PURWOREJO – Kedatangan rombongan besar yang nyaris setiap hari di Purworejo, utamanya pagi hari, menjadi perhatian praktisi Bangunan Cagar Budaya (BCB) Kabupaten Purworejo Kusnan Kadari. Memanfaatkan areal parkir luas Alun-Alun Purworejo dan kamar mandi Masjid Agung Darul Mutaqien, wisatawan itu dinilai tidak memberikan kontribusi apa-apa bagi Purworejo.

Dia melihat kedatangan mereka seharusnya disikapi dan dicarikan solusi sehingga bisa memberikan kontribusi positif bagi Purworejo. Setidaknya ada kewajiban dari pihak agen wisata untuk memasukkan kunjungan wisata di destinasi Purworejo, selain mampir di kawaan masjid itu.
“BCB itu menarik bagi anak-anak pelajar. Sementara Purworejo ini selalu menjadi ampiran para wisatawan yang hendak ke Borobudur dan sebagainya. Dan di sekitar Masjid Agung itu cukup banyak bus yang berhenti di pagi hari, namun mereka hanya mandi dan pipis saja,” jelas praktisi sekaligus kepala SMPN 26 Purworejo ini.

Dia melihat pemkab memiliki celah dan memberikan pandangan cukup keras di mana jika tidak ada paket kunjungan ke Purworejo, sebaiknya
bus-bus itu dilarang berhenti di kawasan Alun-Alun. Jika ingin berhenti atau transit, haruslah memasukkan paket wisatanya di Purworejo, setidaknya beberapa tempat yang ada di sekitar dalam kota.

“Cukup banyak BCB dalam kota yang bisa dikunjungi, salah satunya Museum Tosan Aji. Di situ kan disimpan benda-benda tosan aji yang tidak dimiliki daerah lain. Bagi pelajar juga cukup penting karena banyak nilai edukasinya,” jelas Kusnan.

Selain Tosan Aji yang berada satu kompleks dengan rumah dinas bupati yang juga masuk BCB, Kusnan mencontohkan bangunan Satlantas Polres Purworejo dan rumah-rumah dinas Kodim. Dia meminta agar pemkab mencari jalan keluar, sehingga ada retribusi yang diberikan para wisatawan mampir itu bagi Purworejo.

Kepala Dinas Pariwisata dan Kebudayaan Kabupaten Purworejo Agung Wibowo mengatakan, pihaknya tidak bisa memaksakan untuk melarang agen wisata tidak berhenti di Masjid Agung Purworejo. Dia lebih melihat jika kedatangan rombongan besar itu sebagai keuntungan tersendiri dan memberikan multiple effect (efek berantai) bagi masyarakat.

“Tidak bisa kami melarang begitu saja. Permasalahan yang ada juga kami tidak mungkin membuka layanan, katakan di Museum Tosan Aji, kami buka di jam kerja sementara wisatawan itu datang di kawasan masjid jelang dini hari sampai sebelum matahari terbit,” jelas Agung.

Penataan Alun-Alun Purworejo dan penempatan pedagang kaki lima pagi di Romansa Kuliner Purworejo (RKP) sebenarnya juga diarahkan untuk mensiasati agar wisatawan itu membelanjakan uangnya di Purworejo. Hal lain yang juga disasar adalah menariknya pemandangan Alun-Alun, secara otomatis akan diabadikan para wisatawan dan ini menjadi promosi gratis bagi Purworejo. (udi/laz/mg1)