BANTUL – Kondisi air tanah di wilayah Piyungan tidak memenuhi syarat. Mengacu data Puskesmas Piyungan, kadar bakteri e-coli melebihi ambang batas. Mencapai 68. Padahal, kandungan bakteri e-coli idealnya 50.
”Itu hasil pengambilan sampel air,” jelas Sanitarian Puskesmas Piyungan Puji Arumsari di kantornya pekan lalu.

Arum, sapaannya menengarai rendahnya kualitas air ini salah satunya akibat padatnya penduduk. Kepadatan penduduk yang dibarengi dengan bertambahnya rumah hunian berpengaruh terhadap resapan air. Itu diperparah dengan desain jamban. Ya, tidak sedikit desain jamban hanya ala kadarnya. Jauh dari istilah jamban sehat.

”Resapan air dari jamban sehat tidak mengandung bakteri e-coli,” ujarnya.
Karena mengandung e-coli terlalu banyak, Arum mengingatkan, air ini dapat mengakibatkan diare. Dengan catatan bila dikonsumsi secara terus-menerus. Karena itu, Arum menegaskan, untuk kebutuhan konsumsi air harus dimasak terlebih dahulu.
”Atau diberikan kaporit,” ucapnya.

Atas dasar itu pula, puskesmas rutin memberikan penyuluhan kepada masyarakat. Bahkan, puskesmas juga rutin memeriksa usaha air isi ulang.
”Yang sehat kami berikan stiker,” tuturnya.

Pengambilan sampel air, kata Arum, merupakan kegiatan rutin puskesmas. Kendati begitu, puskesmas hanya mendapat lima pengambilan sampel air di setiap desa. Dengan kata lain, hanya ada 15 sumur yang diuji kualitasnya setiap tahun. Sebab, hanya ada tiga desa di Kecamatan Piyungan. Yakni, Srimulyo, Sitimulyo, dan Srimartani. Padahal, ada sekitar sepuluh ribu sumur di seluruh wilayah Piyungan. Tersebar di 60 dusun.

”Sehingga yang kami ambil sumur yang banyak digunakan masyarakat,” kata Arum menjelaskan strategi yang dilakukan puskesmas menyiasati minimnya jatah.
Dalam kesempatan itu, Arum mengungkapkan bahwa puskesmas juga melayani pengambilan sampel air atas permintaan masyarakat. Biasanya, permintaan uji kualitas air ini untuk industri.

”Karena pemeriksaan kualitas ini bagian dari pemberian izin,” katanya.
Ketika disinggung terkait kualitas air di sekitar Tempat Pembuangan Sampah Terpadu (TPST) Piyungan, Arum enggan berkomentar. Dia beralasan ada instansi lain yang berwenang melakukan uji kualitas air. Yakni, Balai Besar Teknik Kesehatan Lingkungan dan Pengendalian Penyakit (BBTKLPP) Jogjakarta.

Kendati berkualitas buruk, sebagian warga tetap menggunakan air tanah untuk konsumsi. Tak terkecuali warga yang tinggal di sekitar TPST. Parimin salah satunya. Warga yang tinggal sekitar 700 meter dari TPST ini menggunakan air sumur untuk memenuhi kebutuhan sehari-hari. Mulai mandi, mencuci, hingga memasak.

”Selama ini tidak ada keluhan kesehatan,” tuturnya.
Berbeda dengan Parimin, Wartini lebih berhati-hati. Sehari-hari warga yang tinggal sekitar 200 meter dari TPST memilih mengambil air dari sumur lain untuk kebutuhan konsumsi.
”Kalau untuk mandi dan mencuci pakai air sumur bor,” katanya. (ega/zam/mg1)