SUPER PADAT: Suasana Masjidil Haram diambil dari lantai empat, dua hari menjelang puncak haji tahun 2011 silam. (foto Bahari)

Banyak jalan menuju Makkah untuk menunaikan haji. Salah satu modusnya, masuk Makkah menggunakan visa umrah. Lalu bertahan sampai bulan haji. Di kalangan travel mereka dijuluki visa sandal jepit. Ada pakai visa kerja. Setelah kedaluwarsa, paspor dibuang sampai datangnya bulan haji. Sedangkan TKI Arab Saudi di luar kota Makkah bisa mengggunakan jasa muasyasah untuk naik haji. Ingin lebih murah menyewa mobil orang Arab, lewat gunung masuk kota Makkah secara ilegal. Tapi, risiko ditabrak mobil patrol tentara kalau berpapasan.

BAHARI-Makkah, Arab

RABU (2/10/2011) dinihari itu suasana Masjidil Haram, Makkah beberapa hari menjelang prosesi haji super padat. Ratusan ribu bahkan jutaaan calon jamaah haji seluruh dunia tumplek blek di masjid tertua di dunia. Ada yang tawaf, sai, salat tahajud, itikaf, baca Alquran bahkan sebagain tidur di serambi, lorong maupun halaman masjid.

Kalau diperhatikan lebih saksama, sebagian jamaah khususnya yang tidur di luar masjid banyak membawa kopor, ransel maupun tas besar. Mereka tidur di sembarang tempat di halaman masjid. Barang digeletakan begitu saja di samping tidur mereka.

(foto: Bahari)

Dari tubuh, warna kulit, maupun pakaian yang dikenakan para jamaah tadi paling banyak berasal dari Afrika, seperti Somalia, Chad, Nigeria, dan negara Islam Afrika lainnya. Juga warga Mesir yang jaraknya paling dekat Saudi Arabia. Naik kapal, menyeberang laut Merah beberapa jam sudah tiba di Jeddah.

Mereka ini umumnya hanya mengenakan visa umrah. Tapi, setelah sampai Makkah tidak balik lagi ke negaranya. Tapi, menunggu sampai bulan haji. Juga ada dari India, Pakistan, Bangladesh dan beberapa negara Islam lainnya.

Bahkan saya lihat dari Indonesia juga banyak. Ada sepasang pria dan perempuan Indonesia bawa tas besar tidur kelekaran di halaman Masjidil Haram bersama ratusan jamaah lainnya. Mereka tidak memperdulikan dinginnnya malam.

”Kalau bawa tas besar tidur di masjid dilarang petugas. Tapi, kalau tidur tidak membawa tas ya, boleh saja,” kata Ustad Muzzaky, salah satu pembimbing jamaah haji.

Banyak sebutan untuk calon jamaah haji model satu ini. Ada yang menyebut haji backpacker, haji koboy, haji bonek dan sebutan miring lainnya. Mereka ini datang ke Makkah umumnya secara perorangan. Kalau pun berkelompok tidak lebih 5 orang.

Mereka tidak menginap di hotel, apartemen, guest house atau pemondokan. Tapi, mereka tidur di sembarang tempat. Khususnya di sekitar halaman Masjidil Haram. Jumlahnya tak hanya ratusan tapi ribuan bahkan puluhan ribu.
Hampir di semua tempat di luar masjid ada jamaah model begini. Bahkan di sekitar hotel dan pertokoan dekat Masjidil Haram juga banyak dijumpai. Namun kehadiran mereka sama sekali tidak mengganggu calon jamaah haji lainnya.

Paling-paling yang terganggu hanya petugas cleaning service Masjidil Haram yang bekerja 24 jam nonstop. Saat menjalankan tugasnya membersihan lantai, mesin pembersih meraung-raung keras.

Tujuannya, agar jamaah haji backpacker yang tidur di lantai segera bangun. Cara itu terbukti efektif. Jamaah langsung bangun dan mengemasi barangnya lalu pindah ke tempat belum dibersihkan. Sebaliknya, ada yang dablek. Tidak terganggu suara mesin pembersih lantai meski suaranya sangat berisik.

Mengatasi itu, petugas tak kekurangan akal. Mesin terus dinyalakan, meraung-raung. Cukup lama. Bahkan penulis lihat jaraknya hanya beberapa inci. Akhirnya, calon haji backpacker tadi bangun dan pindah.

Soal makan? Tidak ada masalah. Banyak rumah makan, restoran dan warung siap saji ada di sekitar pusat perbelanjaan di sekitar Masjidil Haram. Makanan apa saja tersedia di sini. Makanan Arab, Eropa, India, Asia dan makanan Indonesia a tersedia di ribuan restoran. Tinggal bungkus dan bayar.

