MUNGKID – Gelaran Festival Lima Gunung (FLG) sudah memasuki penyelenggaraan yang ke-17. Kegiatan yang berusaha memfasilitasi para seniman petani ini sempat menarik perhatian Kementerian Pariwisata untuk memberi bantuan. Tetapi mereka tetap ingin mandiri dan berswadaya.

Beberapa hari sebelum pembukaan acara yang digelar 10 hingga 12 Agustus tersebut, publik dibuat tercengang oleh pernyataan Ketua Panitia Festival Lima Gunung ke-17 Pangadi.

Pria yang akrab disapa Ki Ipang ini mengaku telah menolak tawaran bantuan keuangan dari Kementerian Pariwisata RI untuk pendanaan festival sebesar Rp 1 miliar. Alasannya, mereka tetap ingin mandiri dan tidak pernah meminta sponsor, meski kegiatan harus mengeluarkan biaya banyak.

”Selama 17 tahun penyelenggaraan Festival Lima Gunung ini tidak pernah meminta bantuan dari manapun. Karena ini kerja dengan hati dan kami menyiapkan semuanya dengan senang hati,” kata Ki Ipang.

Ada sekitar 80 agenda pementasan dalam acara yang digelar di Dusun Wonolelo, Bandongan, Kabupaten Magelang. Yakni mulai dari performance seni, pameran seni rupa, kirab budaya. pidato kebudayaan, dan peluncuran buku. Festival diadakan oleh seniman petani dari Komunitas Lima Gunung Kabupaten Magelang, Gunung Merapi, Merbabu, Andong, Sumbing, dan Gunung Menoreh.

Selain membangun tempat pertunjukan di tengah permukiman warga dusun setempat yang diberi nama ”Panggung Kampung”, masyarakat juga membuat tempat lainnya untuk pementasan. Yakni di tengah areal persawahan yang kemudian diberi nama ”Panggung Sawah”.

Panggung ini dibuat dengan instalasi seni menggunakan bahan-bahan alam, seperti jerami, bambu, dan kelaras. ”Secara tidak sengaja, dua panggung yang dipersiapkan tersebut ada kaitannya dengan mata pencaharian masyarakat Dusun Wonolelo sebagai petani sawah,” tuturnya.

Dijelaskan, untuk proses pembuatan seni instalasi tersebut, memerlukan sekitar 1,2 ton jerami yang didapat dari sawah-sawah sekitarnya yang beberapa waktu lalu telah panen padi.

Pembuatan berbagai macam seni instalasi tersebut dilakukan secara gotong royong dan swadaya sekitar satu bulan lalu. Setiap harinya baik siang dan malam, sekitar 20 orang secara bergantian mempersiapkan berbagai macam sarana dan prasarana yang ada, demi kelancaran acara tersebut.

Terpisah, Ketua Umum Komite Seni Budaya Nusantara Hendardji Soepandji mengatakan, FLG telah tumbuh dan berkembang dari masyarakat desa sehingga memberikan inspirasi kepada masyarakat luas.

Dia memberikan apresiasi atas penyelenggaraan festival yang selain menghadirkan para seniman Komunitas Lima Gunung, juga beberapa kelompok kesenian dari sekitar Magelang. Bahkan sejumlah seniman lain dari beberapa kota di Indonesia, termasuk tamu dari luar negeri. Ditambah Sutanto Mendut yang berkedudukan sebagai pemimpin tertinggi komunitas tersebut dengan sebutan ”Presiden Lima Gunung”, membuat seni semakin dibutuhkan untuk berbagai lapangan kehidupan.

”Semua ilmu pengetahuan membutuhkan seni. Kalau ingin maju, manusia harus berkesenian. Ini tentang bagaimana cara mengekspresikan seni. Artinya anda semua ingin maju menatap masa depan. Festival ini dimaknai secara positif,” tegasnya.

FLG kali ini bertema ”Masih Goblok Bareng”. Dalam acara tersebut, 40 seniman menggelar pameran seni rupa bertajuk ”Rasah Mikir”, berupa seni lukis, patung, wayang kontemporer, seni instalasi dan lainnya yang dipajang di bangunan terbuka milik seorang warga setempat di jalan menuju ”Panggung Sawah”. Sejumlah karya yang dipamerkan antara lain berjudul Kesurupan (Syarif), Terhimpit Lima Gunung (Dsihlovekinta), Untittled (Mang Yani), Ada Untuk Cinta” (Nurfu Ad), Budha (Pak Mojo), Topeng (Iroel), The Face (Sekartaji S.), dan Living As a Human (Ikke Feehily).

Budayawan Sutanto Mendut menyatakan para pemimpin atau tokoh-tokoh Komunitas Lima Gunung pernah bersumpah untuk menyelenggarakan festival secara swadaya dan mandiri atau tanpa bantuan penguasa maupun pengusaha. Namun, dia juga selalu mengingatkan kepada pegiat komunitas untuk mengedepankan sikap rendah hati sesuai dengan nilai-nilai luhur bangsa. ”Kami bangga dengan yang rendah hati,” tandasnya. (dem/ila/mg1)