Usianya baru menginjak 15 tahun. Kegemaran Reynald Ardian Simanjuntak di bidang robotik sukses mengantarkannya menjadi delegasi Indonesia di kancah dunia. Berikut kisah siswa SMAN 3 Jogja itu.

IWAN NURWANTO, Jogja

BERMAIN komputer menjadi hobi Reno, sapaan akrab Reynald Ardian Simanjuntak, sejak kecil. Bukan sekadar untuk main game. Reno gemar mengutak-atik software dan hardware komputer sejak duduk di bangku sekolah dasar. Tak hanya itu, remaja berkaca mata itu juga suka bermain bongkar pasang lego dan pernik-pernik mainan kesukaan anak kecil. Hal itulah yang menjadi pemantik hobi barunya, membuat robot. Apalagi sejak kecil Reno sangat menyukai film-film bertema robot, seperti Transformer.

Keinginannya dalam dunia robotik begitu tinggi. Reno pun lantas bergabung di Robotics Education Center Jogja sejak lima tahun lalu. Dari sinilah awal mula Reno menggeluti dunia robot. Baginya, sistem robotik adalah sesuatu yang sangat menyenangkan. Menyatukan banyak komponen elektrik hingga menjadi sebuah benda yang bisa bergerak.

Membuat sistem robotik bukanlah hal mudah. Namun tidak demikian bagi Reno. Karena dia menganggapnya sebagai tantangan yang harus dihadapi dan diselesaikan. Bagi Reno, setiap tantangan dianggapnya sebagai metode belajar yang menyenangkan. Demikian pula di dunia robotik. Semakin sulit tantangannya, Reno justru kian semangat untuk berimprovisasi.

Di dunia robotik Reno mendapat pengalaman dan pengetahuan lebih dalam program perangkat lunak komputer. Ini tak diperolehnya di sekolah formal.
Hingga saat ini beragam jenis robot berhasil dia ciptakan. Di antaranya, robot pencari jejak , pengangkat beban , hingga pemadam api. “Menciptakan robot baru memang sulit. Tapi ketika hasilnya sempurna, di situlah titik menyenangkannya” ujar Reno.

Bisa membuat sebuah robot tak lantas membuat Reno cepat berpuas diri. Dia terus mengasah kemampuan dengan mengikuti berbagai kompetisi kejuaraan robotik. Baik di tingkat nasional, bahkan internasional. Reno tercatat dua kali mengikuti ajang World Robot Olympiad. Di Qatar dan India. Yang membuat bangga, Reno beradu di kancah dunia itu bukan hanya mewakili diri sendiri, tapi sebagai delegasi Indonesia. “Saya tak menyangka bisa melangkah sejauh itu,” katanya.

Meski belum pernah menang melawan robot karya peserta negara lain, Reno tetap bangga. Setidaknya dia telah menunjukkan kemampuannya di kelas dunia.
Tapi di kompetisi level nasional, Reno bisa dibilang sebagai jawara. Seperti di ajang Indonesia Robot Olympiad yang sering diadakan di kota-kota besar. Reno pernah meraih juara 3 pada 2015. Bahkan setahun kemudian dia menyabet gelar juara 1 di ajang serupa.

Dari perjalanannya di dunia robot, Reno mengaku mendapatkan hikmahnya. Bahwa setiap hobi yang dijalani dengan tekun, suatu saat pasti bisa menjadi sesuatu yang bermanfaat. Bukan hanya bagi diri sendiri, tapi juga untuk orang lain. Reno berharap, ke depan semakin banyak warga Indonesia menekuni dunia robotik demi meraih manfaatnya. “Suatu saat robot pasti akan berguna bagi kehidupan manusia. Asal kita menggunakannya secara bijak,” ucapnya optimistis. (yog/fn)