BANTUL – Para petani di Desa Tirtohargo Kretek kembali harus membongkar suangan. Sebab, hilir Sungai Opak dan Winongo tersebut kembali buntu. Tercatat hingga Kamis (9/8) muara dua sungai tersebut berulang kali buntu akibat tumpukan pasir. Akibatnya, puluhan hektare area pertanian terendam.
Ada sekitar seratusan petani yang kerja bakti membongkar suangan. Selain dengan cara manual, aktivitas membuka jalan baru air sungai ini juga dibantu backhoe milik Dinas Lingkungan Hidup Bantul.

Suratmanto, seorang petani mengungkapkan, tertutupnya suangan akibat gelombang laut. Tingginya gelombang memicu gundukan pasir di muara kembali meninggi.

”Setiap gelombang datang membawa pasir,” keluh Suratmanto saat ditemui di sela kerja bakti membongkar suangan.
Dibanding petani lainnya, Suratmanto mengaku luapan air yang merendam tanaman bawang merah miliknya tidak begitu parah. Kendati begitu, dia harus rajin menyedot air dari sawahnya dengan mesin pompa. Agar tanaman tidak mati.

”Masih bisa diselamatkan tanamannya,” ujarnya.
Turbinoto, petani lainnya mengatakan, musim kemarau tahun ini datang lebih cepat. Biasanya, awal September baru memasuki musim kemarau. Sedangkan tahun ini awal Agustus. Faktor inilah yang menyebabkan tidak sedikit tanaman para petani terendam luapan air sungai. Di sisi lain, gelombang tinggi hampir bersamaan dengan datangnya musim kemarau.
”Karena petani sudah menghitung bahwa musim panen bawang merah September,” katanya.

Kepala Dinas Pertanian Pangan Kelautan dan Perikanan Bantul Pulung Haryadi melihat, fenomena suangan buntu bukan hal baru. Karena itu, Pulung menyarankan petani mengubah pola tanam. Disesuaikan dengan kondisi di pesisir pantai selatan.
”Bila saat kemarau tanam palawija diganti dengan padi,” sarannya. (cr6/zam/mg1)