PERCONTOHAN: Bank Sampah Dusun Pendulan menjadi pionir di Desa Sumberagung, Moyudan, Sleman yang diadopsi desa-desa sekitarnya. (SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA)
HIJAU: Suasana Dusun Pendulan terjaga keasriannya karena masih tumbuh banyak pohon. Tingginya kesadaran warga itu sering menjadi objek studi banding. (SETIAKY A. KUSUMA/RADAR JOGJA)

Dusun Pedulan menjadi dipilih Pemerintah Kabupaten Sleman menjadi pusat peringatan Hari Lingkungan Hidup (HLH) Sedunia tingkat Kabupaten Sleman. Dalam acara tersebut, Bupati Sleman Sri Purnomo kembali mengingatkan warga untuk dapat mengendalikan sampah plastik. Hal itu agar permukaan bumi tidak banyak sampah plastik. “Karena sampah plastik tidak bisa diurai,” kata bupati di depan peserta peringatan HLH Sedunia pada (8/8).

Sri Purnomo mengapresiasi tingginya kesadaran warga Pendulan. Bupati dua periode itu mengkritisi kerapnya orang buang sampah sembarangan. Contohnya seperti saat naik mobil. Orang cuek saja buang sampah dari jendela mobil. “Beli mobil mampu, tapi kurang berbudaya,” sesalnya.

Beruntung, di Pendulan warga sudah sadar dan bisa mengelola sampahnya. Dipilah untuk dijual dan dijadikan kerajinan. Tidak hanya itu, jika ada pengolahan sampah, tanahnya subur. Pupuk organik untuk memupuk tanaman, sehingga hasilnya tanaman subur. Upaya yang dilakukan di Pendulan, dia berharap bisa menyebar ke seluruh wilayah. Utamanya di Kabupaten Sleman.

Dia mengatakan, volume sampah di Sleman mencapai 15.239,85 meter kubik dalam satu bulan. Per hari 508 meter kubik sampah dihasilkan dari rumah tangga warga. Jika terus bertambah maka lambat laun tempat pembuangan sampah akhir tidak akan mampu menampung. “Sehingga didorong untuk pengelolaan sampah mandiri,” tuturnya.

Ini membutuhkan partisipasi semua pihak. Pengelolaan sampah mandiri dapat menekan volume sampah plastik. “Semoga keseimbangan terjaga, hidup sehat berkarya dengan baik,” harap bupati kelahiran Klaten ini. (riz/mg1)