TERBANG ke India membawa berkah bagi penulis. Visa Pakistan penulis peroleh setelah mengaku sebagai saudara Dubes RI di India. Mencari visa di Pakistan dan India sulit-sulit gampang karena kedua negara itu masih berseteru. Kalau dapat visa India dulu, jangan harap dapat visa Pakistan. Apalagi, kalau mengurusnya di India. Sebaliknya, kalau dapat visa Pakistan, jangan harap dapat visa India. Apalagi kalau mengurusnya di Pakistan. Rumit. Bikin pening kepala. Itu juga dialami Hendra Eka, fotografer Jawa Pos, yang menemani penulis. Akhirnya, Eka harus puas sampai India karena tak dapat visa Pakistan. Seloroh teman-teman Eka, ”Haji Darat India’’, Mohamad Ali ‘’Haji Thailand’’ dan Boy Slamet ‘’Haji Jakarta’’ karena Boy menemani penulis hanya sampai Jakarta. Ketiganya adalah fotografer Jawa Pos.

Mendengar penulis terbang redaksi Jawa Pos Surabaya geger. Itu lantaran terbang dengan pesawat adalah pantangan dalam perjalanan haji darat. Dahlan Iskan (Dis) pun turun gunung. ”Kalau terbang, ngapain jauh-jauh. Dari Surabaya ke Makkah juga ada,’’ ujarnya sewot dalam rapat segitiga antara Dis, Leak Kustiya (Pimred Jawa Pos) dan Hendra Eka di rumah Dis, Sakura Regency. Dis saat itu sudah menjabat menteri BUMN.

Hendra Eka diikutkan rapat karena harus terbang ke Bangkok, Thailand untuk menggantikan Mohamad Ali menemani penulis.

Eka dipilih karena pengalaman. Arek Suroboyo itu kerap bepergian ke mancanegara memanfaatkan tiket murah, penerbangan promosi. ”Ini juga perjalanan sulit Bos. Masak wartawan disuruh haji darat melintas belasan negara sambil mengurus visa di perjalanan. Ini tidak masuk akal,’’ kata Eka. Dis paham itu.

Setelah membeber peta dunia, membuka google map, dan mendiskusikannya dengan Leak dan Eka, akhirnya Bos Dis meminta penulis balik lagi ke Bangkok. Perjalanan diulang alias di-restart dari Bangkok. Lalu diputar lewat jalur timur. Meski Makkah arahnya ke barat, Dis meminta lewat timur yang berlawanan arah. Ini aneh dan tambah jauh. Yakni, dari Thailand ke Laos, Vietnam, Tiongkok, menembus Himalaya Tibet, Nepal, baru masuk India. Akibatnya, jarak bertambah jauh karena harus memutar. Tapi Bos Dis menilai perjalanan ini ramah. Sekaligus menghindari Myanmar yang tertutup karena dikuasai junta militer.

Dis menilai rute itu mistis karena melewati perbatasan Tiongkok-India yang mencakup Tibet, membelah pegunungan Himalaya. Jarang orang umum lewat perbatasan ini.

Ternyata keputusan Dis sungguh brilian. Wilayah Laos, Vietnam, Tiongkok, dan Nepal tergolong ramah turis asing. Mengurus visa juga agak mudah, sehingga mempercepat perjalanan. Kuncinya suatu wilayah atau negara ramah atau tidak adalah banyaknya turis asing ke negara itu. Ini yang saya maksud Bos Dis itu jenius.

Yang lebih jenius dari Dis, penulis tidak boleh pulang ke Indonesia sebelum masuk Makkah. Kalau tahun ini (2011) tidak bisa masuk Makkah, Bahari harus keliling dunia; entah mutar-mutar di Asia, Afrika, Eropa, atau mana saja. Baru tahun berikutnya saat musim haji masuk Makkah. Jawa Pos pun mendukung total keperluan penulis selama perjalanan haji darat. Jangankan menyewa mobil, beli mobil sekalipun kalau itu bisa melancarkan haji jalan darat dipersilakan oleh Dis.

