JOGJA – Jelang Idul Adha transaksi hewan kurban terus menunjukkan peningkatan. Seiring tingginya permintaan konsumen, harga sapi dan kambing pun ikut melonjak. Di Pasar Hewan Ambarketawang, Gamping, Sleman, misalnya. Kenaikan harga sapi berkisar Rp 1 juta – Rp 2 juta. Sedangkan harga normalnya Rp 15 juta – Rp 20 juta. Sementara harga kambing umumnya Rp 2 juta dan naik sekitar Rp 500 ribu.

Bupati Sleman Sri Purnomo menilai, kenaikan harga hewan kurban tersebut tergolong wajar. Itu lantaran stok sapi dan kambing untuk kurban masih mencukupi. “Bahkan ada beberapa orang yang beli (sapi limousin, Red) mencapai Rp 60 juta,” ungkapnya di sela pantauan hewan kurban di Pasar Hewan Ambarketawang Jumat (11/8).

Mengingat tingginya harga hewan kurban, bupati mengimbau masyarakat jeli dan selalu melakukan survei ke beberapa tempat penjualan sebelum membeli. Bukan tidak mungkin harga hewan kurban di pasar-pasar tiban jauh lebih tinggi dibandingkan di pasar hewan.

Kepala UPT Pasar Hewan Ambarketawang Yuda Adi Nugroho menyebut, peningkatan jual beli ternak mencapai 40 persen. Sebagai gambaran, transaksi di Ambarketawang setiap hari pasaran berkisar 120-150 ekor sapi. Nah, jelang Idul Adha tahun ini penjualannya bisa mencapai 200 sapi. Sedangkan penjualan kambing tak sebanyak sapi. Hanya 10-15 ekor saja. Karena Ambarketawang memang menjadi sentra pasar sapi.

Yuda menjamin, semua hewan ternak yang masuk di Ambarketawang bebas penyakit. Setiap pasaran, kata Yuda, ada dokter khusus yang dihadirkan untuk mengecek kesehatan seluruh hewan. Kendati pengamatannya sebatas fisik saja. “Jika ada yang terlihat tidak sehat langsung kami tolak,” tegasnya.

Salah seorang penjual sapi Nuri Afandi menyatakan, kenaikan harga hewan kurban terjadi sejak seminggu belakangan ini. Soal harga, tergantung kesepakatan penjual dan pembeli. Nuri sendiri mengaku telahmenjual seekor sapinya seharga Rp 21 juta.

Sekretaris Dinas Pertanian, Pangan, dan Perikanan (DP3) Sleman Suwandi Azis mengklaim, populasi ternak di wilayahnya saat ini cukup tinggi. Yaitu 49.275 sapi, 28.480 kambing, dan 84.100 domba. “Tentu tidak semua hewan itu bisa dipakai untuk kurban. Masih ada yang berusia muda,” jelasnya.

Dari total populasi tersebut, 30 persen di antaranya merupakan pejantan. Dari persentase ini hanya 15 persen saja yang siap disembelih saat kurban.

Dalam kesempatan itu Azis mewanti-wanti masyarakat agar tidak sembarangan membuang limbah atau jeroan hewan kurban. Limbah tersebut harus dibuang di lubang khusus di dalam tanah, kemudian ditimbun lagi. “Jangan dibuang ke sungai,” pintanya.

Terpisah, Petugas Pos Lalu Lintas Ternak, Dinas Peternakan DIJ Ari Sigit Prasetya mencatat, arus masuk ternak di wilayah Jogjakarta meningkat sejak Senin (6/8) lalu. Pantauan dilakukan di pos ternak Dusun Jokolanang, Sundumartani, Ngemplak, Sleman. “Peningkatannya 30 persen. Didominasi sapi dari Jawa Tengah,” jelas Ari.

Ari menambahkan, keterbatasan jumlah personel dan jam operasional pos ternak menjadi kendala dalam pengawasan ternak. Selain itu, tak semua kendaraan pengangkut ternak melintas di depan pos pantau tersebut. “Masih banyak pedagang ternak yang nakal dan lewat jalan tikus,” ungkapnya.

Ari memastikan, petugas pos selalu mengecek surat keterangan kesehatan hewan (SKKH) seluruh hewan ternak yang diperiksa. Pelat nomor kendaraan pengangkut hewan ternak juga dicatat. Tanpa SKKH, hewan ternak dilarang masuk di wilayah DIJ. “Kami akan minta pembawa ternak mencari SKKH dulu,” tegasnya.

Sementara itu, dari pantauan di beberapa tempat penjualan ternak di Kota Jogja, petugas dinas pertanian dan pangan setempat mendapati banyak hewan kurban mengalami gangguan kesehatan minor. Terutama jenis sapi dan domba. Sebagian besar mengalami sakit mata. Selain penyakit mata, petugas juga mendapati dua ekor domba cacat kaki.

Kabid Peternakan dan Perikanan Aladrya menegaskan, hewan cacat tak layak untuk kurban. Sesuai syariat Islam, hewan cacat tidak sah untuk kurban.
Sedangkan penyakit mata yang mendominasi hewan kurban, menurut Aladrya, bisa disebabkan karena cacingan, stres, atau paparan debu selama diangkut di perjalanan. “Hewan kurban sakit wajib dikarantina di kandang tersendiri,” ingatnya di salah satu tempat penjualan hewan kurban Jalan Pramuka, Umbulharjo.

Untuk pengobatan sakit mata, jelas Aladrya, cukup dengan memberikan vitamin, salep, atau obat tetes.

Pemantauan hewan kurban terus akan dilakukan selama sepuluh hari ke depan. Hal ini guna memastikan kualitas seluruh hewan kurban di Kota Jogja layak sembelih. Kelayanan kandang dan kondisi fisik hewan juga menjadi bagian pemeriksaan petugas. “Supaya masyarakat yang membeli hewan kurban mantap,” ujar Kepala Dinas Pertanian dan Pangan Kota Jogja Sugeng Darmanto.

Selain itu, petugas juga melakukan sampling untuk pemeriksaan feses hewan kurban. Feses selanjutnya dites di laboratorium poliklinik dinas pertanian dan pangan setempat. Dari kotoran tersebut, menurut Sugeng, kondisi kesehatan hewan kurban bisa diketahui.

Mengomentari tempat penjualan hewan kurban yang dikelola Angkatan Muda Muhammadiyah Kotagede itu, Sugeng menilai sudah cukup baik. Sekitar 200 ekor domba dan lima sapi ditampung di kandang bambu beralas jerami dengan tempat makan ternak terpisah.

Sugeng berharap kepada para penjual hewan kurban lainnya untuk selalu memerhatikan kondisi kandang. Sebagaimana diatur dalam Undang-Undang Nomor 41 Tahun 2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. (har/tif/yog)