GUNUNGKIDUL – Keterbatasan anggaran lagi-lagi menghambat kinerja Pemkab Gunungkidul. Yang terbaru, ada 30 persen kawasan wisata pantai yang belum tergarap. Salah satu akibatnya hingga sekarang kawasan wisata tersebut belum dipungut retribusi. Padahal, potensi kawasan ini tak kalah dibanding objek wisata (obwis) serupa yang telah mashur di Bumi Handayani.

”Hingga sekarang belum ada fasilitas yang diberikan,” jelas Sekretaris Dinas Pariwisata (Dispar) Gunungkidul Hari Sukmono saat dihubungi, Minggu (12/8).
Hari menyebut panjang garis pantai Gunungkidul mencapai 72 kilometer. Membentang mulai Kecamatan Purwosari hingga Girisubo. Nah, beberapa titik obwis pantai dipetakan berdasar kawasan. Bukan spot. Karena itu, penataan 30 persen calon obwis pantai baru ini mengacu kawasan. Seperti obwis pantai mulai kawasan Pantai Baron hingga Pantai Pok Tunggal.

”Saat ini ada lima kawasan obwis pantai yang telah ditata dan ditarik retribusi,” sebutnya.
Kendati belum memberikan fasilitas, Hari menekankan bahwa instansinya tak menutup mata dengan potensi ini. Dari itu, dispar saat ini memprioritaskan pengembangan sumber daya manusia (SDM). Caranya dengan membangun komunitas dan pengelola sekitar obwis. Sebab, tidak sedikit kawasan obwis yang belum tersentuh ini telah diminati wisatawan. Seringnya wisatawan datang untuk kamping.

”Nah, wisatawan harus tetap menjaga ketertiban dan kebersihan lokasi. Seringnya mereka membakar api unggun,” ungkapnya.
Kepala Dispar Gunungkidul Esti Wijayanti mengungkapkan hal senada. Menurutnya, keterbatasan anggaran sementara ini disiasati dengan pengembangan obwis berbasis komunitas. Tidak hanya dengan membentuk komunitas dan pengelola. Lebih dari itu, juga membina desa wisata. Sebab, strategi ini efektif untuk pengembangan industri wisata.

”Karena memiliki kekuatan kearifan lokal,” ujarnya.
Sebagaimana diketahui, pemkab juga bergantung kepada Kementerian Pariwisata. Terutama terkait penyusunan masterplan kawasan wisata pantai. Itu akibat minimnya ketersediaan anggaran. (gun/zam/mg1)