Jumlah populasi keong emas yang begitu banyak di persawahan Kulonprogo dirasa cukup meresahkan petani. Sebab keong merupakan hama di lahan pertanian. Keresahan petani ini ditangkap oleh dua siswi SMAN 2 Wates. Di tangan mereka keong menjadi sajian kuliner baru. Tapi, bukan untuk manusia ya. Lantas untuk siapa?

LATIFA NURINA, Sleman

ADALAH Aida Nur dan Adisa Rasti yang menyalurkan keresahan terhadap hama keong menjadi sebuah kreativitas. Keong-keong emas tersebut disulap menjadi makanan bergizi untuk hewan kesayangan banyak orang, kucing.

Selama satu bulan, dua siswi berjilbab ini melakukan penelitian di kampung tempatnya tinggal di Kulonprogo. Mereka prihatin dengan banyaknya keong emas di sawah yang hanya dibuang dan menjadi bangkai hama. Padahal, keong tersebut dapat dimanfaatkan jika diolah dengan tepat.

”Menjadi pakan kucing misalnya. Karena di dalam tubuh keong ada protein, lemak, karbohidrat, dan fosfor,” ungkap Aida saat ditemui Radar Jogja di sebuah pameran penelitian tingkat SMA belum lama ini.

Sebelumnya, penelitian kandungan gizi dilakukan di laboratorium. Kurang lebih selama satu minggu pengujian. ”Hasilnya, kandungannya sesuai untuk memenuhi kebutuhan gizi kucing, kandungan serat, lemak, air, dan proteinnya cocok,” jelasnya.

Metode yang dilakukan adalah metode eksperimen. Keong yang telah dikumpulkan, ditempatkan di ember berisi air dan didiamkan selama satu sampai dua hari. Air dicampur kapur sirih agar lendir keluar. ”Direndam juga untuk memisahkan kotorannya,” tambah Adisa.

Sedangkan untuk proses pengolahannya, Aida menjelaskan, pertama keong dilepaskan dari cangkangnya dengan direndam di air panas. Kemudian daging keong direbus selama satu jam, untuk memastikan kuman yang menempel telah mati. Seperti membuat bakso, daging dihaluskan dan dicampur tepung terigu hingga membentuk adonan.

”Adonan lalu dicetak, dioven, baru diolesi vitamin kucing,” ujarnya.

Namun, oven yang digunakan bukanlah oven yang biasa digunakan untuk memasak kue, melainkan oven laboratorium. Satu kilogram keong, bisa menghasilkan dua kilogram pakan kucing. Dengan lama produksi hanya satu sampai dua hari.

Mereka juga menguji coba hasil kreasi mereka kepada kucing-kucing jenis lokal dan ras. ”Mereka suka, kami tambah campuran ikan pindang sedikit untuk menguatkan bau amisnya,” ujar Aida.

Ke depannya, mereka akan membandingkan produknya yang diberi judul Keong Pakan Kucing (KPK) ini dengan pakan kucing yang ada di pasaran. Mereka berharap produk ini bisa dimuat lebih banyak dan dipasarkan. (ila/mg1)