BERAGAM cara dilakukan mahasiswa Indonesia di mancanegara agar tetap eksis dan bisa menyelesaikan kuliah sampai tamat. Evi Hanafiah, mahasiswa S2 di Internasional Islamic University Islamabad (IIUI), memilih membuat tempe. Selain untuk melestarikan produk makanan asli Indonesia, sekaligus menjadi penunjang hidup dan memenuhi biaya kuliah.

Sepintas penampilan mahasiswa 28 tahun asal Tasikmalaya, Jawa Barat itu tergolong parlente. Kemana-mana dia selalu mengenakan jas hitam, dipadu celana kain. Sama sekali tak menunjukkan dia seorang pembuat tempe. ‘’Lha, itu Mas Hanafi orang yang kita bicarakan membuat tempe tadi,’’ kata seorang mahasiswa rekan Evi Hanafiah.

‘’Ya, saya sudah membuat tempe sejak lama. Itu ilmu warisan dari mahasiswa senior sebelumnya yang juga membuat tempe selama kuliah di Islamabad,’’ aku Hanafiah selepas menunaikan salat Ashar.

Hanafi mengaku tertarik mengembangkan usaha tempe untuk mengasah jiwa wirausahanya. Juga untuk menunjang kebutuhan dana kuliahnya selama di Pakistan. ‘’Ada uang kiriman dari kampung tapi pas-pasan. Makanya, harus cari tambahan uang,’’ ujarnya.

Kebetulan saat itu ada kakak kelasnya di IIUI. Namanya, Masturi Istampe. Dia dikenal jago membuat tempe. Hanafi pun belajar cara membuat tempe dari seniornya itu. ‘’Ya, mungkin sekitar satu sampai dua bulan,’’ katanya. Saat itu kuliahnya sudah menginjak tahun keempat. Sebentar lagi selesai kuliah S1-nya di Jurusan Hadis IIUI. Sampai kini Hanafi yang akan menyelesaikan S2 juga di jurusan hadis tetap menekuni pembuatan tempe.

‘’Hitung-hitung juga mengenalkan makanan khas Indonesia pada warga negara asing,’’ tambahnya.

Tapi, dirinya tidak langsung bisa membuat tempe. Sering kali hasil racikannya gagal alias tidak jadi tempe. Bisa disebabkan kebanyakan kedelai, atau ragi. Atau akibat kualitas kedelai kurang bagus. Juga bisa disebabkan pergantian cuaca secara mendadak. ‘’Semua itu menjadikan pembuatan tempe tidak bagus,’’ katanya.

Hanafi tak mau menyerah. Dia terus belajar dari seniornya, hingga bisa memproduksi tempe sendiri. Untuk membuat tempe yang bagus harus pakai kedelai dengan kualitas baik. Yakni, kedelai impor dari Tiongkok. Sedangkan raginya didatangkan dari Indonesia. Itu pun tetap perlu “dukungan” cuaca bagus. Cerah dan ada sorot matahari secara kontinyu. ‘’Hasilnya pasti bagus,’’ ujarnya.

Tempe sering tak jadi ketika musim dingin. Kalau pun jadi hasilnya kurang bagus. Belajar dari kegagalan, Hanafi pun memberi lampu penerangan layaknya ternak ayam saat membuat tempe pada musim dingin.

Maksudnya, agar suhu udara tempe saat proses peragian tidak dingin dan tetap hangat. Bila perlu tempe diselimuti saat proses pembuatannya demi menjaga suhu tetap hangat dan terjaga. ‘’Hasilnya, lumayan bagus meski musim dingin,’’ kata pria yang menamatkan Madrasah Aliyah (MA) atau setingkat SMA di Al Amien Prenduan, Sumenep, Madura.

