Priyo Utomo menunjukkan pucuk ranting bambu yang ditancapkan di tanah serta dipasang pulut nangka untuk menjebak burung di sawahnya di Baledono Dadapan, Kelurahan Baledono, Purworejo, Kamis (9/8). Hama selalu menjejali perjalanan petani penggarap sawah. Di awal tanam, wereng dan tikus jadi musuh utama. Jelang panen berganti kawanan burung yang menyerbu. Beragam cara dilakukan petani untuk menyelamatkan jerih payah mereka dari masalah itu.

BUDI AGUNG, Purworejo

Matahari baru mulai merangkak naik, Saropah, 48, warga Baledono Dadapan RT 5 RW 8 sudah harus keluar rumah menuju sawah yang berjarak kurang dari 1 kilometer. Dia tidak membawa apa-apa, selain sebuah kaleng bekas roti kecil yang tak berpenutup.

Sesampai di sawah, dia langsung bergerak. Kayu kecil yang ditemui langsung diambil dan dipukulkan cukup keras ke kaleng. Daster batik terusan agak membuatnya payah mendekati burung.

Seolah dikomando, kawanan burung segera bergegas keluar dari rimbunan padi yang mulai menguning. Burung jenis emprit itu terlalu pintar, jaring terpasang pun bisa disiasati dengan memakan padi tanpa pengaman.

Tidak lama terbang, kawanan kembali menukik turun di titik yang cukup jauh dari posisi Saropah berdiri. Pematang berumput coba diterjang Saropah memainkan kembali irama kalengnya.

Dari kejauhan tampak tetangga Saropah juga melakukan hal sama. Hanya peralatan yang dipakai berbeda, yakni selembar tas plastik bergagang kayu panjang dan diayunkan ke tengah hamparan padi. “Ibaratnya kami itu harus gasik-gasikan ke sawah, kalau tidak ingin didahului burung emprit itu,” kata Saropah.

Rutinitas itu telah menjadi keseharian Saropah dalam beberapa pekan terakhir. Dia tidak terlalu lama di sawah karena mulai pukul 07.30 sang suami, Priyo Utomo, 48, akan menggantikan tugasnya. Dia kembali ke rumah dan masuk dapur lagi untuk menyiapkan hidangan siang.

Benar saja, dari kejauhan tampak muncul lelaki bertubuh gempal membawa sabit mendekat. Tidak sampai sang suami dekat, Saropah langsung bergegas meninggalkan sawah. Mengenakan topi coklat, Priyo Utomo langsung melepas kabel headset yang terhubung ke smartphone yang ditaruh disaku celana kirinya.

Sambil melebarkan pandangannya, Priyo mengisahkan padi yang ditanamnya menggunakan pupuk organik. Dibandingkan jenis padi lain yang masih mengandalkan pupuk urea, memang permasalahan yang dihadapi cukup kompleks. Burung lebih menyukai padi organik karena ada rasa manis-manisnya.

“Burung lebih suka padi organik karena agak berasa manis. Mereka akan pergi dan pindah ke tanaman lain saat yang organik itu, katakanlah habis,” kata bapak dua anak ini.
Setidaknya lima tahun terakhir pengembangan padi organik telah dilakoninya. Upaya pengamanan dari serangan burung pun telah dicobanya
beberapa kali. Mulai dari memasang bunyi-bunyian tersambung tali panjang dan dikendalikan dalam satu titik, pucuk bambu beranting dipasang pulut nangka, hingga menggunakan jaring panjang untuk menutup tanaman padi. Bahkan dia pernah berpikiran menggunakan helikopter mainan yang dikendalikan remote untuk mensiasiatinya.

“Dari sekian banyak tetap yang paling efektif burung itu didekati. Hanya gerakan dari kaleng yang kami tempatkan di beberapa titik dan sesekali ditarik agar berbunyi itu, tidak efektif. Tampaknya burung ya niteni. Pernah saya ingin pakai helikopter pakai remote itu, tapi kok baterainya paling banter hanya dua jam saja,” jelas Priyo yang dipercaya sebagai ketua kelompok tani lingkungan ini.

Teknik pengamanan jaring baru digunakan Priyo saat musim tanam kali ini. Tidak sedikit modal yang harus dikeluarkan dari kantongnya. Selembar jaring berukuran 4×50 meter seharga Rp 70 ribu habis sebanyak 7 lembar. Belum lagi tali tambang dari plastik sepanjang 200 meter seharga Rp 50 ribu habis tiga rol.
Dibandingkan periode tanam sebelumnya, kawanan burung yang selalu mengincar sawahnya tidak terlalu banyak. Dalam satu rombongan hanya puluhan saja, sangat berbeda dengan tahun lalu yang dalam satu kumpulan mencapai ribuan ekor burung.

Waktu penanaman juga menjadi salah satu incaran burung dan ini membuat petani cukup pusing. Menanam lebih awal akan diserang burung, sementara jika berbarengan dengan yang lain akan kesulitan air.
“Kami menikmati saja proses ini. Kami memang harus berusaha bagaimana caranya tetap dapat bagian dari tanam padi ini. Tidak sekadar untuk pakan burung saja,” jelas Priyo yang mengolah dua lahan seluas 1.400 m2 dan 2.000 m2 ini.

Ya, perjuangan Priyo tampaknya tidak akan lama lagi. Tanaman padi akan dipanennya sekitar satu minggu ke depan. Ia berharap hasil yang diperoleh itu akan tetap stabil walaupun telah memberikan sedekah dengan memberi makan kawanan burung yang selalu menyambangi sawahnya. (laz/mg1)