jadi agak tidak kelihatan,” kata Mar, sapaan Sumariyo usai laga, Minggu (12/8).

Kendati menguras tenaga, permainan tersebut tidak lebih melelahkan daripada perjuangan pendahulu merebut kemerdekaan. ‘’Saya tidak kapok dan mau ikut lagi tahun depan. Ini yang ketiga, kalau ada lagi, saya mau ikut,” ujar pria yang selalu berposisi sebagai kiper.

Menurut ketua panitia lomba Syahfara Ananda Ramadhan tahun ini lomba khusus untuk para bapak dikemas beda. Tahun lalu sepakbola menggunakan sarung, kali ini bertarung di lapangan lumpur.

Dijelaskan Fara, sapaan Syahfara, satu tim terdiri dari tujuh orang pemain. Setiap tim merupakan perwakilan tiap RT yang ada. “Total ada empat tim dari empat RT,” ujar Fara.

Permainan tersebut menurut dia tidak mementingkan hadiahnya. Namun bagaimana kerjasama dan perjuangan yang menjadi poin plus. “Semoga warga bisa kompak dan bersatu,” harap Fara. (har/iwa/mg1)