Setiap minggu Hanafi yang dibantu beberapa rekannya sesama mahasiswa Indonesia mampu membuat tempe sekitar 15 – 20 kilogram. Hasilnya dipasarkan pada warga negara Indonesia yang ada di Islamabad. ‘’Jadi, pemasarannya dari rumah ke rumah. Tapi, tetap habis,’’ katanya.

Soal kualitas atau rasa memang cukup enak. Hampir tidak ada bedanya dengan tempe produksi Indonesia. Hal itu diungkapkan Fachrurazi, staf KBRI Pakistan yang juga berlangganan tempe buatan Hanafiah. ‘’Enak rasanya. Tidak kalah dengan tempe buatan di Indonesia. Selain harganya murah juga jadi obat kangen masakan Indonesia. Sekaligus membantu adik-adik mahasiswa,’’ ungkap Razi, sapaan Fachrurazi, kepada penulis.

Penulis yang dua kali ke Pakistan pada 2001 dan 2011, kerap disuguhi tempe buatan mahasiswa Indonesia tadi saat bersilaturahmi ke rumah warga Indonesia di Pakistan. Rasanya enak tidak kalah dengan tempe buatan di Indonesia. Meski tektur kedelai lebih besar karena import dari China. Soal rasanya, tidak beda jauh dengan tempe Indonesia.

Tempe yang diproduksi Hanafiah dikemas dalam potongan ukuran tertentu lalu dibungkus plastik. Harganya sekitar 150 rupees setiap potongannya. Atau sekitar Rp 15 ribu rupiah.’’Untungnya ya lumayan. Yang penting bisa menutupi biaya kuliah,’’ akunya.

Harga itu sesuai dengan bahan bakunya. Kalau kualitas kedelai Pakistan sebenarnya cukup bagus dengan ukuran kecil. Namun stoknya terbatas hingga kadang sulit dicari. Tapi, kualitas kedelai Tiongkok cukup bagus dengan ukuran cukup besar. ‘’Jadi, saya pilih kedelai Tiongkok karena hasilnya lebih bagus. Sedangkan raginya tetap dari Indonesia,’’ jelasnya.

Ada juga beberapa pelanggan dari beberapa negara asing, terutama ASEAN. Kadang mereka juga memesan tempe. Bahkan seorang warga Tiongkok di Islamabad tertarik cara membuat tempe lewat Ahyani Billah, istri Hanafi yang juga kuiah di IIUI. ‘’Saat disuguhi tempe yang sudah diolah dan dicampuri kecap, kata warga Tiongkok tadi, sangat enak. Dan dia tertarik mencoba mengembangkan tempe,’’ paparnya.

Sebenarnya Hanafi ingin mengembangkan usaha tempenya secara luas. Misalnya, mendirikan usaha tempe atau membuka toko makanan yang berbahan dasar tempe. Hanya karena statusnya mahasiswa, yang sedang menuntut ilmu, sulit mendapatkan izin usaha resmi. ‘’Saya hanya berproduksi tempe kecil-kecilan saja. Tidak secara terbuka,’’ akunya.

Selain Hanafi, banyak mahasiswa Indonesia lain di Islamabad yang juga punya usaha sampingan. Misalnya, membuat mie ayam, abon, dan makanan khas lainnya. ‘’Tapi, membuatnya hanya kalau ada pesanan. Atau saat ada orang Indonesia yang punya hajatan,’’ tuturnya.

Sambil menunggu istrinya menyelesaikan S2, Hanafi tinggal menungggu akhir S2-nya berencana kuliah S3. ‘’Jadi, masih lama menekuni pembuatan tempe,’’ akunya.

Yang membuat Hanafi gembira, ada beberapa mahasiswa Indonesia yang juga tertarik mengembangkan pembuatan tempe. ‘’Jadi, kalau saya pulang ke Indonesia atau cuti, pembuatan tempe tetap berlanjut. Mungkin nanti mahasiswa tadi yang mengembangkan usaha tempe di Pakistan,’’ tuturnya. (yog/bersambung)