(FOTO: BAHARI)
SUBUH pada 1 November 2011 penulis bisa masuk Jeddah, Arab Saudi, setelah melalui perjuangan “hidup mati” melintasi belasan negara. Seperti Malaysia, Thailand, Myanmar, Laos, Kamboja, Vietnam, China, Tibet, Nepal, India, Pakistan, Oman, dan Saudi Arabia. Beruntung penulis bisa menginjakkan kaki di Jeddah beberapa jam sebelum kota ini ditutup dari kedatangan jamaah haji.
Suasana Bandara King Abdul Aziz Internasional Airport (KAAIA) Jeddah, Saudi Arabia, Selasa (1/11/2011) dini hari sangat ramai. Puluhan ribu calon jamaah haji dari seluruh dunia terus berdatangan. Umumnya mengenakan pakaian ihram. Hanya sebagian kecil jamaah mengenakan pakaian biasa.

Termasuk penulis yang hanya mengenakan kemeja koko dan celana jeans. Itu karena penulis memang tidak membawa baju ihram meski bergabung bersama jamaah haji asal Oman.

Penampilan penulis sempat diprotes seorang jamaah haji Oman. Sebab, semua jamaah asal Oman dini hari itu mengenakan pakaian ihram. Sambil geleng-geleng kepala jamaah haji Oman tadi menunjuk celana jeans yang penulis kenakan. ‘’La..la (tidak baik),’’ katanya sambil mengibaskan tanganya.
Penulis lantas menjelaskan kalau saat itu tidak membawa baju ihram. Sesampainya di Jeddah nanti penulis akan mengenakan pakaian ihram. Entah paham atau tidak, jamaah tadi diam dan manggut-manggut.

Begitu sampai terminal haji Jeddah sebagai pintu kedatangan haji seluruh dunia, biasa disebut demikian karena hanya dibuka saat musim haji, penumpang diseleksi petugas. Yang punya visa haji dikelompokkan jadi satu. Sedangkan penumpang pesawat umum dipisahkan dan diarahkan menuju pintu keluar bandara.

Semula penulis dimasukkan dalam kelompok penumpang pesawat umum. Tapi, penulis lantas disuruh bertahan di bus. Itu setelah penulis beritahu akan berhaji dengan menunjukkan visa haji.

Selanjutnya, penumpang mengenakan baju ihram rombongan dari Muscat, Oman tadi diminta kembali masuk ke dalam bus.

Bus bergerak ke ruangan khusus pemeriksaan calon jamaah haji. Di sana sudah ada ribuan jamaah dari penjuru dunia yang juga menunggu antrean pemeriksaan imigrasi. Di sini calon haji mengisi semacam formulir berisi indentitas.

Guna mempercepat proses pemeriksaan, jamaah dibagi berdasarkan asal negara atau kelompok terbang. Misalnya, kelompok terbang calon haji dari Muscat, Oman. Mereka diperiksa secara berkelompok. Jadi, yang mengantre hanya calon jamaah haji dari Oman. Setelah selesai giliran calon haji negara lain diperiksa. Begitu seterusnya.

Karena jumlah calon jamaah cukup banyak, antrean mengular tetap tak terhidnarkan. Beruntung loket yang dibuka cukup banyak, sehingga memudahkan proses pemeriksaan. Meski dari Indonesia, penulis masuk Jeddah melalui Muscat, Oman. Jadi, saat diperiksa petugas imigrasi, penulis dikelompokkan dalam calon jamaah haji dari Oman.

Tapi, giliran akan ditempeli striker, petugas haji Saudi Arabia tadi kebingungan karena harus mencari konter khusus imigrasi yang mengurusi jamaah asal Indonesia. Jadinya, penulis harus menunggu sekitar setengah jam baru kelar.
Beruntung ada jamaah haji asal Nigeria bersama penulis sejak dari Muscat, Oman. Dia sangat membantu karena cukup fasih berbahasa Arab. Pria tinggi besar itu mengaku sudah berhaji lima kali dan umrah 10 kali. Dia menjelaskan kepada petugas imigrasi Saudi Arabia bahwa penulis melakukan haji darat dari Indonesia. Melewati belasan negara sampai akhirnya tiba di Jeddah. ‘’Hajj.. overland from Indonesia,’’ tutur pria Nigeria tadi kepada setiap petugas imigrasi Saudi Arabia.

Petugas Saudi Arabia yang umumnya berusia muda itu menaruh respek tinggi dan memberi salam kepada penulis . Setelah itu penulis dan pria Nigeria tadi sedikit diistiimewakan dan dipercepat proses ke pengurusan imigrasi hingga tuntas. Padahal, rombongan jamaah haji Oman masih mengantre di belakang. Untung mereka tidak protes.

Setelah semua proses imigrasi selesai, pria Nigeria tadi menawari penulis naik taksi bersama ke Makkah. Tapi, karena penulis harus menunggu petugas Travel Umrah – Haji Shafira, dengan berat hati penulis tidak pergi bersama pria Nigeria tadi ke Makkah. Kami pun berpelukan dan penulis mengucapkan banyak terima kasih pada pria Nigeria tadi yang sudah banyak membantu memperlancar proses keimigrasian.

Setelah itu, penulis dibantu Awad, petugas airport travel Shafira, untuk mengurusi kendaraan ke Makkah.

Karena masih dini hari, penulis, Awad, dan rekannya, Adnan, memilih santai dulu di bandara Jeddah sambil menunggu calon jamah haji asal Indonesia lainnya datang. Itu karena kelompok ONH plus Shafira sudah berangkat lebih dulu ke Makkah. Penulis pun menunggu dinunutkan (diikutkan) kelompok haji lain sama-sama menuju Makkah.

