ANGGUN: Sebagian karya Affifah M Dewi selaku desainer Sogan Batik yang dibawa menuju event Modest Fashion Australia 2018 bulan ini di Perth, Australia. (SETIAKY A KUSUMA/RADAR JOGJA)

Sogan Batik mendapat kesempatan untuk menuju event Modest Fashion Australia 2018 bulan ini di Perth, Australia. Affifah M Dewi selaku desainer dan pemiliknya, memamerkan karya yang menceritakan sejarah Islam di Australia. Karyanya dikemas dalam koleksi Koelonoewon Perth.

Material utama yang digunakan dalam koleksi Koelonoewon Perth ini menggunakan katun dan kain Bemberg Indonesia yang terbuat dari serat cupro. Dengan motif dari batik tulis, batik cap dominasi warna cokelat, hitam, dan merah. “Bentuknya blazer, maxi dress, loose blouse, long coat, sarong, palazzo,” tuturnya.

Sogan Batik ingin mengenalkan keindahan bimbingan moral dalam Islam sesuai Alquran. “Dalam satu desain, kami mengilustrasikan bahwa kaum muslim sama sekali tidak memiliki kaitan dengan tindakan terorisme seperti yang mereka sangka,” jelas Ifa, sapaannya.

Nama-nama koleksinya yang diterbangkan ke Australia kali ini di antaranya Nustralian Loose Tops (Nusantara-Australia), Nelayan_dress, The Macassans Blazer, Marege Saroong, Majapahit Loose Tops, Shahadah Saroong, Boomerang Caftan, Fraction Tunic, Sama Longcoat, dan Rejodani Dress. “Ada kisah desa kecil di Indonesia tempat kami tinggal, Rejodani,” tambahnya.

Iffa mencoba bertahan di industri fesyen dan batik untuk menambah lapangan pekerjaan. Baginya, batik bisa menjadi media untuk menyampaikan pesan-pesan historis dan kearifan lokal yang menjadi identitas bangsa Indonesia. Dengan desain bergaya etnik kasual, Iffa menyasar muslimah usia 25-45 tahun. “Setiap langkah produksi batik dimulai dari desain, pola, pencetakan, pewarnaan, dan penjahitan yang selalu disertai dzikir. Oleh karena itu, Sogan menyebut kebiasaan ini sebagai “Batik berdzikir”. (tif/din/mg1)