Soal mandi, calon haji backpacker banyak menggunakan ribuan toilet yang tersebar di sekitar Masjidil Haram. Bahkan mereka kadang mencuci pakaian ihram.

Terlihat saat pagi sekitar pukul 09.00 beberapa jamaah haji menjemur pakaian ihram mereka di halaman masjid. Hanya beberapa puluh menit dibeber akan kering sendiri karena sengatan matahari cukup tarik dan udara kering.

Menurut Ustad Idris salah satu pembimbing haji di Makkah, jamaah yang tidur sambil membawa koper atau tas di halaman masjid umumnya haji resmi. Artinya, mereka juga mengantongi visa haji dari negara asal mereka.

Hanya untuk mengirit biaya selama menunaikan ibadah haji, mereka memilih tidak menginap di hotel, gues house atau pemondokan. Tapi, memilih tidur di masjid. Selain ngirit, mereka tidak perlu repot-repot naik taksi atau angkutan umum. Jadi, bisa mengirit biaya. ”Kebiasaaan jamaah haji ini sudah hal biasa di Makkah,” terangnya.

Namun demikian tambah Bahar, TKI yang sudah tiga tahun bermukim di Makkah, tidak sedikit dari calon jamaah haji yang tidur di halaman Masjidil Haram memang ilegal.

TIDUR DI JALANAN: Jamaah haji back packer kian membeludak saat di Mina. Sambil menunggu lempar jumrah mereka pilih tidur dekat tempat lempar jumrah agar praktis. (Foto Bahari)

Mereka datang dengan visa umrah menjelang Ramadan, lalu bertahan di Makkah sampai datangnya bulan haji. Untuk bisa bertahan hidup selama menunggu bulan haji, mereka hidup serba ngirit, tidur di masjid, sebagaian bekerja apa saja menyambung hidup. ”Mereka berasal dari mancanegara. Termasuk Indonesia. Paling banyak dari Afrika,” kata Bahar.
Banyak juga jamaah haji model begini yang benar-benar ilegal. Mereka nekat datang ke Saudi Arabia dengan visa bekerja. Tapi, setelah mati paspor dibuang lalu hidup ”menggelandang” tanpa indentitas. Mereka umumnya memilih di bertahan di Masjidil Haram sambil menunggu datangnya bulan haji.

”Tempat ini (Masjidil Haram) paling aman bagi pendatang ilegal,” ujar Udin, TKI yang sudah bermukim tiga tahun di Saudi Arabia.

Di kalangan agen travel pemilik visa model begini disebut visa sandal jepit. Artinya, travel sebenarnya tahu kalau pemegang visa umroh ini tidak akan kembali ke negaranya. Tapi, sesampainya di Saudi Arabia akan bekerja secara illegal.

Apa tidak dirazia polisi? Sering. Tapi mereka punya cara tersendiri menghindari razia polisi. Bahkan pendatang ilegal khusus dari Afrika berani melawan polisi saat dirazia.

Itu karena ada warga Arab Saudi keturunan Afrika yang melindungi mereka dari razia polisi. ”Solidaritas mereka dari sesama dari Afrika sangat besar,” tutur Udin.

Banyak jalan menuju Roma. Begitu juga masuk ke Makkah untuk menunaikan ibadah haji. Baik yang legal maupun ilegal. Cara legal teraman bagi TKI yang bekerja di Saudi Arabia naik haji ya melalui travel atau di Saudi Arabia disebut Muasyasyah.

Dengan membayar sekitar 2.500 real atau sekitar Rp 7 juta. Seorang TKI sudah bisa menunaikan ibadah haji lewat travel ini. Semua dokumen, penginapan, makan selama ibadah haji diurus travel.

Bahkan seorang majikan Arab Saudi bisa menitipkan PRT-nya pada muasyasyah jika hendak naik haji. ”Kalau PRT hilang atau bermasalah pengurus Muasyasyah bisa dituntut bahkan ditutup karena dianggap lalai,” ujar Udin.

Tapi, cara haji lewat travel atau Muasyasyah oleh sebagaian TKI dianggap terlalu mahal. Sebagai gantinya, para TKI yang bekerja di Saudi Arabia tapi luar kota Makkah masuk secara ilegal ke Makkah waktu ideal menjelang atau bahkan saat sudah dinyatakan Makkah ditutup. Salah satunya, menyewa mobil warga lokal Arab.

Caranya, begitu satu kilometer menjelang chek point terakhir kota Makkah, mereka turun dari kendaraan lalu berjalan kaki memutari gunung lalu menyeberang masuk kota Makkah. Setelah melewati chek point mereka lalu naik kendaraan menuju kota Makkah. Begitu masuk kota Makkah akan merdeka. Bebas layaknya jamaah haji seluruh dunia.

