SLEMAN – Upaya memperketat lalu lintas ternak tak menjamin hewan kurban yang masuk ke suatu wilayah bebas penyakit. Di wilayah Sleman, misalnya. Setiap tahun petugas dinas pertanian, pangan, dan perikanan (DP3) selalu menemukan penyakit cacing hati pada hewan kurban. Bahkan, hasil temuan tersebut cenderung meningkat dalam dua tahun terakhir. Terutama pada sapi d an kambing.

Data DP3 Sleman menunjukkan, pada 2016 terdapat 450 ekor sapi terindikasi cacing hati. Angka ini sama dengan 6,35 persen dari total 7.092 sapi yang disembelih. Pada 2017 jumlah sapi dengan cacing hati meningkat menjadi 600-an ekor. Atau 8,76 persen dari total 6.916 ekor sapi yang disembelih.
Sedangkan persentase cacing hati pada kambing lebih rencah. Pada 2016 sebesar 0,3 persen dari 2.393 ekor kambing yang disembelih. Sedangkan pada 2017 naik menjadi 0,35 persen dari total 2.004 kambing kurban. Kabid Peternakan dan Kesehatan Hewan DP3 Sleman Husain Siswanto mengatakan, meski persentase kasus cacing hati pada kambing meningkat, dari segi jumlah tak terjadi lonjakan secara signifikan. Itu lantaran jumlah kambing yang disembelih mengalami penurunan.

Penurunan kasus cacing hati justru terjadi pada domba. Yakni 0,31 persen dari 9.118 ekor yang disembelih pada 2016. Lalu pada 2017 menurun menjadi 0,29 persen dari 9.643 ekor domba kurban.

Berkaca pada kasus dua tahun belakangan ini, Husain mengaku tak mau terus-terusan kecolongan dengan kasus cacing hati pada hewan kurban. Terutama pada hewan-hewan yang “diimpor” dari daerah lain. “Kami akan optimalkan pengawasan hewan kurban lewat 14 puskeswan di seluruh Sleman,” ujarnya Rabu (8/8).

Berdasarkan pantauan petugas kesehatan hewan, lanjut Husain, tercatat 1.553 ekor sapi, 9 kambing, dan 1.113 domba yang tersebar di 53 kelompok ternak dinyatakan sehat. Pantauan dilakukan pada 1-7 Agustus.

Lebih lanjut, Husain menjelaskan, ketersediaan ternak tahun ini terdiri atas 49.275 ekor sapi, 28.480 kambing, dan 84.100 domba. Jumlah tersebut tersebar di 477 kandang kelompok ternak dan 549 kelompok ternak binaan DP3.
Selain cacing hati, masalah lain yang selalu terjadi setiap Idul Adha adalah higienitas dan sanitasi lokasi penyembelihan hewan kurban. Husain mengakui masih ada tempat penyembelihan ternak yang tak higienis. Termasuk pembuangan limbah dan jeroan di aliran sungai atau selokan. “Ini tidak boleh,” tegasnya. Guna pencegahan, DP3 menerjunkan 293 petugas pemantau tempat pemotongan hewan kurban.

Sementara itu, Kepala Seksi Kesahatan Hewan dan Kesahatan Masyarakat Veteriner Dinas Pertanian DIJ Anung Endah Suwasti berjanji memperketat arus lalu lintas hewan kurban yang masuk wilayah Jogjakarta menjelang Idul Adha. “Setiap hewan yang masuk dicek dokumen asal hewan dan dokumen surat keterangan kesehatan hewan (SKKH),” kata Anung.

Anung menegaskan, hewan kurban yang tidak dilengkapi SKKH dilarang masuk DIJ sebelum dicarikan dokumen kesehatan di daerah asal. Kendati demikian, Anung tak menampik jika fungsi pos lalu lintas ternak belum optimal. Sebab, pos pemantau lalu lintas hewan hanya beroperasi hingga pukul 22.00. Sementara banyak pedagang hewan ternak yang sengaja melintas masuk wilayah DIJ di atas pukul 22.00.

“Antisipasinya ya kami komunikasikan ke pedagang. Semuanya saja, agar membawa SKKH,” tegasnya.

Selain masalah kesehatan hewan kurban, Anung mengingatkan masyarakat untuk tidak menyembelih sapi betina produktif. Hal ini diatur dalam UU No 41/2014 tentang Peternakan dan Kesehatan Hewan. Bagi yang melanggar akan dijerat pidana penjara selama 1-3 tahun dan denda Rp 100 juta – Rp 300 juta.(har/yog/mg1)