Kreativitas tanpa batas. Itulah sosok Wahyu Suharyanto. Joe, sapaan akrabnya, ciptakan 20 item stompbox, amplifier, hingga lima jenis gitar elektrik.

DWI AGUS, Jogja

LAMA tidak beraksi di panggung bukan berarti berhenti berkarya. Bagi seorang Joe, musik adalah bagian dari hidupnya. Gitaris grup musik lawas Stereovila ini kini pilih fokus di balik layar dalam dunia industri musik.
Pria yang tahun ini berusia 39 tahun berhasil menciptakan puluhan efek stompbox. Berupa efek kodok-kodakan yang menjadi senjata para gitaris. Terutama untuk menghadirkan suara khas, sesuai aliran musik setiap musisi.

“Berawal dari eksplorasi suara efek gitar. Karena selalu tidak puas dengan efek bawaan pabrik, makanya saya eksplorasi sendiri,” ujar Joe saat berbincang dengan Radar Jogja di sela Festival Kesenian Yogyakarta belum lama ini.
Joe sejatinya telah lama menggeluti dunia permusikan. Bahkan dia telah membuat gitar kustom sejak medio 1997. Sementara untuk urusan sound, khususnya sound effect gitar dia tekuni sejak awal 2005. Berbagai cara dia lakukan untuk mendapatkan efek suara yang diinginkan. Tentunya melalui proses trial and error.

Awalnya, Joe memakai stompbox racikannya untuk kebutuhan manggung. Ternyata, banyak musisi yang kepincut dengan suara stompbox karyanya. Melihat peluang ini, Joe berusaha memenuhi kebutuhan pasar.
“Pasar sekarang jauh lebih bagus. Dulu sekitar 2005 masih demam efek digital,” ujarnya.

Karakter stompbox berbeda-beda. Digital ringkas, namun tipis. “Beda dengan analog, hanya satu namun karakternya tebal,” jelas musisi yang juga gitaris band Everlong ini.
Joe Box dipilihnya untuk produk paten karya Joe. Brand ini memayungi produk gitar elektrik, stompbox, dan amplifier. Khusus untuk stompox, Joe juga melayani produk kustom sesuai keinginan konsumen.

Khusus stompbox, Joe menerapkan threatment khusus. Sebelum produksi, Joe terlebih dahulu ngobrol dengan kliennya. Cara ini untuk mengetahui karakter suara yang diinginkan. Setidaknya butuh waktu dua minggu hingga akhirnya stompbox yang diinginkan konsumen siap saji.

“Sedikit lebih ekstra kalau yang kustom. Satu minggu pertama untuk sesi ngobrol, seminggu setelahnya baru digarap. Karakternya menyesuaikan ingin efek suara yang seperti apa dan sesuai dengan keinginannya,” ujarnya.
Joe sendiri tak memiliki basis kemampuan elektronik. Justru inilah uniknya Joe. Sebagai gitaris dia menempa diri untuk karakter gitarnya. Bongkar pasang kerap dia lakukan sendiri hingga akhirnya mengetahui detail jeroan stompbox, amplifier, dan gitar.

Joe mengawali karir sebagai pembuat stompbox dibantu seorang teknisi bernama Untung. Sosok inilah yang selalu menghadirkan karakter suara yang diinginkan. Namun, seiring perjalanan waktu, kedua sahabat ini harus berpisah. Mulailah Joe mengoprek-oprek alat musik elektik sendiri.
“Patokan saya, urusan kelistrikan itu acuannya pasti, sehingga bisa dihitung dengan skema untuk output suaranya,” ungkap alumnus Seni Rupa ISI Jogjakarta.

Sukses Joe bukan tanpa halangan. Kendala terbesarnya adalah minimnya suku cadang untuk merakit stompbox. Sebagian besar komponen harus impor.
Era ekonomi bebas memang memudahkannya memeroleh suku cadang. Khususnya produk impor dari Tiongkok. Namun, komponen asal Negeri Tirai Bambu tak sebagus produk Eropa atau Amerika Serikat. “Padahal ada beberapa komponen yang tidak bisa tergantikan. Apalagi jika untuk memenuhi kualitas dan spesifikasi suara,” katanya.

Persoalan inilah yang membuatnya sulit memproduksi masal Joe Box. Bisa saja Joe memaksakan menggunakan produk buatan Tiongkok. Namun hasil akhirnya tak bisa membuatnya puas. Karena karakter suara yang dihasilkan tak bisa sesuai keinginan. “Komponen dari Eropa mulai jarang. Kalau dicampur dengan komponen Tiongkok hasilnya beda,” ucapnya.

Melihat kondisi tersebut Joe memutuskan untuk tetap menjaga kualitas, daripada kuantitas. Bicara pasar, produk Joe Box telah merambah Eropa. Meski tidak dalam skala besar, selalu ada pesanan dari Eropa. Joe bahkan telah mengenalkan produknya di Australia.

Untuk pasar Asia, Joe mencoba berkolaborasi dengan distributor alat musik di Singapura. Hanya, hingga saat ini belum ada kesepakatan. Ini karena Joe minta space khusus untuk memajang produk-produknya.
Sedangkan untuk pasar nasional, pemesan terbanyak datang dari Jakarta, Jogjakarta, Surabaya, dan Bandung, dan Kalimantan. “Saya hanya mengandalkan jaringan pertemanan dan online untuk penjualan produk,” ungkap Joe.

Soal harga, semua produk Joe Box bisa dibilang cukup terjangkau untuk kantong musisi Indonesia. Sebuah stompbox dibanderol Rp 1 juta – Rp 2,5 juta. Amplifier gitar di kisaran Rp 7,5 juta. Khusus gitar, banderolnya disesuaikan spesifikasi dan karakter yang diinginkan konsumen.
Meski cukup laris di pasaran, Joe mengaku, produk karyan

ya belum punya hak paten. Belum terdaftar hak atas kekayaan intelektual (HAKI), sehingga rentan pembajakan. Joe menyadari hal itu. Joe pun saat ini terus mencari informasi syarat-syarat pengajuan HAKI. “Untuk pameran produk, sementara ngikut dulu di ajang-ajang music nasional atau showroom saja,” ujarnya. (yog/mg1)