Bahkan untuk bisa masuk Makkah menjelang bulan haji, tak sedikit TKI menggunakan bantuan oknum warga Arab agar bisa memasuki kota Makkah dengan imbalan tertentu.

Caranya, mereka akan dibawa warga lokal dengan mobil melewati jalan tikus di daerah pegunungan sekitar Jeddah dan Makkah agar bisa masuk Makkah. Biasanya satu rombongan minimal 4 orang. Masing-masing ditarik 500 real atau sekitar Rp 1,5 juta. Resikonya, kalau berpapasan dengan mobil patroli tentara di gunung akan ditabrak. Tanpa kompromi. Ini sangat berbahaya.

Cara lainya, beberapa calon jamaah haji ilegal dibawa dengan mobil. Begitu mendekati chek point, mereka disembunyikan di bawah jok mobil. Ini spekulasi karena pemeriksaan di chek point sifatnya acak.

Kalau tidak diperiksa bisa lolos. Sebaliknya kalau pas diperiksa juga untung-untungan. Karena begitu banyaknya kendaraan yang melintas petugas biasanya hanya melongok dalam mobil. Kalau itu yang terjadi bisa lolos. Sebaliknya, kalau diperika teliti kemungkinan tertangkap.

Seorang mukimin, TKI yang sudah lama tinggal di Arab membisikan pada saya, tak sedikit warga lokal yang membawa calon jamaah haji ilegal tadi punya kenalan dengan oknum petugas di chek point.

Mereka tinggal mengontak dan harus lewat jalur berapa saat pemeriksaan. Begitu sampai di chek point oknum warga Arab tadi akan pembawa calon jamaah haji ilegal lewat jalur yang disepakati. Petugas pura-pura memeriksa. Selanjutnya, jamaah haji ilegal tadi pun lolos.

Dalam setiap musim haji, sedikitnya seribuan TKI menggunakan cara ilegal itu untuk bisa naik haji. Umumnya mereka berasal dari Madura, NTB dan Kalsel, Banjarmasin. Itu belum temasuk TKI negara lain di Saudi yang menggunakan cara yang sama untuk masuk Makkah. Jumlahnya bahkan jauh lebih banyak.

Guna menangkal masuknya calon jamah haji ilegal, pemerintah Kerajaan Saudi memberlakukan aturan keras bagi warganya. Jika terbukti mengangkut, memfasilitasi calon jamah haji ilegal warga asing masuk Makkah hukumanya cukup berat. Maksimal kurungan penjara dua tahun dan denda sekitar 200 ribu real atau sekitar Rp 500 juta.

Tapi, sebaliknya juga banyak jamaah haji Indonesia yang menggunakan visa ziarah atau berkunjung ke Makkah. Jadi bukan visa haji. Risikonya, mereka tidak dapat tempat pemondokan dan hidup keleleran seperti yang banyak dijumpai masjid maupun di kawasan Mina.

Pemilik visa kunjungan juga berisiko ditangkap polisi setelah usai musim haji. Sudah menjadi kebiasaan polisi Saudi Arabia akan menggelar razia besar-besaran usai musim haji. Tujuannya, menjaring warga asing yang amsuki Makkah secara ilegal.

Mereka akan menyisir rumah-rumah penampungan warga setempat dipingiran kota yang biasanya digunakan menampung pendatang ilegal. ”Kalau tertangkap bisa masuk penjara lalu dideportasi,” ujar seorang pembimbing haji.

Cara haji backpacker, jelas Ustad Muzzaky, sebenarnya sudah lama ada. Bahkan semasa jaman Nabi Muhammad masih hidup pun haji backpacker sudah ada.
Yang memelopori warga Yaman yang negaranya berbatasan langsung dengan Saudi Arabia. Para jamaah haji saat itu menunaikan ibadah haji dengan penuh keprihatinan.

Mereka melakukan perjalanan haji berhari-hari, berminggu-minggu dari negaranya Yaman menuju Makkah. Jika kemalaman mereka menginap di masjid-masjid yang dilaluinya.

Untuk memenuhi hidup selama perjalanan, sebagaian jamaah menyambi berdagang, yang lain dalam perjalanan menyempatkan sambil bekerja.

Haji demikian yang dianggap haji yang benar karena penuh keprihatinan. ”Haji bukanya malah jor-joran dalam hal penampilan dan fasilitas. Sebaliknya, hidup penuh keprihatinan dan merendahkan diri di hadapan Allah. Itu haji yang sesungguhnya,” tambah Ustad Muzzaky. (Bahari/Bersambung)

SEMANGAT: Bahari di komplek Masjidil Haram. Makkah, usai salat wajib. (foto Dok Bahari)