Kontan semangat saya bangkit lagi seperti pejuang 45. Padahal, sebelumnya drop karena terkungkung di Myanmar. Meski solusi yang diberikan Dis terlihat sepele, yakni tidak harus masuk Makkah tahun ini, kalau nggak cukup waktunya karena perjalanan harus memutar ke Timur. Tapi, bagi penulis itu ide sangat… sangat cemerlang. Idenya sangat jenius. Selain sangat realistis, itu membangkitkan semangat penulis.

Sebelumnya tak terbayangkan oleh penulis maupun redaksi Jawa Pos Surabaya. Solusi itu hanya datang dari wartawan yang matang di lapangan, tak memperhitungkan dana, dan berani mengambil risiko. Yang penting tujuan tercapai. Dis benar-benar cerdas. Jangankan memutar setahun, batin saya, lima tahun pun saya sanggup.

Perjalanan haji darat bagi penulis benar-benar menguras pikiran. Bahkan, sempat stres karena sulitnya mengurus visa di negara-negara muslim. Sebaliknya, penulis justru menikmati seberat apa pun medannya. Itu karena sejak kecil penulis suka tantangan dan menikmati daerah baru dengan cara nggandhul truk. Kemana saja? Bali, Jokjakarta, Jakarta, bahkan sampai Padang, Sumatera Barat. Bahkan saat kuliah di Papua pernah nggandhul kapal dua kali ke Surabaya. Saat nggandhul kapal barang gagal, cuma sampai Nabire. Saat nggandhul, menyusup kapal penumpang (KM) Umsini pada 1987 lolos sampai Surabaya.

Haji darat ini jauh lebih berat. Jauh lebih sulit daripada saat penulis ditugaskan masuk Kabul, Afghanistan pada 2001. Saat Amerika dibantu Aliansi Utara baru merebut kota Kabul dari cengkeraman Taliban.

Saat itu dibutuhkan nyali besar masuk Kabul karena Afghanistan masih kacau balau. Tidak ada pemerintah yang sah. Afghanistan terpecah-pecah, dikuasai banyak kelompok. Di Kabul dikuasai Amerika dan sekutunya. Di kota perbatasan sepanjang Pakistan mulai Jalalabad sampai Queta dikuasai kelompok Mujahidin yang sebenarnya sebagaian besar orang Taliban yang berganti baju Mujahidin. Ini hanya siasat Taliban agar peralatan senjata berat seperti tank yang tidak bisa dibawa bergerilya di gunung-gunung tidak jatuh ke Amerika dan sekutunya. Tapi, tetap di tangan Taliban yang berganti baju Mujahidin. Sedangkan daerah pegunungan dan pinggiran masih dikuasai Taliban.

Meki kondisi berbahaya karena tidak ada pemerintah yang syah dan kuat. Tapi, begitu mendapat pengawal yang pas. Bismilah. Berangkat.

Masuk perbatasan jalan kaki lewat jalan tikus di Pegunungan Wensei, perbatasan Pakistan, Tajikistan dan Afghanistan disambung jalan darat beberapa hari sampai Kabul. Setelah itu balik ke Islamabad lewat jalan tikus lainya di perbatasan. Alhamdulilah selamat sampai Islamabad lagi.

Tapi, saat haji darat masalah terus muncul. Lagi-lagi visa, lagi-lagi visa. Apalagi, masuk negara lewat perbatasan darat, visanya rata-rata hanya 15 hari. Kalau masalah belum kelar visa habis, harus keluar dulu negara itu baru masuk lagi. Kalau di negara Islam harus mengurus perpanjangan. Kalau tidak, di-black list. Itu kian menyulitkan perjalanan haji darat selanjutnya.

Tapi, berkat pertolongan Yang Kuasa penulis akhirnya bisa masuk Makkah beberapa jam sebelum Jeddah ditutup dari jamaah haji. Artinya, penulis tidak perlu keliling dunia untuk masuk Makkah tahun berikutnya. Syukur alhamdulilah, akhirnya Gusti Allah membukakan rumahnya bagi penulis. (yog/bersambung)