KULONPROGO – Penataan sempadan Pantai Glagah hingga Pantai Congot masih sebatas rencana. Belum adanya penataan karena Pemkab Kulonprogo menganggap regulasi harus disesuaikan kondisi terakhir.
“Perda masih digodok di Dinas Pertanahan dan Tata Ruang (Dispertarung). Nasib bangunan dan tambak udang menyesuaikan dengan garis sempadan baru,” kata Sekda Kulonprogo Astungkoro Kamis (9/8).

Sempadan pantai terus berubah karena terkena gelombang tinggi. Jarak pantai dengan bangunan dan tambak semakin dekat.
Abrasi mencapai 15 meter dan memakan badan jalan penghubung Pantai Glagah dan Pantai Congot. Petambak cemas ganasnya air laut membuat abrasi makin besar.

Tambak dibuat warga menggandeng pemodal luar daerah. Pemkab sudah melayangkan dua kali surat peringatan karena tambak terletak di sempadan pantai dan tidak ada izin usaha.
Astungkara mengatakan lokasi tambak bukan peruntukan usaha tambak. Pemkab telah mengatur kawasan budidaya tambak di Pasir Mendit, Jangkaran, Temon dan Trisik.

Tambak-tambak seluas 10 hektare yang masuk sempadan pantai tersebut harus ditertibkan karena ilegal. Sempadan pantai minimal 100 meter dari titik pasang tertinggi ke arah darat.
Pada akhir 2017, Pemkab Kulonprogo melontarkan rencana penataan sempadan Pantai Glagah hingga Pantai Congot. Bangunan liar dan tambak udang ilegal akan ditertibkan.

Salah seorang petambak Supangat mengatakan dampak abrasi semakin parah. Badan jalan sisi selatan tambak nyaris putus. Aspal amblas disasar ombak. (tom/iwa/mg1)