SLEMAN – Kepala Badan Pengembangan dan Pembinaan Bahasa Kemendikbud Dadang Sunendar mengimbau kepada pemerintah daerah untuk wajib melestarikan bahasa setempat dengan berkoordinasi dengan Lembaga Kebahasaan.

“Menyadari banyak bahasa daerah di Indonesia yang belum secara penuh mendapatkan perlindungan,” ujarnya dalam Internasional Conference on Local Wisdom di UNY Kamis (9/8).

Menurutnya, perlindungan terhadap kearifan lokal seperti bahasa sudah diatur dalam UUD 1945, sehingga jangan sampai bahasa dan sastra daerah itu punah.
Dadang menyebutkan, salah satu cara untuk memelihara bahasa daerah adalah dengan penerbitan kamus pelatihan untuk anak muda.

Dia mengaku sudah mengusulkan pada renstra untuk menggiatkan perlindungan terhadap bahasa daerah tersebut, sehingga banyak penutur bahasa daerah di kalangan anak muda.

Pihaknya juga telah mendatangi wilayah Indonesia bagian timur untuk melakukan identifikasi bahasa. Di Papua misalnya, teridentifikasi sekitar 400 bahasa daerah, di Maluku dan NTT ada 34 bahasa.

“Sayangnya, meski mempunyai banyak bahasa daerah, tidak ada satupun perguruan tinggi lokal yang memiliki prodi bahasa daerah,” ungkapnya.

Melalui konferensi tersebut, Dadang berharap ada rekomendasi untuk Kemenristekdikti atau pemprov di setiap daerah di Indonesia untuk mengusulkan pembukaan prodi bahasa daerah di setiap perguruan tinggi lokal.

“Saya sudah sering menyurati Kemenristekdikti tentang masalah ini, tapi kuncinya bukan di Kemenristekdikti, namun dari rektor dan dekan, saya sangat berharap prodi bahasa daerah bisa dibuka, bisa diusulkan itu, syaratnya kan enam dosen dan lain-lain bisa membuka,” tegasnya.Sementara itu, Pengajar Bahasa Indonesia di Monash University Yacinta Kurniasih mengatakan, jika ingin menjadi pendidik bahasa lokal seperti Bahasa Jawa, terlebih dahulu harus menjadi pembelajar bahasa yang memahami secara rinci tentang Jawa dan kearifan lokalnya.

Selama mengajar di sana Yacinta juga mempelajari banyak referensi kearifan lokal yang ada di Indonesia untuk diberikan kepada mahasiswanya. Menurutnya perguruan tinggi menjadi salah satu yang paling bertanggung jawab terhadap keberhasilan muatan lokal.

“Ada beberapa penelitian tentang konten lokal kurikulum, seperti Bahasa dan Sastra Jawa. Bahkan banyak persepsi negatif, bahwa orang tua lebih memilih anaknya mengajarkan Bahasa Indonesia, daripada Bahasa Jawa,” tuturnya.

Disebutkan pada era tahun 1994-an banyak yang pesimistis Jurusan Bahasa Jawa tidak populer, alasannya karena banyak generasi muda yang tak menguasainya.
“Tetapi dalam prosesnya, jurusan ini banyak peminat, potensi Bahasa Jawa di sekolah akan lebih baik karena kebijakan pemimpin juga,” imbuh Yacinta.

Dosen sekaligus seniman Suminto A. Sayuti dalam kesempatan tersebut menyampaikan, pemahaman kearifan lokal harus terus ditingkatkan. Menurutnya, justru dari beragam kearifan lokal di berbagai daerah itulah disebut sebagai Indonesia.

Dia pun mengkritik banyak yang melupakan kearifan lokal ketika menyatakan ingin menjadi bangsa yang modern. Bahkan modern di sini kerap dimaknai sebagai nilai barat, padahal kekayaan kearifan lokal sangat besar. Karena itulah pemberdayaan lokalitas sangat penting dari berbagai daerah di Indonesia.
“Tanpa bahasa kita tidak bisa menjadi negara,” tuturnya. (ita/ila)