Kecintaannya pada serial drama Korea mengantarkan Usnul Khotimah menemukan ide desain batik. Yakni, mengombinasikan pakaian tradisional Kores dengan batik. Dia ingin pemuda Indonesia bisa mencintai produk dalam negeri.

SUKARNI MEGAWATI, Bantul

Usnul Khotimah begitu menggandrungi serial drama Korea sejak duduk di bangku kuliah. Dari situ, perempuan berusia 27 tahun ini mulai menyukai berbagai pernak-pernik korea. Termasuk baju tradisional Korea ala kerajaan.
”Bentuknya tetap baju Korea. Tapi tidak meninggalkan nuansa Indonesia,” ungkap Usnul, begitu dia akrab disapa pekan lalu.

Cukup lama bagi Usnul untuk mewujudkan idenya itu. Sebab, ada banyak hal yang harus dipersiapkannya. Mulai mental, pengetahuan, hingga jaringan penyuplai bahan baku pakaian. Selama masa persiapan itu, Usnul banyak bergabung dengan berbagai komunitas bisnis. Dia juga membekali diri dengan seabrek buku-buku entreprenheurship. Nah, perempuan dari Banguntapan ini baru memantapkan langkahnya pada akhir tahun lalu. Dari sinilah dia kemudian membuat baju tradisional Korea impiannya. Yakni, baju Korea dihiasi dengan motif batik. Kendati mengombinasikan dua budaya, perempuan kelahiran 1991 ini tetap memilih pewarna alami.
”Polusi sebisa mungkin harus dikurangi,” ucapnya.

Karena alami itu pula, Usnul berani mengklaim bahwa produknya ramah lingkungan. Sekaligus ramah terhadap kulit. Dengan begitu, cocok bagi kulit yang alergi pewarna tekstil. Lalu, apa pewarnanya? Pewarna yang digunakannya dari daun Indigofera. Pewarna yang diambil langsung dari petani di Srandakan ini tidak sekadar ramah. Lebih dari itu, juga proses penguncian warnanya jauh lebih cepat. Meski dengan pencelupan warna minimal lima kali.

”Fiksasi (penguncian) warnanya lewat angin. Sehari bisa jadi. Kalau mau dapat warna lebih terang tak makan waktu banyak,” tuturnya.
Ada pewarna alami lain yang bisa digunakan. Yaitu, pewarna dari daun mangga, dan tengger. Hanya, proses penguncian warna butuh waktu lebih lama. Minimal selama empat hari. Kendati begitu, Usnul tertantang untuk berkreasi.
”Tapi mau dilihat dulu, layak jual atau tidak,” jelasnya.

Di dapur pencelupan, Usnul mengerjakannya sendiri. Namun, dia tak jarang meminta bantuan dua karyawannya bila ada pesanan menumpuk. Untuk jahit, dia meminta bantuan mendesain kreasi baju Korea.
Dari mana saja pemesannya? Mayoritas dari luar Jogjakarta. Mereka dari berbagai daerah di Indonesia. Seperti Bandung, Jakarta. Makassar, bahkan Papua.

”Mungkin masyarakat di sana lebih konsumtif. Jadi permintaannya cukup tinggi,” ungkapnya.
Dari pencermatannya, baju korea ala Indonesia ini banyak diminati anak muda dan ibu-ibu muda. Dari usaha ini, Usnul bisa meraup omzet hingga Rp 5 juta hingga Rp 7 juta. “Untung bersih bisa 50 persen dari omzet tersebut,” sebutnya. (zam/mg1)