Waktu menunggu, penulis gunakan untuk mandi. Di dalam bandara disediakan banyak kamar mandi bagi calon jamaah haji yang bermiqod di Jeddah atau berniat ihram umrah sebagai rangkaian haji tamattu. Penulis pun baru mengenakan ihram di bandara ini. Pakaian ihram maupun sandal sudah disiapkan Awad.

Pagi itu gelombang calon haji terus berdatangan di bandara Jeddah. Termasuk jamaah haji asal Indonesia. Setelah melalui proses pemeriksaan imigrasi, calon jamaah mendatangi tempat pemberangkatan bus. Setiap kelompok didata dan dicatat petugas traspotasi.

Namun giliran hendak naik bus prosesnya sangat lama. Menunggu hampir tiga jam. Mulai pukul 06.00. Bus baru berangkat pukul 09.00 menuju Makkah.
Itu karena petugas transpotasi harus mengumpulkan lebih dulu paspor setiap calon jamaah haji. Setelah dicek penumpang boleh masuk. Nah, meski penumpang sudah berada di bus, barang bawaan tak segera dinaikkan. Ini yang membuat proses keberangkatan bus lebih lama lagi.

Baru dua jam kemudian barang dinaikkan. Karena barang bawaan calon haji sangat banyak, perlu waktu satu jam menaikkan barang lalu mengikatnya.
Alamak! Bus yang kami tumpangi melaju lamban karena sudah uzur. Sering saat melaju atau gigi persneling dimasukan lebih banyak, terdengar suara geregeg..geregeg. Bus bukannya tambah cepat saat persneling gigi dinaikkan, tapi malah melambat.

Jadinya, selama perjalanan Jeddah-Makkah selain bus berjalan lamban juga kerap disalip kendaraan lain. Kendati demikian tidak ada penumpang atau calon jamah haji ngedumel atau protes. ‘’Harusnya bus sudah masuk museum,’’ protes penulis. ‘’Sabar Pak, ini ujian bagi mereka yang haji,’’ kata penumpang di sebelah penulis.

Kabarnya bus-bus tua seperti yang penulis tumpangi hanya beroperasi saat musim haji. Selain itu hanya diparkir di garasi-garasi perusahaan bus. Bukan di tempat tertutup, tapi area terbuka yang terpapar matahari dan debu gurun pasir.

Selanjutnya, karena permintaan akan transpotasi sangat tinggi di musim haji, bus-bus yang sudah uzur tadi pun dioperasikan.

Sepanjang perjalanan Jeddah-Makah banyak pos cek pemeriksaan alias chek point. Bahkan baru keluar 100 meter dari area bandara sudah diperiksa polisi dan tentara bersenjata. Tapi, karena ada striker khusus angkutan jamaah haji, pemerikasaan bus tidak lama. Hanya dilihat petugas lalu diperbolehkan jalan.
Tapi, tidak bagi kendaraan lain. Bisa dicurigai mengangkut penumpang atau calon jamaah haji ilegal. Kendaraan pribadi diperiksa cukup lama. Setelah sopir bisa menujukkan surat-surat lengkap, kendaraan boleh melintas. ‘’Hari-hari ini pemeriksaan sangat ketat. Apalagi, beberapa jam lagi Makkah akan ditutup bagi semua kendaran dan warga umum yang tidak mengantongi visa haji,’’ kata salah seorang petugas haji Indonesia di Jeddah.

Pemeriksaan atau chek point terakhir sekitar 23 kilometer menjelang memasuki Makkah. Semua kendaraan yang melintas diperiksa ketat, bagasi dibuka. Tapi, bus dengan striker khusus yang mengangkut calon jamaah haji boleh melintas tanpa ditanya ini itu. Sekitar pukul 12.30 bus sampai di Makkah setelah sekitar 3,5 jam perjalanan. Selain bus berjalan pelan, jalanan antara Jeddah-Makkah juga padat karena banyak kendaraan calon jamaah haji berbondong-bondong menuju Makkah.

Rasanya hati ini plong begitu masuk Makkah. Sebab, sebelumnya tidak ada kepastian apakah penulis bisa masuk Jeddah sesuai tenggat waktu sebelum pintu kedatangan Jeddah ditutup bagi jamaah haji. Bersyukur, penulis bisa masuk Jeddah pada last minute. Masuk Jeddah pada Subuh, sedangkan sore harinya pukul 15.00 Bandara King Abdul Aziz Internasional Airport (KAAIA) Jeddah, Saudi Arabia, ditutup bagi jamaah haji seluruh dunia.

Beberapa teman Jawa Pos yang juga berangkat haji seperti Rudi di bagian IT, Zamroji (pra cetak), dan Dwi Fintarto (redaktur halaman Jawa Timur) yang lebih dulu sampai di Makkah langsung kirim SMS. Mereka mengaku ikut senang. Selama di Tanah Suci penulis bergabung dengan kelompok jamaah haji Shafira. Alhamdulillah, akhirnya Allah membukakan rumah-NYA untuk penulis. (yog/bersambung)

DISAMBANGI: Dwi Fintarto (kiri) rekan Jawa Pos mendatangi Maktab 17 tempat penulis menginap di Mina saat haji 2011. (Foto Dok Bahari)
KETEMU DI JUMARAT: Saat lempar jumrah ketemu Mas Rudy IT Jawa Pos yang haji bersama keluarganya tahun 2011. (Foto Dok Bahari)